Makalah Hedonisme

HEDONISME

 

Makalah Ini Di Buat Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Etika Social

Dosen: Okky Tirto, M.Hum

 

Disusun Oleh: Dimas Prayoga

 

UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA INDONESIA

JAKARTA

2017

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin segala puji dan syukur saya panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa ta’ala, karena berkat rahmat dan karunia-Nya, saya dapat menyelesaikan makalah saya yang berjudul “Hedonisme” ini dengan baik.

Adapun tujuan saya menulis makalah ini yaitu untuk memenuhi salah satu tugas kuliah saya di dalam mata kuliah Etika Sosial dan juga agar kita mengerti definisi dan sejarah terlahirnya faham Hedonisme.

Saya menyadari masih terdapat banyak sekali kesalahan yang tanpa sengaja saya buat, baik dari segi kata maupun tata bahasa di dalam makalah ini. Untuk itu saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk kesempurnaan makalah saya selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.

 

 

Jakarta, 21 Maret 2017

Penulis,

Dimas Prayoga

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR.. i

DAFTAR ISI. ii

BAB I. 1

PENDAHULUAN.. 1

1.1      Latar belakang. 1

1.2      Rumusan Masalah. 2

1.3      Penyelesaian Masalah. 2

BAB II. 3

PEMBAHASAN.. 3

2.1      Sejarah Hedonisme. 3

2.2      Hedonisme Menurut Kaum Cyrenaic. 5

2.3      Hedonisme Menurut Kaum Epicurean. 8

2.4      Pengertian Kenikmatan Sadistis. 9

2.5      Tinjauan Kritis Terhadap Hedonisme. 12

BAB III. 14

PENUTUP.. 14

3.1      Kesimpulan. 14

DAFTAR PUSTAKA.. 15

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1         Latar belakang

Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Bagi para penganut paham ini, bersenang-senang, pesta-pora, dan pelesiran merupakan tujuan utama hidup, entah itu menyenangkan bagi orang lain atau tidak. Mereka beranggapan hidup ini hanya sekali, sehingga mereka merasa ingin menikmati hidup senikmat-nikmatnya.Di dalam lingkungan penganut paham ini, hidup dijalanani dengan sebebas-bebasnya demi memenuhi hawa nafsu yang tanpa batas. Saat orang sudah terbiasa dengan gaya hidupnya yang mewah sulit untuk orang mengubah hidupnya menjadi sederhana.

Hedonisme dikembangkan oleh dua orang filosof Yunani, Epicurus (341-270 SM) dan Aristippus of Cyrine (435-366 SM).Mereka berdualah yang dikenal sebagai perintis paham Hedonisme.Sebenarnya, dua filosof ini menganut aliran yang berbeda. Bila Aristippus lebih menekankan kepada kesenangan badani atau jasad seperti makan, minum, seksualitas, maka Epicurus lebih menekankan kepada kesenangan rohani seperti bebas dari rasa takut, bahagia, tenang batin, dan lain sebagainya. Namun, kedua-duanya berpendapat sama yaitu kesenangan yang diraih adalah kesenangan yang bersifat privat atau pribadi.

 

1.2         Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah sejarah terlahirnya faham Hedonisme?
  2. Bagaimanakah Hedonisme menurut kaum Cyrenaic?
  3. Bagaimanakah Hedonisme menurut kaum Epicurean?
  4. Apakah yang dimaksud kenikmatan Sadistis?
  5. Bagaimanakah tinjauan kritis terhadap Hedonisme?

1.3         Penyelesaian Masalah

  1. Untuk mengetahui sejarah Hedonisme.
  2. Untuk mengetahui Hedonisme menurut kaum Cyrenaic.
  3. Untuk mengetahui Hedonisme menurut kaum Epicurean.
  4. Untuk mengetagui apa yang dinamakan kenikmatan Sadistis.
  5. Untuk memahami tinjauan kritis terhadap Hedonisme.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1         Sejarah Hedonisme

Hedonisme sudah mucul sejak awal sejarah filsafat, yang timbul atas pertanyaan “apa yang menjadi hal terbaik bagi manusia”, kemudian para hedonis menjawab: kesenangan (hedone dalam bahasa Yunani). Adalah baik apa yang memuaskan keinginan kita, apa yang meingkatkan kuantitas kesenangan atau kenikmatan dalam diri kita.

