Peran Pendidikan Karakter Dalam Pembentukan Sumber Daya Manusia

PERAN PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PEMBENTUKAN SUMBER DAYA MANUSIA BERKUALITAS DALAM MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN (MEA)

Sebagai Ujian Akhir Semester Mata Kuliah: Bahasa Sebagai Sarana Komunikasi Ilmiah

Oleh:

Naufal Zaki (1818154677)

Kelas G 2015

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

2018

 

 

Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak. Etimologi kata pendidikan itu sendiri berasal dari bahasa Latin yaitu ducare, berarti “menuntun, mengarahkan, atau memimpin” dan awalan e, berarti “keluar”. Jadi, pendidikan berarti kegiatan “menuntun ke luar”. Setiap pengalaman yang memiliki efek formatif pada cara orang berpikir, merasa, atau tindakan dapat dianggap pendidikan.Pendidikan merupakan usaha sadar untuk memanusiakan manusia. Usaha sadar berarti bahwa kegiatan pendidikan itu dirancang untuk mencapai suatu tujuan. Tujuan pendidikan itu sangat beragam dan tergantung pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan yang diselenggarakan.[1]

Tujuan pendidikan nasional yang dirumuskan dalam UU SISDIKNAS adalah untuk mengembangkan potensi anak didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Namun faktanya, Idealisme pada pendidikan mengedepankankan nilai-nilai humanisme yang mendasar sehingga dengan niai-nilai tersebut mampu menbentuk manusia-manusia yang berkualitas. Banyak realita di lapangan yang menunjukkan bahwa kualitas manusia Indonesia sebagai sumber daya yang potensial masih jauh dari harapan. Hal ini terjadi akibat rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia. Paparan Menteri pendidikan. Anies Baswedan, yang disampaikan pada silahturahmi dengan kepala dinas Jakarta pada 1 Desember 2014, menyatakan bahwa pendidikan di Indonesia berada dalam posisi gawat darurat. Beberapa kasus yang menggambarkan kondisi tersebut diantaranya adalah: “ (1) rendahnya layanan pendidikan di Indonesia,(2) rendahnya mutu pendidikan di Indonesia, (3) rendahnya mutu pendidikan tinggi di Indonesia, (4) rendahnya kemampuan literasi anak-anak Indonesia.”[2]

Untuk mengentas masalah SDM di Indonesia, transformasi pendidikan merupakan suatu keniscayaan karena dengan ini pendidikan manusia Indonesia seutuhnya dapat terlaksana.         Dengan terlaksananya pendidikan manusia seutuhnya, pendidikan akan mampu mencetak anak-anak bangsa yang potensial dan siap berperan aktif dalam masyarakat dunia. Sebagai generasi yang potensial, empat pilar pendidikan dapat terintegrasi dalam diri mereka yang nantinya memberikan kesejahteraan bagi kehidupan mereka di masa depan. Menurut UNESCO empat pilar tersebut adalah: learning to know, learning to do, learning, tobe, dan learning to live together.[3]

Dengan pendidikan, segenap potensi diri dari seorang individu akan dapat berkembang dengan baik karena segenap kompetensi yang dimiliki oleh manusia akan diolah dengan baik sehingga cita-cita mulia dari pelaksanaan pendidikan untuk menghasilkan manusia-manusia yang berkualitas; manusia yang mulia dan berkompetensi akan dapat terwujud. Hal ini senada dengan Soltis (2000) yang mengungkapkan bahwa: “Pendidikan membawa kesadaran tentang pernyataan pikiran yang diharapkan dalam perilaku yang bermoral, ini merupakan suatu proses netral berperan sebagai sarana yang berharga maka anak-anak harus dididik guna melengkapi mereka dengan pekerjaan untuk meningkatkan produktifitas dalam masyarakat.”[4]

