Karakteristik Benua dan Samudra di Dunia

KARAKTERISTIK BENUA DAN SAMUDRA DI DUNIA

A. BENUA

 

  1. BENUA ASIA

Nama asia berasal dari kata “ACU” (Asia) dari bahasa semit yang berarti negara/wilayah yang terletak atau merupakan tempat matahari terbit (the land of the sun rise) yang juga diartikan “timur”. Asia pada zaman dahulu bearti pula negara-negara yang terletak di seberang laut Mediterania. Luas wilayah benua Asia adalah 43,998,920 km2
Benua Asia, memiliki beberapa karakteristik atau ciri sebagai berikut:

  • Benua asia merupakan benua yang terluas didunia, dengan luas wilayah kira-kira 149.671 km2


 

  • Benua yang memiliki kepadatan penduduk terbesar di dunia, yaitu 87/km2 (225/sq mi), dan enam dari sepuluh Negara dengan penduduk terbanyak di dunia, sebagai berikut:

  • Benua penghasil minyak bumi terbesar, berada di negara-negara jazirah Arab
    • Saudi Arabia
       

      • Produksi minyak          : 11,75 juta barel per hari
      • Kontribusi ke dunia     : 13,24%
      • Ekspor harian ke AS    : 1,42 juta barel
      • Cadangan terbukti      : 262,6 miliar barel
  • Benua munculnya agama besar di dunia (Islam di Arab, Kristen di Yerussalem ,Hindu dan Budha di   India ,dll).Berikut tempat- tempat bersejarah bagi perkembangan agama di dunia yang berada di benua Asia:
    • KA’BAH di Makkah        GEREJA di yerussalem            TAJ’MAHAL di india

    

  • Benua yang memiliki bangunan bersejarah sebagai keajaiban dunia seperti Ka’bah di Arab, Tembok Besar di RRC , Taj Mahal di India, dan Candi Borobudur di Indonesia.
      
  • Benua asia memiliki pegunungan tertinggi di dunia yaitu pegunungan Himalaya di wilayah negara Nepal dengan puncaknya Mount Everest (848 m diatas permukaan air laut)

  • Benua asia juga memiliki dataran tertinggi di dunia yaitu dataran tinggi Tibet di Mongolia.
  • Benua asia banyak memiliki gurun pasir, seperti: Gurun Gobi di mongolia dan Cina, Yang merupakan gurun terluas didunia kedua setelah gurun Sahara di Afrika utara.

  • Benua asia memiliki beberapa dataran rendah yang sangat luas yaitu dataran rendah Siberia, dataran rendah Turan dan dataran rendah Turkistan Barat.

  • Terdapat laut terluas yaitu laut cina selatan

  1. BENUA AMERIKA

Luas wilayah benua Amerika adalah 41.825.581 km2. Karakteristik benua amerika:

  • Sebagai benua terpanjang di dunia , yaitu dari utara sampai selatan.

  • Memiliki air terjun tertinggi di dunia yaitu air terjun Angel di Venezuela.

  • Memiliki air terjun dengan debit terbesar di dunia yaitu air terjun Guaria di Brazil.

  • Terdapat Tanah Genting Panama dan Terusan Panama sebagai Penghubung Samudera Pasifik dan Samudera  Atlantik.

  • Sebagai pusat industry computer(dengan tokoh: William bill gates)

  • Air terjun Niagara merupakan air terjun terkenal di dunia

  • Industri perfilman terbesar di Hollywood

  • Mampu mendaratkan manusia pertama (Neil Amstrong) di bulan tahun 1969

  • Benua yang memiliki mata uang dolar amerika sebagai mata uang standar perdagangan dunia

  • Sungai Amazon merupakan sungai terpanjang ke dua di dunia (6.400 m)

  • Penghasil kopi terbesar di dunia, terutama dari Negara Brazil.

  • Terdapat peradaban kuno suku bangsa Aztec

  • Lembah Amazon merupakan lembah dengan hutan tropis terluas di dunia.

  • Terdapat daerah terkering di dunia yaitu padang pasir Atacama di chili

 

  1. BENUA AFRIKA

Luas wilayah benua Afrika adalah 29,800,540 km2. Karakteristik benua Afrika:

  • Dikenal Sebagai benua hitam.