Dalam filsafat Yunani hedonisme sudah di temukan pada Aristippos dari Kyrene (sekitar 433-355 SM), seorang murid Sokrates. Sokrates telah bertanya tentang tujuan terakhir bagi kehidupan manusia atau apa yang sungguh-sungguh baik bagi manusia, tapi ia sendiri tidak memberkan jawaban yang jelas atas pertanyaan itu dan hanya mengkritik jawaban-jawaban yang di kemukakan oleh orang lain. Hal itu terbukti karena sudah sejak masa kecilnya manusia merasa tertarik akan kesenangan dan bila telah tercapai ia tidak mencari sesuatu yang lain lagi. Sebaliknya, ia selalu menjauhkan diri dari ketidaksenangan. Bagi Aristippos kesenanggan itu bersifat badani belaka, karena hakikatnya tidak lain daripada gerak dalam badan. Mengenai gerak itu ia membedakan tiga kemungkinan: gerak yang kasar dan itulah ketidaksenangan, misalnya rasa sakit; gerak yang halus dan itulah kesenangan; sedangkan tiadanya gerak merupakan suatu keadaan netral, misalnya, jika kita tidur. Aristippos menekankan lagi bahwa kesenangan harus dimengerti sebagai kesenangan aktual, bukan kesenangan dari masa lampau dan kesenangan di masa mendatang. Yang baik dalam arti yang sebenarnya adalah kenikmatan kini dan disini. Jika kita melihat pandangan Aristppos ini sebagai keseluruhan, perlu kita simpulkan bahwa ia mengerti kesenangan sebagai badani, aktual, dan individual.

Akan tetapi, ada batas untuk mencari kesenangan. Aristippos pun perlunya pengendalian diri, sebagaimana sudah diajarkan oleh gurunya, Sokrates. Dalam pada itu mengakui pengendalian diri tidak sama dengan meninggalkan kesenangan. Yang penting ialah mempergunakan kesenangan dengan baik dan tidak membiarkan dir terbawa olehnya, sebagaimana menggunakan kuda atau perahu tidak berarti meninggalkannya, tapi menguasainya menurut kehendak kita.

Filsuf Yunani lain yang melanjutkan hedonism adalah Epikuros (341-270 SM), yang memimpin sebuah sekolah filsafat di Athena. Epikuros pun melihat kesenangan (hedone) sebagai tujuan kehidupan manusia. Menurut kodratnya setiap manusia mencari kesenangan, tapi pengertiannya tentang kesenangan lebih luas daripada pandangan Aristippos. Walaipun tubuh manusia merupakan “asas serta akar” segala kesenangan dan akibatnya kesenangan badani harus di anggap paling hakiki, namun Epikuros mengakui adanya kesenangan melebihi tahap badani. Dalam sepucuk surat ia menulis: “Bila kami mempertahankan bahwa kesenangan adalah tujuannya, kami tidak maksudkan kesenangan indrawi, tapi kebebasan dari nyeri dalam tubuh kita dan kebebasan dari keresahan dalam jiwa” (Surat kepada Menoikeus). Dalam menilai kesenangan, menurut Epikuros kita harus memandang kehidupan sebagai keseluruhan termasuk juga masa lampau dan masa depan.

