Pos

Makalah Tentang Puasa Lengkap

Saum / Puasa bagi orang islam (bahasa Arab: صوم, transliterasi: Shaum) adalah menahan diri dari makan dan minum serta segala perbuatan yang bisa membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari, dengan syarat tertentu, untuk meningkatkan ketakwaan seorang muslim. Berikut ini akan saya paparkan makalah tentang puasa dengan pembahasan lengkap, silahkan disimak 🙂

PUASA

14 September 2018

IMAM MUSLIM                               PRINCE ALVIN YUSUF
NIM: 4311701045                           NIM: 4311701046

PUSPA OKTAVIYANI                    INDRA PRAMANA
NIM: 4311701052                           NIM: 4311701038

ERIC FEBRIANTO
NIM: 4311701053

 

 

Batam Center, Jl. Ahmad Yani, Tlk. Tering, Batam Kota, Kota Batam, Kepulauan Riau 29461, Indonesia

 

 

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-nya, sehingga penulis dapat menyusun laporan ini dengan baik.

Dalam kesempatan ini Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, membimbing dan memberikan dukungan kepada penulis dalam melakukan penyusunan.

Penulis menyadari laporan ini masih banyak kekurangan dan kelemahan. Untuk itu segala kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca sangat diharapkan untuk perbaikan ke depannya. Begitulah sekiranya yang bisa Penulis sampaikan, lebih dan kurangnya Penulis ucapkan terima kasih dan mohon maaf jika ada kata atau penulisan yang salah karena kesalahan datangnya dari saya dan kelebihan datangnya dari Tuhan Yang Maha Esa.

 

Batam, 14 September 2018
Penulis

 

                                                                        Kelompok 6

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR ……..……………………………………………….              2

DAFTAR ISI ……..………………………………………………………..             3

ABSTRAK …………………………………………………………………            4

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang …………………….…………………..………….. 5
  2. Rumusan Masalah ……………………………..………..………. 5
  3. Tujuan Penelitian …………………………………………………. 6

BAB II ISI

  1. Puasa ……………………………..…………………………………. 7
  2. Syarat Sah Puasa ………………………………………………… 7
  3. Rukun Puasa ……………………………………………………… 8
  4. Sunah Puasa ……………………………………………………… 9
  5. Macam-Macam Puasa …………….……………………………….. 14
  6. Hal-hal yang Membatalkan Puasa ………………………………. 16
  7. Manfaat Puasa ………………………….…………………………. 17

BAB III PENUTUP

  1. Kesimpulan …………..………………………………………….. 18
  2. Saran ……………………………………………………………… 18

KATA PENUTUP …….…………………………………………………..             19

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………..             20

 

 

 

Abstrak

Seperti yang kita ketahui agama islam mempunyai lima rukun islam yang salah satunya ialah puasa, yang mana puasa termasuk rukun islam yang keempat. Karena puasa termasuk rukun islam maka semua umat islam wajib melaksanakannya namun pada kenyataannya banyak umat islam yang tidak melaksanakannya, karena apa? Itu semua karena mereka tidak mengetahui manfaat dan hikmah puasa. Bahkan, umat muslim juga masih banyak yang tidak mengetahui pengertian puasa, dan bagaimana menjalankan puasa dengan baik dan benar.

Banyak orang-orang yang melaksanakan puasa hanya sekedar melaksanakan, tanpa mengetahui syarat sahnya puasa dan hal-hal yang membatalkan puasa. Hasilnya pada saat mereka berpuasa mereka hanya mendapatkan rasa lapar saja. Sangatlah rugi bagi kita jika sudah berpuasa tetapi tidak mendapatkan pahala.

