Pos

technology 11

Contoh Cerita Fabel Alami dan Fabel Adaptasi

Contoh Cerita Fabel Alami dan Adaptasi

 

  1. Cerita Fabel Alami

Gajah Yang Baik Hati Dan Suka Menolong

Image result for gajah yang baik hati

Di sebuah hutan ada seekor gajah yang sangat baik, tubuhnya tinggi, besar dan gemuk, belalainya sangat panjang dan kuat, sepasang gading yang kuat dan kokoh, gajah itu sangat baik hati, dia selalu memberi makan binatang-binatang yang kelaparan, ia pun selalu memberikan pertolongan pada mereka yang kesusahan, baik binatang itu yang besar maupun binatang yang kecil seperti tikus dan semut.

Pada suatu hari gajah mengadakan perjalanan yang sangat jauh ia berkeliling hutan dan bertemu dengan harimau yang sedang kesakitan karena terkena pohon yang jatuh. “gajah tolong aku” kata harimau dengan sedikit menahan sakit. mendengar teriakan harimau, gajah langsung menolong dengan mengangkat pohon yang menghimpit tubuh harimau dengan belalainya. “terima kasih kawan seandainya kamu tidak segera datang menolongku, mungkin aku sudah mati tertindih pohon yang sangat besar ini, sekali lagi terima kasih gajah” kata harimau, gajah pun berkata “kamu harus bersyukur karena masih bisa selamat dan hanya mengalami luka ringan”, “kamu benar gajah rasanya tidak ada binatang lain yang sangup menolongku untuk mengangkat pohon sebesar itu selain kamu gajah” saut harimau, dan gajah kembali berkata “sudahlah kita sesama makhluk hidup harus saling tolong menolong bukankah begitu”.

Meskipun gajah memiliki kekuatan yang tidak dimiliki binatang lain, tapi gajah tetap rendah hati, dan tidak menyombongkan diri. Gajah pun bertemu dengan seekor kancil yang sedang asyik menikmati mentimun di kebun pak tani, kancil pun berkada didalam hati “perutku sekarang sudah kenyang aku harus segera mencari air minum” si kancil lalu segera meninggalkan kebun itu ia berjalan kearah sungai untuk minum. Setelah berjalan sampai disungai, ia tidak mendapat air sedikitpun, air sungai kering sehingga tidak ada air yang ia minum untuk membasahi tenggorokanya yang mulai kering.

Si kancil berkeliling hutan mencari minum, kancil merasa kecewa karena saat tiba dipingir rawah dan tepi danau tidak mendapatkan air sedikitpun. Satu-satunya yang belum ia datangi adalah sebuah kolam yang besar yang berada ditangah tengah hutan “sekarang aku harus pergi ke kolam yang besar itu, mungkin saja disana masih banyak air yang bisa diminum, mungkin disana aku akan mendapatkan air yang segar” kancil berkata dalam hati, setelah beberapa saat si kancil berjalan melewati pohon jati, sampailah dikolam itu. “ternyata benar dugaanku, masih ada air dikolam ini” gumam si kancil.

Sebenarnya kolam itu kecil dan sangat dalam ketika musim hujan, tetapi karena musim kemarau air kolam tersebut tinggal separuh sehingga terlihat seperti kolam yang besar tanpa berfikir panjang si kancil langsung terjun kedalam. ia merasa sangat gembira karena mendapatkan air minum, ia meminum dengan sepuas puas tenggorokannya sudah basah dan tenggorokanya sudah pulih kembali, badannya kini menjadi segar. namun ketika dia akan kembali pulang ia terperosok kedalam kolam tersebut tolong-tolong gajah mendengar teriakan itu dan langsung menolongnya.

 

 

  1. Cerita fabel adaptasi

Patih Buaya Yang Korupsi

Image result for patih buaya yang korupsi

Di sebuah sungai, tinggallah sekelompok buaya yang dipimpin oleh seorang raja yang arif bijaksana. Raja buaya selalu memikirkan kehidupan rakyatnya, sehingga raja sangat disayangi dan dicintai rakyatnya. Rakyat buaya pun hidup makmur dan tenteram.

Pada musim penghujan, keadaan buaya sedang menderita karena banjir melanda sungai. Rakyat buaya kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa. Melihat rakyat buaya menderita, raja merasa harus bertanggung jawab atas rakyatnya. Semakin hari raja semakin prihatin melihat pemderitaan yang dialami rakyatnya. Akhirnya raja memutuskan untuk membagikan makanan yang disimpannya untuk berjaga-jaga sewaktu musim hujan tiba. Dengan segera raja mengutus kedua patihnya untuk membagikan makanan itu pada rakyatnya secara adil. Kedua patih kepercayaan raja buaya dengan senang hati menerima titah rajanya.

Kedua patih itu segera membagi-bagikan makanan seperti apa yang diperintahkan raja. Namun pada waktu itu patih Karta melihat patih Narta mengurangi setengah dari makanan yang akan dibagikan pada rakyat.
“Hai, Patih Narta. Kenapa kau memakan sebagian makanan yang seharusnya diberikan pada rakyat?” Namun rupanya patih Narta tidak mempedulikan larangan patih Karta. Ia bahkan mengatakan kalau patih Karta iri melihat keberhasilannya mendapat sebagian dari makanan rakyat.

Dengan sabar patih Karta menasehati patih Narta. Namun patih Narta justru mengejek nasehat patih Karta sehingga terjadilah adu mulut antara keduanya.
“Apa hakmu melarangku berbuat sesuatu yang aku sukai?”
“Tapi ini makanan milik rakyat! Lihatlah di luar sana rakyat buaya sangat menderita. Mereka sedang kelaparan! Kalau kau terus begini, kau akan kulaporkan kepada raja, agar kau dihukum dengan setimpal!”

Namun belum sempat Patih Karta melapor ke raja, Patih Narta menyerangnya dari belakang. Di antara mereka terjadi perkelahian hebat. Keduanya sama-sama kuat. Namun di mana pun kejahatan pasti kalah oleh kebenaran. Begitu juga dengan patih Narta. Ia pun mati. Kematiannya bukan karena serangan patih Karta, melainkan kepalanya membentur batu besar di tepi sungai karena terlalu bernafsu menyerang Patih Karta.

Hari itu juga Patih Karta melaporkan kejadian itu pada raja buaya. Ia juga menceritakan tingkah laku Patih Narta. Mendengar itu raja buaya sangat bangga pada Patih Karta yang sangat setia padanya. Sejak itu kehidupan rakyat buaya semakin aman dan tenteram karena dipimpin raja yang arif dengan seorang patih yang sangat setia.