Biarpun pada dasarnya setiap kesenangan bisa dinilai baik, namun berarti bahwa setiap kesenangan harus dimanfaatkan juga. Dalam hal ini pentinglah pembedaan yang diajukan Epikuros antara tiga macam keinginan: keinginan alamiah yang perlu (seperti makanan), keinginan alamiah yang tidak perlu (seperti makanan yang enak), dan keinginan yang sia-sia (seperti kekayaan). Hanya keinginan macam pertama harus di puaskan dan pemuasnya secara terbatas menghasilkan kesenangan paling besar. Karena itu Epikuros menganjurkan semacam “pola hidup sederhana”. Orang bijaksana akan berusaha sedapat mungkin hidup terlepas dari keinginan. Dengan demikian manusia akan mencapai ataraxia, ketenangan jiwa atau keadaan jiwa seimbang yang tidak membiarkan diri terganggu oleh hal-hal yang lain. Ataraxia begitu penting bagi Epikuros, sehingga ia menyebutnya juga tujuan kehidupan manusia (di samping kesenangan). Ataraxia berperanan bagi jiwa, seperti kesehatan bagi badan. Orang bijaksana yang memperoleh ketenangan jiwa itu akan berhasil mengusir segala macam ketakutan (untuk kematian, dewa-dewa dan suratan nasib), menjauhkan diri dari kehidupan politik dan menikmati pergaulan dengan sahabat-sahabat.[1]

Baca Juga  Pengelolaan Memori, Cara Segmentasi dan Perbedaan dengan Paging

2.2         Hedonisme Menurut Kaum Cyrenaic

Mazhab yang pertama kali mengangkat filsafat hedonisme ialah kaum Cyrenaic, dinamai dengan tempat lahir pendiri mazhab tersebut Aristppos dari Cyrenaic, sebuah kota Yunani yang terletak di lokasi yang kini bernama Libya. Kaum Cyrenaic meyakini bahwa kepuasan merupakan kebaikan alamiah. Dengan demikian, kepuasan, dan hanya kepuasan, yang secara universal diakui oleh seluruh umat manusia sebagai hal yang di hasratkan. Sebaliknya, rasa sakit adalah keburukan alamiah, sesuatu yang secara luas dipahami sebagai hal yang tidak di hasratkan. Dengan demikian pernyataan yang menyatakan bahwa kehidupan yang baik adalah  kehidupan yang mengandung sebanyak mungkin kepuasan dan sesedikit mungkin rasa sakit, merupakan pernyataan yang tampaknya dapat disepakati oleh manusia dari beragam masa dan budaya. Inilah kekuatan dari pernyataan yang  menyebutkan bahwa kepuasan adalah hal alamiah dan bukan sebuah kebaikan konvensional, sedangkan rasa sakit adalah keburukan alamiah.

Dengan cara demikian, kepuasan dan rasa sakit sangat berbeda dari hal-hal seperti kehormatan dan rasa malu. Perbedaan tersebut memiliki dua aspek. Yang pertama, kehormatan tidak dianggap sebagai kebaikan universal sedangkan rasa malu tidak dianggap sebagai keburukan universal. Dalam beberapa kebudayaan, misalnya, orang-orang memiliki sentimen kuat terhadap kehormatan keluarga dan menganggap segala hal yang dapat mencemari nama keluarga sebagai hal yang menakutkan. Dalam kebudayaan lainnya, orang-orang tidak memiliki sentimen semacam itu. Yang kedua, anggapan mengenai hal-hal yang penuh kehormatan dan hal-hal yang memalukan adalah konsep yang berbeda menurut beragam kebudayaan. Jika hal-hal yang menimbulkan rasa sakit berlaku dalam semua budaya, hal-hal yang menyebabkan rasa malu dalam sebuah lingkungan bisa saja tidak menyebabkan rasa malu dalam lingkungan yang lain. Sekedar contoh, di beberapa tempat, hamil sebelum menikah di pandang sebagai hal yang mengerikan. Namun di tempat lain, hal yang di anggap mengerikan adalah meningkatnya gejala penyakit kanker. Penyebabnya barangkali adalah, tidak seperti kepuasan dan rasa sakit, gagasan-gagasan yang melatari pencarian kehormatan dan penghindaran rasa malu seringkali hancur di hadapan konsepsi kehidupan yang sangat berbeda. Kita dapat menolak gagasan yang menyataakan bahwa hamil di luar nikah adalah hal yang memalukan, namun kita tidak dapat membantah fakta bahwa pertumbuhan kanker menyebabkan rasa sakit. Demikian juga, kehormatan dan rasa malu adalah nilai yang sangat bergantung dengan adat istiadat suatu daerah dan masa tertentu. Novel karya Nathaniel Hawthorne The Scarlet Woman, yang berkisah tentang seorang ibu tidak menikah di lingkungan New England yang puritan, menggambarkan dalam kehidupan Inggris kontemporer di mana 40% kelahiran bayi terjadi di luar ikatan pernikahan. Sebaliknya, kata nilai-nilai alamiah tetap memiliki arti seperti adanya.