  • Memiliki gurun terluas di dunia yaitu Gurun Sahara

  • Terdapat sungai terpanjang di dunia yaitu Sungai Nil

  • Sebagai benua termiskin.

  • Terdapat piramida yang merupakan makam raja-raja mesir, sekaligus sebagai salah satu keajaiban dunia

  • Memiliki gunung api klimanjaro tertinggi di dunia (6.010 m)

  • Adanya lalat tsetse yang menyebabkan penyakit

  • Pengidap HIV/AIDS terbesar di dunia.

 

  1. BENUA EROPA

Luas wilayah benua Eropa adalah 9,699,550 km2. Karakteristik benua Eropa:

  • Mayoritas penduduk tinggal di perkotaan.

  • Mendapat julukan benua putih.

  • Benua yang pertama menerapkan sistem mata uang tunggal yaitu Euro.

  • Memiliki rawa terluas yaitu Rawa Pripet di perbatasan Belarusia-Rusia.

  • Memiliki bangunan sejarah sebagai keajaiban dunia

 

  • Asal dari Bahasa yang di pergunakan secara internasional yaitu Bahasa inggris

  • Pelopor penemuan teknologi: mesin uap, pesawat terbang, telepon, dan lampu listrik.

      

 

  1. BENUA AUSTRALIA

Luas wilayah benua Australia adalah 7,687,120 km2. Karakteristik benua Australia:

  • Sebagai negara benua sekaligus benua terkecil di dunia

 

  • Terdapat batuan monolith terbesar yaitu Ayer’s Rock yang memiliki tinggi 348 m dan panjang 31 km.

  • Mendapat julukan negeri kanguru.

  • Terdapat suku khas yaitu Aborigin

  • Memiliki stepa dan sabana yang sangat luas, yaitu 56% dari luas benua

  • Australia merupakan Negara pengekspor wol dan penghasil gandum terbesar di dunia

  

 

  1. BENUA ANTARTIKA

Luas wilayah benua Antartika adalah 14,254,000 km2. Karakteristik benua Antartika

  • Benua terdingin dengan suhu mencapai -57 °C pertahunnya

  • Sebagai benua penelitian ,terdapat 36 stasiun riset

  • Dikelilingi oleh samudera-samudera besar.

 

 

 

      B. SAMUDERA

  1. SAMUDERA PASIFIK

Luas wilayah samudera Pasifik adalah 165.385.450 km². Kedalaman rata-rata 4.250 m. Karakteristik samudera Pasifik:

  • Sebagai Samudera terluas di dunia.

  • Terdapat titik terendah yang terdapat di Palung Mariana ( kedalaman 11.022m) sebagai palung terdalam di Filiphina.

  • Sebagai tempat pertemuan antara garis bujur barat dan garis bujur timur sebagai batas penanggalan internasional.

  • Terdapat Ring Of Fire disekitar samudera pasifik yang menyebabkan terbentuknya gunung api didaratan sekitar samudera ini

 

2. SAMUDERA ATLANTIK

Luas wilayah samudera Atlantik adalah 82.217.000 km².Kedalaman rata-rata 3.350 m. Karakteristik samudera Atlantik:

  • Samudera yang di yakini sebagai pusat medan magnet bumi yaitu kawasan Segitiga Bermuda di Perairan Karibia(Amerika Tengah) yang menyebabkan gravitasi besar sehingga sering dikabarkan hilangnya pesawat terbang atau kapal yang melintas di atasnya.

  • Sebagai samudera penghubung dunia lama (Eropa) dan dunia baru (Amerika).

  • Di Samudera Atlantik  terdapat palung laut seperti Palung Puerto Rico (9.220m)

 

3. SAMUDERA HINDIA

Luas wilayah samudera Hindia adalah 73.481.000 km².Kedalaman rata-rata 3.850 m. Karakteristik samudera Hindia:

  • Sebagian besar wilayahnya berada di belahan bumi selatan dan dikelilingi oleh benua asia dan afrika pada bagian timur, utara dan barat

  • Sebagai penyedia air hujan bagi gejala alam angin muson untuk wilayah Asia dan Australia.

  • Memiliki arus yang tenang dan jarang terjadi badai sehingga aman untuk pelayaran dunia.