Oleh karena itu dalam makalah ini kami akan membahas tentang apa itu puasa, manfaat puasa, hal-hal yang membatalkan puasa, rukun puasa dan perintah berpuasa di bulan Ramadhan

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

  1. Latar Belakang

Puasa merupakan salah satu dari rukun islam, kita sebagai umat muslim wajib menjalankan puasa pada bulan Ramadhan. Kalau berbicara mengenai puasa terutamanya puasa Ramadhan maka ada beberapa point penting yang harus kita pahami bahwasannya puasa tidak hanya sekedar menahan lapar dan haus tetapi kita juga harus mengendalikan diri kita dari segala hal yang dapat merusak pahala puasa kita seperti menjaga mata dari hal-hal yang negatif. Mungkin terkadang muncul pertanyaan di benak kita mengapa hidup kita tetap sengsara, atau mengapa hidup kita gelisah dan tidak tenang? jawaban yang tepat adalah karena kita tidak dapat mengendalikan diri kita sendiri. Pada puasa kita diajarkan untuk dapat mengendalikan jiwa dan raga kita, setelah menjalankan puasa kita akan menjadi orang yang memiliki kepribadian yang indah dan bermanfaat bagi diri kita sendiri dan orang lain. Puasa pada bulan suci Ramadhan menjadi kesempatan yang baik untuk mengintropeksi diri agar menjadi insan yang lebih baik.

 

  1. Rumusan Masalah

  • Apa yang dimaksud dengan puasa?
  • Tata cara pelaksanaan puasa?
  • Apa saja hal-hal yang membatalkan puasa?
  • Apa sajakah manfaat puasa?

 

  1. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah di atas, laporan ini bertujuan untuk menambah pengetahuan kita tentang puasa. Sehingga kita bisa lebih memahami dan mengaplikasikan maksud dan tujuan dari berpuasa

 

 

BAB II

ISI

 

  1. Puasa

Puasa dalam bahasa arab yaitu صوم, secara bahasa diartikan sebagai menahan diri. Maksudnya adalah menahan diri dari makan atau minum untuk suatu jangka waktu tertentu atau menahan makan, minum serta segala perbuatan yang dapat membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Umat Islam juga diperintahkan untuk menahan diri dari perbuatan menipu, mengeluarkan kata-kata buruk atau sia-sia, serta bertengkar atau bergaduh. Ini karena puasa merupakan medan latihan memupuk kesabaran, kejujuran, menjaga hubungan terhadap sesama manusia serta hubungan kepada allah swt. Secara tidak langsung amalan puasa akan memupuk sikap terpuji di dalam diri pelakunya.

Firman Allah Ta ‘ala:

Artinya: “dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar” (Al-Baqarah: 187)

 

  1. Syarat Sah Puasa

Syarat-syarat sahnya puasa ada enam, yaitu:

  1. Islam

Tidak sah puasa orang kafir sebelum ia masuk Agama Islam.

  1. Berakal Sehat

Tidak sah puasa orang yang gila sampai ia kembali berakal.

  1. Mumayiz

Tidak sah puasa anak kecil sebelum ia dapat membedakan perbuatan mana yang baik dan mana yang buruk.

  1. Tidak Haid

Tidak sah puasa wanita haid, sebelum ia berhenti haid dan mensucikan dirinya kembali.

  1. Tidak Nifas

Tidak sah puasa wanita nifas, sebelum ia suci dari nifasnya.

  1. Niat

Niat puasa dilakukan pada malam hari sebelum melakukan puasa untuk ke-esokan hari. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassallam: “Barangsiapa yang tidak berniat puasa pada malam hari sebelum fajar, maka tidak sah puasanya. “(HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa’i dan At-Tirmidzi. Ini adalah hadits mauquf menurut At-Tirmidzi. Hadits ini menunjukkan tidak sahnya puasa kecuali diiringi dengan niat sejak malam hari, yaitu dengan meniatkan puasa di salah satu bagian malam.

 

  1. Rukun Puasa

  1. Niat

Niat mengerjakan puasa pada tiap-tiap malam di bulan Ramadhan (puasa wajib) atau hari yang hendak berpuasa (puasa sunat). Waktu berniat adalah mulai dari terbenamnya matahari hingga terbit fajar.

  1. Menahan diri dari perkara-perkara yang membatalkan puasa

Meninggalkan sesuatu yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. 