Dua contoh tersebut di atas menunjukan bahwa rasa sakit dan kepuasan berbeda dengan nilai-niai lain. Inilah yang menyebabkan keduanya di sebut sebagai kebaikan dan keburukan “alamiah”, sebuah ciri yang seolah memosisikan hedonisme di atas filsafat nilai lainnya. Atau demikianlah yang ada dalam benak Cyrenaic dan kalangan lain. Inilah persoalan yang akan kembali kita kaji, namun pertama-tama kita harus membahas persoalan lain terlebih dahulu. Jika kita menerima bahwa kepuasan (kenikmatan) adalah satu-satunya kebaikan sehingga pemahaman ini memberi kita pembenaran untuk terus mengejar kepuasan dan menyingkirkan rasa sakit dan bahkan menjadikan hal ini sebagai tujuan utama kehidupan kita, maka kita masih harus menjawab pertanyaan berikut: cara hidup seperti apa yang bisa memberikan kepuasan paling tinggi? Menurut Cyrenaics, yang menganut hedonisme popular, kehidupan terbaik adalah kehidupan yang bisa memenuhi kepuasan jasmaniah-makan, minum, seks dan lainnya. Pandangan semacam ini masih dianut hingga saat ini. Namun jika kita perhatikan secara serius, kita akan mendapati bahwa meski kepuasan dan rasa sakit barangkali berlawanan, namun kebaikan dan keburukan, biasanya saling menyertai. Oleh karena itu, pengejaran kepuasan jasmani juga akan mengundang rasa sakit jasmani.

Sekedar contoh, kepuasan akan makanan bergantung akan selera makan, yang tidak lain adalah rasa lapar. Hanya dengan menderita (setidaknya sedikit) perihnya rasa lapar, kita baru bisa merasakan kenikmatan makanan. Demikian juga, banyak orang menemukan kepuasan dan kenikmatan saat mabuk berat, namun mabuk biasanya juga disertai dengan rasa mual, pusing, dan rasa sakit saat bangun pagi. Atau juga suntikan heroin dianggap sebagai cara untuk membangkitkan sensasi jasmani dan mental yang tertekan. Namun penggunaan heroin juga menyebabkan pengguna mati rasa sehingga orang yang berada dalam pengaruh heroin sering kali melukai diri mereka sendiri dan menderita rasa sakit sehingga pada akhirnya mereka tidak nyaman. Demikian juga dengan seks. Sementara orang (seringkali juga kita semua) mendapati sesuatu yang di sebut sebagai kenikmatan seks bebas. Namun ketika menjerumuskan diri kedalamnya  kita harus bersedia menerima resiko terkena VD, herpes, AIDS, dan penyakit lain yang tidak jarang menyebabkan kematian. Bahkan bentuk gratifikasi seksual yang relatif aman-pertunjukan porno dan film, misalnya-lazimnya memiliki efek buruk.