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) adalah salah satu bentuk pasar dunia dalam lingkup Asia. Dengan adanya MEA akan terjadi perdagangan barang, jasa, modal dan investasi yang bergerak bebas tanpa halangan secara geografis diharapkan pertumbuhan ekonomi di kawasan ini menjadi merata dan menjelma menjadi pasar dunia. Kesiapan Indonesia sangat diperlukan menghadapi MEA bila tidak ingin bangsa Indonesia hanya akan menjadi pangsa pasar bagi negara ASEAN lainnya. Kesiapan Indonesia diperlukan tidak hanya pada proteksi produk dalam negeri namun juga pada sisi dunia ketenagakerjaan. Angkatan kerja yang terampil penting untuk dapat memanfaatkan semua kesempatankesempatan ini. Tanpa komposisi angkatan kerja yang tepat dan terampil, penyatuan pasar ASEAN berpeluang menimbulkan lebih banyak masalah ketimbang kesempatan.[5]

Baca Juga  Seluk Beluk Digital Forensik

Keberadaan MEA memberikan dampak baik dampak positif maupun negative.Dilihat dari dampak positifnya, MEA memacu pertumbuhan investasi baik dari luar maupun dalam negeri sehingga akan membuka lapangan pekerjaan baru. Sehingga penduduk Indonesia akan mendapatkan kesempatan untuk mencari pekerjaan di negara ASEAN lainnya dengan aturan yang relatif akan lebih mudah.

Adapun dampak negatif dari MEA, yaitu keberadaan MEA mendorong adanya pasar barang dan jasa secara bebas. Hal tersebut akan mengakibatkan tenaga kerja asing dengan mudah masuk dan bekerja di Indonesia sehingga mengakibatkan persaingan tenaga kerja yang semakin ketat di bidang ketenagakerjaan. Para tenaga kerja dari negara MEA yang memiliki kompetensi kerja yang lebih tinggi, tentunya akan memiliki kesempatan lebih luas untuk mendapatkan keuntungan ekonomi di dalam  MEA.Hal inilah yang akan menjadi ujian baru bagi masalah dunia ketenagakerjaan di Indonesia sebagai suatu bangsa yang sedang berkembang dengan kualitas SDM yang rendah.[6]

Permasalahan SDM di Indonesia menjadi semakin kompleks terindikasi dengan banyaknya lulusan –lulusan pendidikan formal dari berbagai jenjang yang tidak terserap dalam dunia kerja. disebabkan oleh banyak faktor diantaranya;

1) jumlah penduduk yang semakin hari semakin bergejolak, 2) pertumbuhan angkatan kerja lebih besar ketimbang ketersediaan lapangan kerja, 3) ditribusi penduduk antar daerah tidak merata, 4) ketidaksesuaian kompetensi SDM dengan pasar kerja, distribui informasi tentang pasar kerja yang lambat atau timpang, tingginya tingkat pengangguran.[7]

Terbatasnya kesempatan kerja dan ketidakmampuan menciptakan lapangan kerja menimbulkan adanya pengangguran pada usia kerja dari berbagai latar belakang tingkat pendidikan. Selanjutnya, menjadi pertanyaan yang serius juga antara kesesuaian lulusan pendidikan tinggi dengan dunia kerja di Indonesia bila dilihat dari capaian para lulusan pendidikan tinggi Indonesia dalam dunia kerja apabila banyak dari lulusan perguruan tinggi di Indonesia yang bekerja diberbagai sektor dengan pertumbuhan yang lambat.17 Ini menunjukkan adanya mata rantai yang putus antara pendidikan tinggi dan dunia kerja. Perguruan tinggi belum mampu menghasilkan lulusan dengan harga jual yang tinggi berbekal dengan ilmu yang telah dipelajari meskipun secara umum lulusan pendidikan tinggi memiliki peluang kerja lebih besar dibanding lulusan tingkat SMA, SMP, ataupun SD.

Saat ini masyarakat Indonesia berada pada lingkungan global yang sangat dinamis dan kompleks yang akan menghadapi faktor-faktor yang berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadapi kehidupan masyarakat. Salah satu aspek penting yang harus dipersiapkan dalam menghadapi lingkungan global AEC tersebut adalah dengan mempersiapkan sumber daya manusia yang kompeten. Kualitas sumber daya manusia merupakan faktor penentu keberhasilan pembangunan dan kemajuan suatu bangsa. Persiapan sumber daya manusia yang kompeten tersebut dapat dimulai dari peran dan kesiapan mahasiswa sebagai kaum intelektual muda bangsa.