  • Terdapat beberapa palung seperti Palung Jawa ( 7.450 m), Palung Weber ( 7.440m) ,Palung Diamantina (7.102m), Palung Jawa (7.450 m)

 

4. SAMUDERA ARKTIK

Luas wilayah samudera Arktik adalah 14.056.000 km².Kedalaman rata-rata 5.400 m.  Karakteristik samudera Arktik:

  • Sebagai samudera tersempit.

  • Sebagian wilayahnya tertutup es dengan suhu paling dingin disbanding samudera lainnya yaitu -20 C pertahunnya

  • Samudera dengan jenis ikan paling sedikit.
  • Samudera yang tidak terlewati garis khatulistiwa

Makalah Manajemen Laboratorium Medik

Makalah Manajemen Laboratorium Medik

Good Laboratory Practice

Dosen Pembimbing : Dian Nurmansyah, S.ST, M.Biomed

 

 

 

Oleh Kelompok 2 :

 

1. Desti Meiliadi

2. Liani Diah Kesuma

3. Lucky Hediati

4. Muhamad Rinaldi

5. Putri Amalga

6. Ramadhan

7. Yuniartie Shafarina

 

 

 

YAYASAN BORNEO LESTARI

AKADEMI ANALIS KESEHATAN BORNEO LESTARI

BANJARBARU

2018

 

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat rahmat dan karunia-Nya kami sudah dapat menyelesaikan Makalah Manajemen Laboratorium ini yang berjudul “Good Laboratory Practice (GLP)”, Shalawat serta salam kita haturkan kepada Nabi Muhammad S.A.W beserta keluarga dan sahabatnya sekalian.

Disini kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini memang masih banyak kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan baik dari segi bahasa, penulisan dan pengolahan, untuk itu penulis sangat mengharapkan kritikan, saran dan masukan yang sifatnya membangun.

Atas saran dan kritikan penulis ucapkan terima kasih.

 

Banjarbaru, 27 juni 2018

 

 

DAFTAR ISI

Cover………………………………………………………………………………………………….

………………………………..….i

Kata

Pengantar……………………………………………………………………………………………

………………..……….ii

Daftar

isi…………………………………………………………………………………………………….

………………………….iii

  1. Pendahuluan
    • Latar

belakang………………………………………………………………………………………. ..……………4

  • Tujuan………………………………………………………………………………………….

……………………….5

  • Manfaat…………………………………………………………………………………………

……………………..5

  1. Isi
    • Pengertian Laboratorium Medik dan

prinsip……………………………………..……………….6

  • Jenis dan Klasifikasi Laboratorium

Medik………………………………………………….………6

  • Kebijakan Laboratorium

Medik…………………………………………………………………..……….7

  • Kode Etik

Profesi…………………………………………………………………………………………

.………8

  1. Penutup
    • Kesimpulan……………………………………………………………………….……………

…………………..10

  • .10 Daftar

Pustaka……………………………………………………………………………………………..

……………….…….11

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Mendengar kata laboratorium tentu sudah tidak asing lagi bagi Anda. ketika Anda sakit dan pergi ke rumah sakit atau ke dokter, sebelum tindakan pengobatan biasanya Anda disarankan untuk melakukan pemeriksaan ke laboratorium. Sebagian dari Anda mungkin bertanya-tanya, mengapa harus diperiksa dahulu di laboratorium? Mengapa dokter tidak langsung saja memberi obat atau tindakan medis selanjutnya? Seberapa penting hasil pemeriksaan laboratorium itu berpengaruh terhadap tindakan pengobatan? Untuk menjawab beberapa pertanyaan tersebut, maka tentu Anda harus memahami terlebih dahulu apa itu laboratorium medik. Sekarang, dengan tugas Anda sebagai Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM), mengetahui apa itu laboratorium medik tentu menjadi sangat penting untuk meningkatkan mutu layanan Anda. laboratorium kesehatan. Dalam beberapa kondisi laboratorium medik juga biasanya dikenal hanya dengan istilah laboratorium saja. Maka tidak heran bila Anda berada di rumah sakit istilah yang tertulis pada nama ruangan hanya