Dengan demikian, kehidupan ideal dalam versi Cyrenaics hanya menarik secara teorits, tidak secara riil. Jika kita mempertimbangkan secara serius, kita akan dapat melihat bahwa ideal semacam itu mustahil direalisasikan sehingga tidak bisa dianggap sebagai hal ideal. Inilah hal penting yang perlu ditekankan. Orang-orang yang bisa menerima dengan mudah perinah-perintah moral atau merasa tidak nyaman “kebahagiaan” kesalehan religius, seringkali memiliki kecurigaan bahwa perintah moral tersebut hanya mengekang kebebasan sehingga kita semua lebih baik memilih kehidupan yang penuh kenikmatan. Namun, seperti yang telah kita lihat, masih belum jelas apakah benar bahwa kehidupan penuh kebebasan tersebut bisa di wujudkan, meski tidak ada konvensi dan kekangan sosial. Terdapat banyak contoh untuk menjelaskan soal ini. Salah satunya adalah ketamakan. Ketamakan tidak lagi dianggap sebagai dosa, namun seseorang yang makan dengan rakus demi mengejar kenikmatan dia akan menderita obesitas dan merupakan target empuk dari berbagai penyakit yang menyertainya. Contoh lain adalah merokok. Banyak orang merokok karena merasakan kenikmatannya, namun sekali lagi ekses dari tindakan tersebut bisa menyebabkan penyakit, penyakit paru-paru dan jantung yang tidak bisa disembuhkan. Terkadang, orang yang menderita penyakit berbahaya karena kecanduan rokok atau kebanyak makan berpikir bahwa kenikmatan yang mereka kejar tidak akan menyebabkan hal yang mematikan, namun ini tidak menyanggah kesimpulan bahwa kehidupan yang hanya mengejar rasa puas dan penolakan rasa sakit mustahil diwujudkan.[2]

Baca Juga  Makalah Kalkulus dan Fungsi

2.3         Hedonisme Menurut Kaum Epicurean

Meski demikian kemustahilan tersebut bukanlah konsekuensilogis namun hanya kontingen. Dalam hal ini tidak ada hubungan langsung antara mabuk dan rasa sakit ketika bangun di pagi hari atau seks bebas dan AIDS. Kenikmatan-kenikmatan tersebut menyebabkan rasa sakit hanya karena begitulah dunia menganggapnya. Implikasi ini menunjukkan kelemahan konsepsi kehidupan yang baik menurut kaum Cyrenaic yang tidak memberikan tempat terhormat pada kenikmatan, namun karena mereka hanya memberikan tempat terhormat pada jenis kenikmatan tertentu, yaitu kenikmatan jasmani, inilah yang diamati oleh filusuf Yunani kuno bernama Epikuros yang namanya diabadikan sebagai nama dari salah satu jenis hedonisme-Epicureanisme (kita tahu bahwa penamaan ini agak keliru karena sebenarnya minat utamanya adalah ada persoalan filosofis lain).

Hedonisme versi Epicurean ini bisa kita temukan dalam perkataan sehari-hari. Seorang “epicurean” adalah seseorang yang menikmati hal-hal baik dari kehidupan-anggur yang baik, makanan yang baik, perusahaan yang baik, model pakaian elegan dan lainnya-dan menggunakan kata ini merefleksikan pandangan kaum Epicurean yang menyatakan bahwa jika kehidupan dipenuhi dengan kenikmatan yang, lazimnya, tidak disertai rasa sakit. Dengan demikian, kenikmatan-kenikmatan tersebut merupakan kenikmatan yang relatif lembut dan halus-anggur yang baik namun tidak terlalu banyak, makanan lezat yang menarik bagi para pencicip rasa masakan bukan para penggemar masakan, music dan drama yang bagus namun yang tidak mengurangi emosi, dan sebagainya. Faktanya, seperti diindikasikan oleh contoh-contoh tersebut, filsafat kenikmatan dan hidup yang baik menurut Epicurean sangat berbeda dengan konsepsi umum mengenai hedonisme karena filsafat ini tidak mengandung sifat yang berlebihan. Alih-alih filsafat tersebut justru menuntut para penganutnya untuk menjauhi banyak hal yang oleh banyak orang dianggap sebagai kenikmatan.

Tentu saja, hal itu karena filsafat tersebut menyatakan bahwa hanya kenikmatan-kenikmatan lembut dan halus yang tidak disertai rasa sakit yang bisa mengisi kehidupan. Namun, pada saat yang sama, muncul pertanyaan apakah bisa disebut  kenikmatan jika ternyata masih ada batasan. Secara alamiah, kita tidak membatasi diri kita untuk meminum satu atau dua gelas anggur terbaik. Sementara ada banyak orang yang justru mendapat kenikmatan saat mendengarkan kegaduhan dan irama music rock dan Heavy Metal ketimbang ketika mendengarkan harmoni memikat dari komposisi Minuet karya Boccherini. Ini memunculkan pertanyaan penting. Jika Epicureanisme mengajukan kenikmatan yang harus kita pelajari untuk mendapatkannya, dapatkah Epicureanisme mengklaim seruan “alamiah” yang justru merupakan keunggulan hedonisme dari filsafat lainnya? Dalam Epicurean, ekses-ekses hedonisme Cyrenaic dikurangi. Namun, jika Epicureanisme meminta kita untuk melepaskan kenikmatan dan rasa sakit “alamiah”, maka kenikmatan yang didapat lebih kecil ketimbang kehilangan.[3]