Dengan memiliki inovasi dan kretivitas, mahasiswa juga dapat berperan sebagai wirausaha muda yang memiliki daya kreativitas dan inovasi yang mampu bersaing dengan mahasiswa dari negara lain. Sehingga dengan menjadi wirusaha muda, mahasiswa akan membantu dalam penciptaan lapangan kerja baru dan menumbuhkan sikap pada setiap pribadi mahasiswa untuk menjadi job creator bukan sebagai job seeker sehingga akan mampu menciptakan produk-produk baru yang inovatif, bernilai daya guna tinggi dan tidak kalah dalam bersaing dengan negara-negara lain.

Dengan adanya AEC 2015, maka akan terbuka kesempatan kerja seluas-luasnya bagi warga negara ASEAN. Setiap warga negara di ASEAN dapat dengan mudah keluar masuk ke negara-negara AEC untuk mendapatkan pekerjaan tanpa adanya hambatan dari negara yang dituju. Pembahasan yang menyangkut tenaga kerja di era AEC yang telah dirumuskan dalam AEC blue print hanya terbatas pada pengaturan khusus untuk tenaga kerja terampil tidak ada pembahasan menyangkut tenaga kerja tidak terampil. Seperti yang diketahui tenaga kerja terampil adalah tenaga kerja yang mempunyai keterampulan dan keahlian khusus serta pengetahuan dan kemampuan di bidang-bidang tertentu. Dalam hal ini sangat jelas bahwa tenaga kerja terampil (skilled labour) yang sangat diperlukan dalam AEC sehingga mahasiswa harus memiliki keterampilan dan keahlian untuk memenangkan persaingan di AEC.

Baca Juga  Upaya Bela Negara Sebagai Perwujudan Wawasan Nusantara

Dari paparan contoh diatas menunjukkan bahwa tuntutan SDM yang terampil dan berkualitas merupakan syarat mutlak agar bangsa Indonesia tidak hanya menjadi pangsa pasar bagi negara-negara ASEAN lainnya namun ikut serta sebagai pelaku utama dalam ajang pasar dunia.

untuk membentuk karakter peserta didik juga dapat dilakukan dengan cara merancang manajemen sekolah yang berbasis karakter. Manajemen pada dasarnya merupakan suatu proses penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran atau tujuan tertentu. Sementara itu, manajemen pendidikan sebagai tugas atau yang di sekolah disebut manajemen sekolah adalah fungsi-fungsi manajemen yang mengelola bidang tugas peserta didik, kurikulum, tenaga pendidik dan kependidikan, pembiayaan pendidikan, sarana dan prasarana, serta hubungan masyarakat (humas).

Menurut Kemendiknas pendidikan karakter di sekolah sangat terkait dengan manajemen atau pengelolaan sekolah. Pengelolaan yang dimaksud adalah bagaimana pendidikan karakter direncanakan, dilaksanakan, dan dikendalikan dalam kegiatan-kegiatan di sekolah secara memadai. Pengelolaan tersebut antara lain meliputi nilai-nilai yang perlu ditanamkan, muatan kurikulum, pembelajaran, penilaian, pendidik dan tenaga kependidikan, dan komponen terkait lainnya.  Sekolah sebagai sebuah lembaga pendidikan dapat dikategorikan sebagai lembaga industri mulia (noble industry) karena mengembang misi ganda yaitu profit dan sosial. Misi profit yaitu untuk mencapai keuntungan. Kemudian misi sosial bertujuan untuk mewariskan dan menginternalisasikan nilai-nilai luhur. Nilai-nilai luhur yang ditanamkan melalui pendidikan karakter. Sekolah diharapkan mampu melakukan perencanaan, kegiatan, dan evaluasi terhadap tiap-tiap komponen pendidikan yang di dalamnya memuat nilai-nilai karakter secara terintegrasi (terpadu). Sekolah dapat melaksanakan pendidikan karakter yang terpadu dengan sistem pengelolaan sekolah itu sendiri.[8] Menurut saya, maksud dari kalimat diatas adalah sekolah mampu merencakan pendidikan (program dan kegiatan) yang menanamkan nilai-nilai karakter, melaksanakan program dan kegiatan yang berkarakter, dan melakukan pengendalian mutu sekolah secara berkarakter. Keterkaitan antara berbagai komponen, proses manajemen berbasis sekolah dan nilai-nilai karakter yang melandasinya meliputi nilai ketuhanan, kebersamaan, lingkungan, kebangsaan, dan diri sendiri.