“Laboratorium”. Tetapi pada beberapa rumah sakit yang cukup besar -dengan jumlah laboratorium yang cukup banyak- biasanya laboratorium ini juga memiliki nama-nama khusus tergantung dari jenis pemeriksaannya, seperti Laboratorium Mikrobiologi, Laboratorium Patologi, dan lain-lain.  Keberadaan laboratorium ini sangat penting untuk rumah sakit khususnya bagi para dokter dalam menentukan jenis dan cara pengobatan. Selain di rumah sakit, beberapa laboratorium medik juga dikelola secara mandiri/swasta. Fungsinya sama saja, hanya pengelolaannya yang berbeda. Untuk mengetahui bagaimana peran laboratorium dalam dunia kesehatan, maka Anda harus memahami terlebih dahulu tentang prinsip dasar laboratorium medik.

1.2 Tujuan

  1. Menjelaskan pengertian laboratorium medik
  2. Menjelaskan klasifikasi laboratorium medik
  3. Menjelaskan kebijakan laboratorium medik
  4. Mengaplikasikan etika bekerja di laboratorium medik

 

1.3 Manfaat

  1. Untuk menjelaskan pengertian laboratorium medik
  2. Untuk menjelaskan klasifikasi laboratorium medik
  3. Untuk menjelaskan kebijakan laboratorium medik
  4. Untuk mengaplikasikan etika bekerja di laboratorium medik

 

 

BAB II

ISI

 

2.1 Pengertian Laboratorium Medik

Menurut Permenkes RI No. 411/Menkes/Per/III/2010, Laboratorium Klinik adalah laboratorium kesehatan yang melaksanakan pelayanan pemeriksaan spesimen klinik untuk mendapatkan informasi tentang kesehatan perorangan terutama untuk menunjang upaya diagnosis penyakit, dan memulihkan kesehatan.

Definisi lain laboratorium klinik diberikan oleh  Seyoum (2006:14): laboratorium adalah tempat yang dilengkapi dengan berbagai instrumen, peralatan dan bahan kimia (reagen), untuk melakukan karya eksperimental, kegiatan penelitian dan prosedur pemeriksaan. Laboratorium medik merupakan salah satu bagian laboratorium yang dilengkapi dengan berbagai instrumen biomedis, peralatan, bahan dan reagen (bahan kimia) untuk melakukan berbagai kegiatan pemeriksaan laboratorium dengan menggunakan spesimen biologis (whole blood, serum, plasma, urine, tinja, dll).

Bila melihat kedua definisi di atas baik menurut Permenkes RI No. 411/Menkes/Per/III/2010  maupun menurut Seyoum, dapat dikatakan bahwa laboratorium klinik adalah sebuah tempat di mana di dalamnya terdapat instrumen, peralatan, serta bahan dan reagen yang digunakan untuk pemeriksaan laboratorium dengan menggunakan spesimen biologis sebagai penunjang diagnosis penyakit dan pemulihan kesehatan

 

2.2 Jenis dan Klasifikasi Laboratorium Medik

Laboratorium klinik umum adalah laboratorium yang melaksanakan pelayanan pemeriksaan spesimen klinik di bidang hematologi, kimia klinik, mikrobiologi klinik, parasitologi klinik, dan imunologi klinik. Contohnya adalah  Laboratorium Rumah Sakit.

Laboratorium klinik umum diklasifikasikan menjadi :

  • Laboratorium klinik umum pratama, yaitu laboratorium yang melaksanakan pelayanan pemeriksaan spesimen klinik dengan kemampuan pemeriksaan terbatas dengan teknik sederhana. Contohnya Laboratorium Puskesmas
  • Laboratorium klinik umum madya, yaitu laboratorium yang melaksanakan pelayanan pemeriksaan spesimen klinik dengan kemampuan pemeriksaan tingkat laboratorium klinik umum pratama dan pemeriksaan imunologi dengan teknik sederhana.Contohnya Laboratorium Rumah Sakit type C
  • Laboratorium klinik umum utama, yaitu laboratorium yang melaksanakan pelayanan pemeriksaan spesimen klinik dengan kemampuan pemeriksaan lebih lengkap dari laboratorium klinik umum madya dengan teknik automatik. Contohnya adalah Laboratorium Rumah Sakit Type A dan B

 