 

  1. Sunah Puasa

Perkara-perkara berikut ini disunahkan ketika berpuasa:

  1. Mengakhirkan Sahur

Disunnahkan bagi orang yang hendak berpuasa untuk makan sahur. Al Khottobi mengatakan bahwa makan sahur merupakan tanda bahwa agama Islam selalu mendatangkan kemudahan dan tidak mempersulit. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Artinya:“Barangsiapa ingin berpuasa, maka hendaklah dia bersahur.”

  1. Menyegerakan Berbuka

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Artinya:“Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.”

Dalam hadits yang lain disebutkan,

Artinya:“Umatku akan senantiasa berada di atas sunnahku (ajaranku) selama tidak menunggu munculnya bintang untuk berbuka puasa.” Dan inilah yang ditiru oleh Rafidhah (Syi’ah), mereka meniru Yahudi dan Nashrani dalam berbuka puasa. Mereka baru berbuka ketika munculnya bintang. Semoga Allah melindungi kita dari kesesatan mereka.

Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa sebelum menunaikan shalat maghrib dan bukanlah menunggu hingga shalat maghrib selesai dikerjakan.

  1. Berbuka dengan Kurma Jika Mudah Diperoleh atau dengan Air

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata:

Artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya berbuka dengan rothb (kurma basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada rothb, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka dengan seteguk air.”

Hadits tersebut menunjukkan bahwa ketika berbuka disunnahkan pula untuk berbuka dengan kurma atau dengan air. Jika tidak mendapati kurma, bisa digantikan dengan makan yang manis-manis. Di antara ulama ada yang menjelaskan bahwa dengan makan yang manis-manis (semacam kurma) ketika berbuka itu akan memulihkan kekuatan, sedangkan meminum air akan menyucikan.

  1. Berdo’a Ketika Berbuka

Perlu diketahui bersama bahwa ketika berbuka puasa adalah salah satu waktu terkabulnya do’a. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Artinya:“Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak: (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Do’a orang yang terdzolimi.” Ketika berbuka adalah waktu terkabulnya do’a karena ketika itu orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berbuka beliau membaca do’a berikut ini,

Artinya:“Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah”

Adapun do’a berbuka,

Artinya:“Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku berbuka”

Begitu pula do’a berbuka,

Artinya:“Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku beriman, dan dengan rizki-Mu aku berbuka”. Mula ‘Ali Al Qori mengatakan, “Tambahan “wa bika aamantu” adalah tambahan yang tidak diketahui sanadnya, walaupun makna do’a tersebut shahih.

  1. Memberi Makan pada Orang yang Berbuka

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Artinya:“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.”

  1. Lebih Banyak Berderma dan Beribadah di Bulan Ramadhan

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

Artinya:“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar melakukan kebaikan. Kedermawanan (kebaikan) yang beliau lakukan lebih lagi di bulan Ramadhan yaitu ketika Jibril ‘alaihis salam menemui beliau. Jibril ‘alaihis salam datang menemui beliau pada setiap malam di bulan Ramadhan (untuk membacakan Al Qur’an) hingga Al Qur’an selesai dibacakan untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila Jibril ‘alaihi salam datang menemuinya, beliau adalah orang yang lebih cepat dalam kebaikan dari angin yang berhembus.”

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih banyak lagi melakukan kebaikan di bulan Ramadhan. Beliau memperbanyak sedekah, berbuat baik, membaca Al Qur’an, shalat, dzikir dan i’tikaf.”

Dengan banyak berderma melalui memberi makan berbuka dan sedekah sunnah dibarengi dengan berpuasa itulah jalan menuju surga. Dari ‘Ali, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Artinya:“Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya.” Lantas seorang arab baduwi berdiri sambil berkata, “Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasululullah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Untuk orang yang berkata benar, yang memberi makan, dan yang senantiasa berpuasa dan shalat pada malam hari diwaktu manusia pada tidur.”