2.4         Pengertian Kenikmatan Sadistis

Kaum hedonis akan mengatakan  bahwa pembuktian tentang kekeliruan filsafat mereka hanya akan berhasil jika kita menerima salah satu premis yang merupakan argument Mill, yaitu ketidakpuasan hidup Socrates lebih baik ketimbang kepuasan yang di dapat Babi. Namun barangkali kita tidak perlu menerima hal ini. Alih-alih,seorang hedonis yang konsisten juga tidak harus menerimanya. Jika kenikmatan merupakan satu-satunya kebaikan alamiah, kehidupan seperti apa pun yang dipenuhi dengan kenikmatan akan sama baiknya dengan kehidupan lainnya, dan lebih baik dari kehidupan yang dipenuhi rasa sakit dan ketidakpuasan. Menerima hal ini berarti menerima hal itu, berlawanan dengan apa yang dipikirkan Mill dan barangkali oleh banyak orang, Socrates memiliki argumen untuk iri pada sang Babi karena Babi tersebut menjalani kehidupan yang lebih baik. Fakta bahwa kita maupun Socrates, sesuai dengan kemampuan dan minat kita, tidak akan menemukan kenikmatan dalam kehidupan yang di jalani sang Babi menyebabkan kita berfikir secara salah bahwa kehidupan sang Babi tersebut bukanlah kehidupan yang baik. Namun dari sudut pandang hedonis, itulah kehidupan yang baik karena dipenuhi dengan kenikmatan dan kenikmatan merupakan satu-satunya kesenangan alamiah. Tentu saja, kehidupan manusia yang dipenuhi kenikmatan akan diisi dengan lebih banyak aktivitas dari pada kehidupan yang dijalani sang babi, namun kehidupan tersebut tidak akan berisi kenikmatan lagi sehingga tidak akan menjadi lebih baik. Dengan demikian, hedonisme menolak kesulitan dalam konsep Mill mengenai kenikmatan tinggi dan rendah dengan cara menolak pembedaan kebaikan dalam beragam jenis kenikmatan.

Penolakan semacam itu membuat kita kembali pada perdebatan antara Socrates dan Callicles pada fakta yang menunjukan bahwa, sejauh pemuasan keinginan terus berjalan, tidak terdapat perbedaan antara orang-orang yang berhasil dalam menuntut tugas yang mereka canangkan sendiri, dan orang-orang yang berhasil dalam menjalani kehidupan yang vulgar dan malas yang memang minat utama mereka. Dalam hal ini, fakta ini dapat dengan mudah dihubungkan dengan kenikmatan. Jika kenikmatan adalah segala hal seperti itu, kita tidak dapat menilai preferensi kenikmatan yang didapat oleh seorang ahli bedah ketika berhasil menyelamatkan hidup seorang anak melalui operasi, atas kenikmatan yang di dapat oleh seorang sadis ketika melihat kesakitan dari hewan yang ia siksa. Namun, jelas bahwa terdapat perbedaan penting di antara keduanya.

Contoh tersebut adalah contoh yang saya buat sendiri, namun ketika Socrates memberikan perbedaan kontras antara kenikmatan heroik dan vulgar di hadapan Callicles, dia menerima bahwa dalam hal ini terdapat perbedaan yang harus di jelaskan. Penerimaan inilah yang menyebabkan kekalahannya. Jika dia tidak menerima pembedaan ini, perdebatan tersebut akan berbeda. Demikian juga, jika seorang hedonis berkeras bahwa seorang penyiksa memndapatkan kenikmatan yang sama banyaknya dengan seorang dokter, sang penyiksa dan dokter sama-sama menjalani kehidupan yang baik, sehingga konsepsi yang membedakan keduanya tidak dapat meruntuhkan tesis kaum hedonis. Seorang hedonis yang konsisten tidak memiliki persoalan yang dimiliki Callicles.