Laboratorium klinik khusus adalah laboratorium yang melaksanakan pelayanan pemeriksaan spesimen klinik pada 1 (satu) bidang pemeriksaan khusus dengan kemampuan tertentu.  Laboratorium klinik khusus diklasifikasikan menjadi :

  • Laboratorium mikrobiologi klinik, yaitu laboratorium yang melaksanakan pemeriksaan mikroskopis, biakan, identifikasi bakteri, jamur, virus, dan uji kepekaan.
  • Laboratorium parasitologi klinik, yaitu laboratorium yang melaksanakan pemeriksaan identifikasi parasit atau stadium dari parasit baik secara mikroskopis dengan atau tanpa pulasan, biakan atau imunoesai
  • Laboratorium patologi anatomi, yaitu laboratorium yang melaksanakan pembuatan preparat histopatologi, pulasan khusus sederhana, pembuatan preparat sitologi, dan pembuatan preparat dengan teknik potong beku.

 

2.3 Kebijakan Laboratorium Medik

  1. Jam kerja dan pekerjaan darurat laboratorium Sedapat mungkin harus ada jam kerja laboratorium yang pasti. Di laboratorium yang kecil tapi jumlah pasiennya banyak seringkali lebih sulit untuk mempertahankan jam kerja. Ini karena aliran rawat jalan yang besar dan sifat darurat sebagian besar pekerjaan. Di luar jam kerja normal, setiap laboratorium harus mengatur sistem untuk menguji spesimen yang mendesak.
  2. Rentang tes yang akan dilakukan dan yang harus dirujuk ke level yang lebih tinggi Dalam beberapa kasus, seringkali laboratorium tidak memiliki peralatan atau sumber daya yang memadai untuk melakukan pemeriksaan laboratorium. Hal ini memungkinkan dilakukannya pemeriksaan di laboratorium lain dengan kualifikasi yang lebih tinggi.

Rentang tes yang akan dilakukan bergantung pada:

  • Jumlah staf yang tersedia;
  • Ketersediaan sumber daya material;
  • Jenis institusi kesehatan (rumah sakit atau puskesmas);
  • Rujukan spesimen (jika perlu). Contoh, spesimen untuk deteksi HIV dan sampel air untuk analisis bakteriologis.
  1. Koleksi spesimen laboratorium

Koleksi specimen adalah pengumpulan, penanganan dan pengiriman spesimen medis. Berbagai jenis spesimen diterima setiap hari di laboratorium dan perlu diperhatikan beberapa rincian untuk memastikan spesimen yang tepat dikumpulkan. Contohnya spesimen dikumpulkan berdasarkan jenisnya dan jenis pemeriksaannya.

  1. Kapasitas beban kerja laboratorium

Kapasitas beban kerja harus disesuaikan dengan jumlah staf dan tingkat pelatihan, ukuran laboratorium dan ketersediaan fasilitas laboratorium. Idealnya, pekerjaan mikroskopik (yang universal untuk semua tingkat laboratorium) per hari tidak boleh melebihi total empat jam.  Bila jumlah pekerjaan yang diminta berada di luar kemampuan laboratorium, pengujian spesimen menjadi tidak dapat diandalkan dan ukuran pengamanan cenderung diabaikan. Di sisi lain, terlalu sedikit pekerjaan juga bisa menyebabkan hasil uji yang tidak dapat diandalkan karena kurang konsentrasi. Contohnya adalah Laboratorium Puskesmas dengan jumlah staf dan peralatan yang terbatas tidak dapat mengerjakan pemeriksaan laboratorium yang bersifat khusus seperti imunoserologi.

 

2.4 Kode Etik Profesi Laboratorium Medik

Kode etik di atas adalah beberapa sikap dan perilaku yang wajib Anda pahami dan laksanakan saat bekerja di laboratorium. Pada prakteknya, butir-butir tersebut dapat bertambah, disesuaikan dengan kondisi yang ada di masing-masing laboratorium tetapi tidak boleh dikurangi atau dihilangkan.