 

  1. Macam-macam Puasa

Ada beberapa macam puasa, antara lain:

  1. Puasa Wajib

  • Puasa Ramadhan

Yakni puasa sebulan penuh dibulan ramdhan yang hukumnya wajib bagi setiap umat muslim yang sudah baligh. Kewajiban melaksanakan puasa dibulan ramadhan terdapat dalam Qur’an surat Al-baqoroh ayat 183.

  • Puasa Nadzar

Merupakan puasa yang disebabkan karena sebuah janji, nadzar secara bahasa adalah janji. Sehingga puasa yang dinadzarkan hukumnya wajib.

  • Puasa Kafarat tau Kifarat

Yakni puasa yang dilakukan untuk menggantikan dam atau denda atas pelanggaran yang hukumnya wajib. Puasa ini ditunaikan dikarenakan perbuatan dosa, sehingga bertujuan untuk menghapus dosa yang telah dilakukan. Adapun macam-macam puasa kafarat antara lain: kafarat karena melanggar sumpah atas nama Allah, kafarat dalam melakukan ibadah haji, kafarat karena berjima’ atau berhubungan badan suami istri di bulan ramadhan, membunuh tanpa sengaja, membunuh binatang saat sedang ihram.

 

  1. Puasa Sunnah
  • Puasa Senin Kamis

Rasulullah telah memerintah umatnya untuk senantiasa berpuasa di hari senin dan kamis, karena pada hari senin merupakan hari kelahiran beliau dan kamis adalah hari pertama kali Al-Qur’an diturunkan. Dan pada hari senin kamis juga, amal perbuatan manusia diperiksa, sehingga beliau menginginkan ketka diperiksa, beliau dalam keadaan berpuasa.

  • Puasa Syawal

Puasa enam hari dibulan syawal atau setelah bulan ramadhan. Bisa dilakukan secara berurutan dimulai dari hari kedua syawal atau dilakukan secara tidak berurutan.  Rasulullah bersabda yang artinya: “Keutamaan puasa ramadhan yang diiringi dengan puasa syawal ialah seperti orang yang berpuasa selama setahun (HR. Muslim).

  • Puasa Muharrom

Yakni puasa pada bulan Muharram dan yang paling utama ialah pada hari ke 10 bulan muharram yakni assyuro’. Puasa ini memiliki keutamaan dan yang paling utama setelah puasa ramadhan.

  • Puasa Arofah

Yakni puasa pada hari ke-9 Dzuhijjah, dimana keistimewaannya ialah akan dihapuskan dosa-dosa pada tahun lalu & dosa-dosa di tahun yang akan datang (HR. Muslim). Dosa-dosa yang dimaksud ialah khusus untuk dosa-dosa kecil, karena dosa-dosa besar hanya bisa diampuni dengan jalan bertaubat atau taubatan nasuha.

  • Puasa di bulan Sya’ban

Pada bulan sya’ban ini, segala amal akan diangkat kepada Rabb sehingga diperintahkan untuk memperbanyak puasa.

  • Puasa Daud

Yakni puasa yang dilakukan nabi daud dan caranya yaitu sehari puasa dan sehari tidak atau dengan cara selang seling dan puasa ini sangat disukai Allah SWT.

 

  1. Puasa Makruh

Jika melakukan puasa pada hari jumat atau sabtu, dengan niat dikhususkan atau disengaja maka hukumnya makruh kecuali bermaksud atau berniat mengqodho puasa ramadhan, puasa karena nadzar ataupun kifarat.

 

  1. Puasa Haram
  • Puasa di Hari Raya Idul Fitri

Jatuh pada tanggal 1 Syawal yang ditetapkan sebagai hari raya umat muslim. Pada hari ini, puasa diharamkan karena hari ini merupakan hari kemenangan karena telah berpuasa sebulan penuh dibulan ramadhan.

  • Puasa di Hari Raya Idul Adha

Pada tanggal 10 Dzulhijjah merupakan hari raya qurban dan hari raya kedua bagi umat muslim. Berpuasa pada hari ini diharamkan.