Kualitas kehidupan sekolah biasanya tampak dalam bentuk bagaimana pemimpin sekolah, pendidik dan tenaga kependidikan bekerja, belajar, dan berhubungan satu sama lainnya sebagaimana telah menjadi tradisi sekolah.[9] Pendapat lain menyatakan bahwa pengembangan nilai-nilai dalam pendidikan karakter melalui budaya sekolah mencakup semua kegiatan-kegiatan yang dilakukan kepala sekolah, guru, konselor, tenaga administrasi dan office boy keika berkomunikasi dengan peserta didik dan menggunakan fasilitas sekolah.[10]

Pengembangan budaya sekolah dan pusat kegiatan belajar dilakukan melalui kegiatan pengembangan diri, yaitu: (1) Kegiatan rutin, yaitu kegiatan yang dilakukan peserta didik secara terus menerus dan konsisten setiap saat. Misalnya kegiatan upacara hari Senin, upacara besar kenegaraan, pemeriksaan kebersihan badan,dan piket kelas; (2) Kegiatan spontan yang dilakukan peserta didik secara spontan pada saat itu juga, misalnya, mengumpulkan sumbangan ketika ada teman yang terkena musibah atau Prosiding Seminar Nasional Inovasi Pendidikan Inovasi Pembelajaran Berbasis Karakter dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 279 sumbangan untuk masyarakat ketika terjadi bencana; (3) Keteladanan yang merupakan perilaku, sikap guru,tenaga kependidikan dan peserta didik dalam memberikan contoh melalui tindakan-tindakan yang baik sehingga diharapkan menjadi panutan bagi peserta didik lain. Misalnya nilai disiplin (kehadiran guru yang lebih awal dibanding peserta didik), kebersihan, kerapihan, kasih sayang, kesopanan, perhatian, jujur, dan kerja keras dan percaya diri; (4) Pengkondisian yaitu penciptaan kondisi yang mendukung keterlaksanaan pendidikan karakter, misalnya kebersihan badan dan pakaian,toilet yang bersih, tempat sampah, halaman yang hijau dengan pepohonan, poster kata-kata bijak di sekolah dan di dalam kelas. Dalam proses pendidikan dikenal dua kegiatan yang elementer, yaitu kegiatan intrakurikuler dan kegiatan ekstrakurikuler.[11] Kegiatan intrakurikuler merupakan kegiatan pokok pendidikan yang didalamnya teradi proses belajar mengajar antara peserta didik dan pendidik untuk mendalami materi-materi ilmu pengetahuan. Sementara kegiatan ekstrakurikuler dapat diartikan sebagai kegiatan pendidikan yang dilakukan di luar jam pelajaran tatap muka yang dilaksanakan di dalam dan atau di luar lingkungan sekolah untuk memperluas pengetahuan, meningkatkan keterampilan, dan menginternalisasi nilai-nilai atau aturan-aturan agama serta norma-norma sosial, baik lokal, nasional, maupun global untuk membentuk insan paripurna.