  1. Etika terhadap pasien dan keluarga, serta sejawat:
    • Tempatkan kesejahteraan dan pelayanan orang sakit di atas kepentingan Anda sendiri
    • Jangan mengungkapkan hasil pemeriksaan kepada pasien atau orang yang tidak
    • Bersikap simpatik dan berilah perhatian pada orang sakit dan keluarganya
    • Perlakukan hasil pemeriksaan dan informasi pasien Anda dengan kerahasiaan yang ketat.
    • Menghormati rekan kerja dan bekerja secara harmonis

 

  1. Etika terhadap profesi ATLM saat bekerja di laboratorium:
    • Jadilah loyal terhadap profesi laboratorium medis Anda dengan mempertahankan standar kerja yang tinggi dan dengan meningkatkan keterampilan dan pengetahuan profesional Anda.
    • Bekerja secara ilmiah dan dengan penuh kejujuran.
    • Jangan menyalahgunakan keahlian atau pengetahuan profesional Anda untuk keuntungan pribadi.
    • Jangan pernah mengambil sesuatu dari tempat kerja yang bukan milik Anda.
    • Mempromosikan perawatan kesehatan, pencegahan dan pengendalian penyakit.
    • Ikuti tindakan pencegahan dan ketahui bagaimana menerapkan pertolongan pertama pada kecelakaan di laboratorium.
    • Jangan mengkonsumsi alkohol atau bahan peledak lainnya selama jam kerja atau saat dalam keadaan siaga darurat.
    • Gunakan peralatan dan bahan di laboratorium dengan benar dan  hati-hati.
    • Jangan membuang reagen atau perlengkapan laboratorium lainnya sembarangan.

 

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1 Kesimpulan

Prinsip-prinsip dasar laboratorium medik menguraikan tentang hal-hal mendasar yang harus diketahui dan dipahami oleh seorang tenaga ahli laboratorium medik.  Prinsip-prinsip tersebut dimulai dari memahami pengertian laboratorium medik, mengetahui jenis dan klasifikasi laboratorium medik, mengetahui kebijakan laboratorium medik, dan melaksanakan kode etik profesi di laboratorium medikBerbagai kompetensi tersebut adalah kemampuan-kemampuan dasar yang harus dimiliki seorang ATLM (Ahli Teknologi Laboratorium Medik) saat  Anda bekerja di laboratorium medik.

 

3.2 Saran

Disini kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini memang masih banyak kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan baik dari segi bahasa, penulisan dan pengolahan, untuk itu penulis sangat mengharapkan kritikan, saran dan masukan yang sifatnya membangun. Atas saran dan kritikan penulis ucapkan terima kasih.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  • Permenkes RI No. 411/Menkes/Per/III/2010 tentang Laboratorium Klinik
  • Seyoum, B., (2006)Introduction to Medical Laboratory Technology, Haramaya University, Ethiopia Public Health Training Initiative (EPHTI)

 

 

 

 

Pengelolaan Memori, Cara Segmentasi dan Perbedaan dengan Paging

Makalah Sistem Operasi

Pengelolaan Memori Cara Segmentasi dan Perbedaan dengan Paging

  

 

Oleh :

201543500625 Pius Agustus Pradipta Aryana
201543500652 Dimas Aditya Husada
201543500634 Abda Permana
201543500631 Sri Maulidah
201543500663 Achmat Bahari

 

 


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS INDRAPRASTA PGRI

JAKARTA

2017

 

KATA PENGANTAR

 

Makalah ini merupakan salah satu syarat guna memperoleh nilai tugas dalam mata kuliah Sistem Operasi. Penulis ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu selesainya makalah ini. Untuk terwujudnya penulisan makalah ini sudah tentu penulis mandapat bantuan, bimbingan dan nasehat dari berbagai pihak.

Tidak lupa penulis ucapkan terima kasih kepada para cendekiawan yang ilmunya telah penulis petik dalam penulisan makalah ini. Penulis merasa bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Hal ini disebabkan karena keterbatasan dari penulis sendiri. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak apabila bersedia untuk memberikan sumbangsih berupa saran dan kritik demi perbaikan makalah ini. Besar harapan penulis makalah ini bisa bermanfaat bagi pihak-pihak yang berhubungan khususnya bagi pembaca. Amin.

Akhir kata penulis mohon maaf atas kekurangan serta kejanggalan baik isi maupun dalam teknik penyusunannya.