  • Puasa di Hari Tasyrik

Jatuh pada tanggal 11, 12 & 13 Dzulhijjah.

  • Puasa setiap hari atau sepanjang tahun dan selamanya.

 

  1. Hal-hal yang Membatalkan Puasa

Ada beberapa hal yang membatalkan puasa, diantaranya:

 

  1. Makan dan Minum dengan sengaja
  2. Muntah dengan Sengaja
  3. Bersetubuh atau Keluar Mani dengan Sengaja
  4. Keluar Darah Haid atau Nifas
  5. Gila (Hilang Akal)
  6. Pitam (Pingsan) atau Mabuk Sepanjang Hari
  7. Merokok disiang hari (Termasuk Ganja dan sejenisnya)
  8. Murtad (Keluar dari Agama Islam)
  9. Memasukkan Sesuatu ke dalam Rongga Terbuka / Kerongkongan

 

  1. Manfaat Puasa

Puasa memiliki beberapa manfaat, diantaranya:

 

  1. Membiasakan Diri untuk Bersabar
  2. Membiasakan Seseorang agar dapat Menguasai Dirinya
  3. Membentuk ketaqwaan yang kokoh dalam diri
  4. Mendatangkan Kesehatan, seperti: membersihkan usus-usus, memperbaiki kerja pencernaan, membersihkan tubuh dari sisa-sisa dan endapan makanan dan mengurangi kegemukan serta kelebihan lemak di perut
  5. Mematahkan Hawa Nafsu
  6. Lebih bersyukur atas nikmat yang allah swt telah berikan

 

 

BAB III

PENUTUP

 

 

  1. Kesimpulan

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di atas, dapat ditarik beberapa kesimpulan yaitu

  • Puasa adalah menahan diri dari makan atau minum untuk suatu jangka waktu tertentu atau menahan makan, minum serta segala perbuatan yang dapat membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.
  • Puasa pada bulan Ramadhan diwajibkan bagi Umat Islam yang sudah Baligh dan berakal.

 

  1. Saran

Adapun saran yang dapat penulis sampaikan kepada kita semua yaitu agar pembaca dan masyarakat menjadikan puasa sebagai sarana untuk lebih mendekatkan diri kepada allah swt dan menjadi medan kita dalam meningkatkan ketaqwaan serta memperbaiki akhlak dalam menjadi insan yang lebih baik lagi.

 

 

 

KATA PENUTUP

 

Dengan mengucapkan syukur Alhamdulillah atas segala rahmat yang telah diberikan oleh ALLAH SWT, bahwa penulis telah mendapat dukungan dari berbagai pihak dalam menyelesaikan laporan ini dengan baik tanpa mengalami hambatan yang berarti.

Dengan dibuatnya laporan ini minimal diharapkan juga ada kesamaan Visi antara penulis dengan para pembaca.

Penulis mengharapkan agar semua penjelasan didalam laporan ini yang telah tersusun dengan rapi sesuai dengan tujuan awal dibuatnya laporan ini. Penulis telah berusaha membuat laporan yang mudah dimengerti serta dipahami bagi para pembacanya.

Saran serta kritik yang membangun demi perbaikan penulisan laporan ini penulis nantikan agar dalam penyusunan laporan selanjutnya dapat tersajikan dengan lebih baik dan lebih sempurna lagi.

Penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah banyak membantu dan membimbing dalam menyelesaikan laporan ini, serta besar harapan penulis agar laporan yang telah penulis susun dapat bermanfaat bagi semua pihak, Aamiiiin.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  • Referensi
  • http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/public-speaking/2035254-contoh-makalah-ramadhan-puasa-marhabah/ Diakses pada 06 Oktober 2018 Pukul 19:00 WIB
  • Sabiq Sayyid, “Fiqh Sunnah 12”, Penerbit Pustaka, Bandung, 1988
  • Rasyid Sulaiman, H. “Fiqh Islam”, At-Tahirijah, Jakarta
  • Mughniyah Jawad Muhammad, “Fiqih Lima Mazhab”, Lentera, Jakarta, 2004