Baca Juga  Keunggulan Manusia Menurut Al-Qur'an

Adapun tujuan kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan tujuan yang tercantum dalam Permendiknas Nomor 39 Tahun 2008 yaitu, (1) Mengembangkan potensi peserta didik secara optimal dan terpadu yang meliputi bakat, minat, dan kreativitas; (2) Memantapkan kepribadian peserta didik untuk mewujudkan ketahanan sekolah sebagai lingkungan pendididkan sehingga terhindar dari usaha dan pengaruh negatif dan bertentangan dengan tujuan Pendidikan; (3) Mengaktualisasikan potensi peserta didik dalam pencapaian prestasi unggulan sesuai bakat dan minat; (4) Menyiapkan peserta didik agar menjadi warga masyarakat yang berakhlak mulia, demokratis, menghormati hak-hak asasi manusia dalam rangka mewujudkan masyarakat yang madani (civil society).[12]

Pendidikan Nasional berfungsi dan bertujuan untuk membentuk karakter (watak) peserta didik menjadi insan kamil atau manusia sempurna.[13] Dalam UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3 menyatakan bahwa fungsi Pendidikan Nasional adalah untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, dan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga yang demokratis, serta bertanggungjawab.

MEA menuntut setiap negara di wilayah ASEAN memiliki sumber daya manusia yang tidak hanya unggul dalam pengetahuan atau intelektualitas tetapi juga berkepribadian baik, artinya memiliki karakter yang sesuai dengan nilai budaya dan karakter bangsanya. Salah satu peran pendidikan karakter dalam pembentukan SDM yang berkualitas dalam menghadapi MEA yaitu menjadikan perilaku peserta didik yang sesuai dengan nilai-nilai yang dikembangkan oleh sekolah.

Nilai-nilai yang dikembangkan oleh sekolah ditanamkan melalui kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler agar peserta didik terbiasa mengaplikasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari sehingga terbentuklah perilaku peserta didik yang baik sebagai bekal dalam kehidupan bermasyarakat. Peran pendidikan karakter dalam pembentukan SDM yang berkualitas dalam menghadapi MEA juga dapat meningkatkan kecerdasan emosi dan spiritual peserta didik. Kecerdasan emosional adalah gabungan kemampuan emosional dan sosial. Seseorang yang mempunyai kecerdasan emosional akan mampu menghadapi masalah yang terjadi dalam kehidupan karena biasanya orang yang mempunyai kecerdasan emosional mempunyai kesadaran akan emosinya.

Selanjutnya, peran pendidikan karakter dalam menghadapi MEA yaitu menguatkan dan mengembangkan nilai-nilai kehidupan yang sesuai dengan karakter dan budaya bangsa. Tujuan pertama pendidikan karakter adalah memfasilitasi penguatan dan pengembangan nilai-nilai tertentu sehingga terwujud perilaku anak, baik pada saat masih bersekolah, maupun setelah lulus. Penguatan dan pengembangan memiliki makna bahwa pendidikan dalam settingsekolah bukan merupakan dogmatisasi nilai, tetapi sebuah proses yang membawa peserta didik agar memahami dan merefleksi pentingnya mewujudkan nilai-nilai dalam perilaku keseharian (Wiyani, 2013: 71).[14]

 

DAFTAR PUSTAKA

Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta (APTISI), 2014, Seminar Nasional Kesiapan Perguruan Tinggi Di Indonesia dalam Memasuki Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015. Akses online pada 1 Juli 2018.

Angga Dunia Saputra. 2014. Asean Economic Community (AEC) 2015; Seberapa Siapkah Mahasiswa. Akses Online Himpunan Pengusaha Muda Indonesia. PT. Universitas Indonesia. Akses online pada 1 Juli 2018.

Bagus Prasetyo, 2018 “Menilik Kesiapan Dunia Ketenagakerjaan Indonesia Menghadapi MEA”. Rechtsvinding online Journal. Akses online pada 1 Juli 2018.

Kualitas tenaga kerja. http://digilib.uinsby.ac.id/508/3/Bab%202, diakses online pada 1 Juli 2018.

Pembelajaran abad 21.http://edukasi101.com/innovated-pembelajaran-abadke- 21-dan-transformasi-pendidikan, diakses online pada 1 Juli 2018.

Adiministrator, 2008. Wardiman Kembali Ingatkan Link and Match., http://archive.web.dikti.go.id. Diakses online pada 1 Juli 2018.

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.