 

Jakarta,      November 2017

Penulis

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR.. ii

DAFTAR ISI. iii

DAFTAR GAMBAR.. v

DAFTAR TABEL.. vi

BAB   I    PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang. 1

1.2. Rumusan Masalah. 3

1.3. Tujuan. 4

1.4. Manfaat 4

BAB   II    PEMBAHASAN

2.1. Segmentasi 5

2.2. Konsep Dasar Segmentasi 5

2.3. Arsitektur Segmentasi 6

2.4. Pemeliharaan dan Pembagian. 9

2.5. Fragmentasi 10

2.6. Segmentasi dengan Pemberian Halaman (Paging) 11

2.6.1. MULTICS. 11

2.6.2. Intel 30386. 13

2.7. Kelebihan Segmentasi dengan Pemberian Halaman (Paging) 14

2.8. Perbedaan Segmentasi dengan Pemberian Halaman (Paging) 15

BAB   III  PENUTUP

3.1. Kesimpulan. 17

DAFTAR PUSTAKA.. 19

 

 

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1. Proses Pengelolaan Memori 2

Gambar 2.1. Pandangan user terhadap sistem segmentasi 6

Gambar 2.2. Arsitektur Segmentasi 7

Gambar 2.3. Implementasi Segmentasi 8

Gambar 2.4.  Contoh Segmentasi 9

Gambar 2.6.1. Skema Tranlasi Alamat Pada MULTICS. 12

Gambar 2.6.2. Skema Tranlasi Alamat Pada Intel 30386. 14

 

 

DAFTAR TABEL

 

Tabel 1.1. Kebutuhan Memori Pada Sistem Operasi Windows. 3

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1.       Latar Belakang

Salah satu aspek rancangan sistem operasi yang paling sulit adalah pengelolaan memori. Meskipun harga memori telah turun secara dramatis dan sebagai konsekuensinya berakibat pada ukuran memori pada mesin-mesin modern telah bertambah, yang telah mencapai range gigabyte, tidak akan pernah ada memori yang dapat menampung seluruh program dan struktur data yang diperlukan oleh proses-proses aktif dan oleh sistem operasi.

Oleh karenanya suatu tugas utama sistem operasi adalah untuk mengatur memori, yang meliputi tugas memasukkan (swap in) dan mengeluarkan (swap out) blok-blok data dari memori sekunder. Namun I/O memori merupakan operasi yang lambat dan kecepatan relatifnya terhadap waktu siklus instruksi prosessor semakin jauh tertinggal dari tahun ke tahunnya. Untuk menjaga agar prosesor agar tetap sibuk dengan tujuan efisiensi, maka sistem operasi harus dengan cerdik dapat mengatur swap in dan swap out sehingga dapat meminimalkan efek I/O memori terhadap kinerja. Sehingga dengan demikian secara umum memori utama harus diatur sebaik mungkin supaya:

  1. Meningkatkan utilitas CPU yang sebesar-besarnya.
  2. Data dan instruksi dapat diakses dengan cepat oleh CPU.
  3. Memori utama memiliki kapasitas yang sangat terbatas, sehingga pemakaian harus seefisien mungkin.
  4. Transfer data dari/ke memori utama ke/dari CPU dapat efisien.
  5. Memori merupakan pusat untuk operasi dari suatu operasi sistem komputer modern.

Memori adalah array yang besar dari suatu kata atau bytes, dimana setiap ukurannya memiliki alamat masing-masing. Di dalam sistem uniprogramming, memori utama dibagi menjadi dua bagian yaitu satu bagian untuk sistem operasi (resident monitor, kernel) dan satu bagian lainnya untuk program yang saat itu sedang dieksekusi. Sedangkan di dalam sistem multiprogramming bagian memori “pengguna” harus dibagi lagi untuk mengakomudasi proses yang jumlahnya banyak. Pembagian tersebut dilakukan secara dinamis oleh sistem operasi. Proses yang demikian dikenal dengan pengelolaan memori.

Dalam sistem multiprogramming manajemen memori yang sangat efektif merupakan suatu hal yang sangat utama. Jika hanya terdapat beberapa proses di dalam memori utama, maka sebagian besar waktu proses akan dipakai untuk menunggu I/O dan prosesor akan idle. Dengan demikian memori perlu dialokasikan secara efisien guna dapat menampung proses sebanyak mungkin ke dalam memori. Proses pengelolaan memori dapat dilihat pada ilustrasi gambar di bawah ini.