Baca Juga  Makalah Negara Maju dan Negara Berkembang

Bagi sebagian orang, fakta ini menunjukan betapa rendahnya filsafat hedonisme. Namun dalam terma kogensi filsafat, tidak ada pembuktian bagi hal itu. Pertama, kita mencatat bahwa kaum hedonis tidak merekomendasikan penyiksaan sebagai jalan hidup. Demikian juga hedonisme tidak egoistis, dalam artian tidak hanya memperdulikan kenikmatan seseorang. Kaum hedonis menyetujui bahwa hidup korban penyiksaan adalah kehidupan yang buruk. Sebaliknya, sesuai dengan pandangan kaum hedonis bahwa rasa sakit adalah keburukan alamiah, merka akan menegaskan hal ini. Mereka memandang bahwa jika psikologi seseorang adalah abnormal, maka tidak diragukan lagi dia akan menikmati penyiksaan seperti halnya sebagian besar dari kita menikmati aktivitas favorit kita, sehingga kehidupannya sama nikmatnya dengan kehidupan kita. Namun, bahkan seorang hedonis pun akan ragu untuk memberikan dukungan pada kehidupan yang dijalani seorang penyiksa, karena kehidupan seorang penyiksa menyebabkan banyak rasa sakit dan penderitaan. Namun sulit untuk melihat bahwa kaum hedonis menyangkal fakta ini; bahwa sang penyiksa mendapat banyak kenikmatan dari tindakannya.

Poin terakhir inilah yang menghilang di hadapan kebijaksanaan ketika kaum hedonis menyatakan bahwa seorang sadis mendapatkan kenikmatan dari aktivitasnya yang menyakitkan tidak berarti bahwa hal itu menggeser seluruh keseimbangan dari negatif menjadi positif, mereka harus menganggap ini sebagai poin dari sisi plus; akan menjadi lebih buruk jika tidak ada kenikmatan untuk mengimbangi rasa sakit sang korban.sebaliknya, bagi sebagian besar orang, fakta yang sama menjadikan aktivitas pelaku sadisme menjadi lebih buruk, bukan lebih baik. Jika diaplikasikan pada kasus ini, hedonisme bertentangan dengan kebijaksanaan konvensional dan tidak menyenangkan bagi nalar normal. Namun sekedar fakta mengenai suatu pandangan atau pandangan lain yang tidak konvensional atau tidak populer tidak lantas menunjukan bahwa hal itu salah. Orang yang pertama kali menyatakan bahwa bumi tidak datar  juga menolak kebijakan konvensional. Untuk dapat menolak hedonisme sebagai filsafat nilai, di butuhkan hal yang lebih daripada contoh-contoh intuitif seperti yang telah kita sebutkan. Agar dapat menentukan pembenaran yang paling substansial, kita harus mengkaji seorang filsuf Yunani lainnya, Aristotle.[4]

2.5         Tinjauan Kritis Terhadap Hedonisme

Apakah manusia selalu mencari kesenangan? Apakah manusia (tapi malaikat atau apa…), jika ia tidak mencari kesenangan? Apakah tidak mungkin juga manusia yang membaktikan hidupnya demi kebaikan orang lain, dengan niat murni dan tanpa pamrih? Tentu saja, para hedonis selalu bisa mengatakan bahwa mereka pada akhirnya menderita, para hedonis bisa saja mengatakan bahwa mereka pada akhirnya melakukan hal itu untuk mencari kesenangan, untuk dipuji oleh khalayak ramai, untuk meraih Hadiah Nobel (dan ternyata berhasil) atau sekurang-kurangnya untuk memperoleh kebahagiaan kekal di surga sebagai pahala atas segala jerih payahnya di bumi ini. Atau para hedonis bisa menegaskan bahwa membantu orang lain selalu juga menyenangkan, karena “lebih baik memberi daripada menerima”.

Kritik lebih berat lagi adalah bahwa dalam argumentasi hedonisme terdapat loncatan yang tidak dipertanggungjawabkan. Dari angggapan bahwa dalam kodrat manusia adalah mencari kesenangan (yang menurut hemat kami dapat dipertanyakan lagi), ia sampai pada menyetarafkan kesenangan dengan moralitas yang baik. Secara logis hedonisme harus membatasi diri pada suatu etika deskriptif saja (pada kenyataannya kebanyakan manusia membiarkan tingkahlakunya dituntun oleh kesenangan), dan tidak boleh merumuskan suatu etika normatif (yang baik secara moral adalah mencari kesenangan). Para hedonis mempunyai konsepsi yang salah tentang kesenangan. Mereka berpikir bahwa sesuatu adalah baik, karena disenangi. Akan tetapi, kesenangan tidak merupakan suatu perasaan yang subyektif belaka tanpa acuan obyektif apapun. Sebenarnya kesenangan adalah pantulan subyektif dari suatu yang obyektif. Sesuatu tidak menjadi baik karena disenangi, tapi sebaliknya kita merasa senang karena memperoleh atau memiliki sesuatu yang baik. Kita menilai sesuatu sebagai baik karena kebaikannya yang intrinsic, bukan karena kita secara -subyektif belaka- menganggap hal itu baik. Jadi, kebaikan dari apa yang menjadi obyek kesenangan mendahului dan diandaikan oleh kesenangan itu.[5]

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1         Kesimpulan

Hedonisme atau pandangan yang menyamakan “baik secara moral” dengan “kesenangan” tidak saja merupakan suatu pandangan pada permulaan sejarah filsafat, tetapi di kemudian hari seiring kembali dalam belbagai variasi. Tendensi hedonistis terutama tampak dalam filsafat moral Inggris. Filsuf Inggris, John Locke (1632-1704), misalnya, akan menandaskan: “kita sebut baik apa yang dapat menyebabkan atau meningkatkan kesenangan, atau mengurangi ketidaksenangan dalam diri kita; sebaliknya, kita namakan jahat apa yang dapat mengakibatkan atau meningkatkan ketidaksenangan apa saja atau mengurangi kesenangan apa saja dalam diri kita “. Hedonisme yang menjiwai pemikiran modern itu mengakui dimensi sosial sebagai faktor tidak bisa disingkirkan.

Dalam dunia modern sekarang ini rupanya hedonisme masih hadir dalam bentuk lain. Hedonisme merupakan “etika implisit” yang mungkin tanpa disadari dianut oleh banyak individu dewasa ini. pada kenyataannya mereka berpegang pada prinsip-prinsip hedonistis. Seandainya mereka berusaha merumuskan secara eksplisit pandangan etis yang terkandung dalam tingkah laku spontan, mereka akan sampai pada suatu hedonisme yang agak mirip dengan  pendapat kedua filsuf Yunani tadi. Dan bukan saja pada taraf individual hedonisme tersembunyi ini dapat ditemukan, dalam masyarakat luas pun hedonisme tidak absen. Jika kita menganalisis publisitas periklanan dalam masyarakat yang disebut konsumeristis sekarang ini, rasanya tidak terlalu sulit untuk menunjukan dibelakangnya cita-cita hedonisme.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Bertens, K. 2013. Etika. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

Graham, Gordon. 2014. Teori-Teori Etika. Bandung: Penerbit Nusa Media

[1] K. Bertens, Etika (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2013), hlm. 183-185.

[2] Gordon Graham, Teori-Teori Etika (Bandung: Penerbit Nusa Media, 2014), hlm. 56-60.

[3] Gordon Graham, Teori-Teori Etika (Bandung: Penerbit Nusa Media, 2014), hlm. 60-61.

[4] Gordon Graham, Teori-Teori Etika (Bandung: Penerbit Nusa Media, 2014), hlm. 67-70.

[5] K. Bertens, Etika (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2013), hlm. 185-187.

 

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.