Gambar 1.1. Proses Pengelolaan Memori

Table di bawah ini menunjukan kebutuhan memori pada sistem operasi Windows dari Windows 1.0 sampai dengan Windows 10.

Sistem Operasi Tanggal Rilis Memori yang dibutuhkan Memori yang disarankan
Windows 1.0 November 1985 256 KB  
Windows 2.03 November 1987 320 KB  
Windows 3.0 Maret 1990 896 KB 1 MB
Windows 3.1 April 1992 2.6 MB 4 MB
Windows 95 Agustus 1995 8 MB 16 MB
Windows NT 4.0 Agustus 1996 32 MB 96 MB
Windows 98 Juni 1998 24 MB 64 MB
Windows ME September 2000 32 MB 128 MB
Windows 2000 Professional Februari 2000 64 MB 128 MB
Windows XP Home Oktober 2001 64 MB 128 MB
Windows XP Professional Oktober 2001 128 MB 256 MB
Windows Vista November 2006 512 MB 1 GB
Windows 7 Juli 2009 1 GB 2 GB
Windows 8 Agustus 2012 1 GB 4 GB
Windows 8.1 Agustus 2013 1 GB 4 GB
Windows 10 Juli 2015 1 GB 4 GB

Tabel 1.1. Kebutuhan Memori Pada Sistem Operasi Windows

1.2.       Rumusan Masalah

Sesuai dengan mata kuliah ini “Sistem Operasi” untuk menambah ilmu pengetahuan mahasiswa. Kami tuliskan rumusan masalah sebagai berikut :

  1. Apa yang dimaksud dengan pengelolaan memori secara segmentasi?
  2. Apa saja perbedaannya dengan pengelolaan memori secara paging?

1.3.       Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan penulisan makalah ini adalah:

  1. Agar mahasiswa memahami pengelolaan memori secara segmentasi.
  2. Agar mahasiswa mengetahui perbedaan pengelolaan memori secara segmentasi dengan pengelolaan memori secara paging.

1.4.       Manfaat

Adapun manfaat dari penulisan makalah ini adalah sebagai pengetahuan bagi pembaca tentang pengelolaan memori secara segmentasi dan perbedaannya dengan pengelolaan memori secara paging sebagai mata kuliah Sistem Operasi.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1.       Segmentasi

Segmentasi adalah skema pengelolaan memori dengan cara membagi memori menjadi segmen-segmen. Dengan demikian, sebuah program dibagi menjadi segmen-segmen. Segmen adalah sebuah unit logis, yaitu unit yang terdiri dari beberapa bagian yang berjenis yang sama. Contoh: program utama, variable lokal, prosedur dan sebagainya. Berbeda dengan paging, ukuran tiap segmen tidak harus sama dan memiliki ciri tertentu. Ciri tertentu itu adalah nama segmen dan panjang segmen. Nama segmen dirujuk oleh nomor segmen sedangkan panjang segmen ditentukan oleh offset.

2.2.       Konsep Dasar Segmentasi

Konsep segmentasi adalah user atau programmer tidak memikirkan sejumlah rutin program yang dipetakan ke main memori sebagai array linier dalam byte tetapi memori dilihat sebagai kumpulan segmen dengan ukuran berbeda-beda, tidak perlu berurutan diantara segment tersebut.

Segmentasi adalah skema manajemen memori yang memungkinkan user untuk melihat memori tersebut. Ruang alamat logika adalah kumpulan segmen. Setiap segmen mempunyai nama dan panjang. Spesifikasi alamat berupa nama segmen dan offset. Segment diberi nomor dan disebut dengan nomor segmen (bukan nama segmen) atau segment number. Segmen dibentuk secara otomatis oleh compiler.

Sebuah program adalah kumpulan segmen. Suatu segmen adalah unit logika seperti program utama, prosedur, fungsi, metode, obyek, variabel lokal, variabel global, blok umum, stack, tabel simbol, array dan lain-lain. Pandangan user terhadap sistem segmentasi dapat dilihat pada Gambar 2.1.

Gambar 2.1. Pandangan user terhadap sistem segmentasi

2.3.       Arsitektur Segmentasi

Ukuran tiap segmen tidak harus sama. Saat sebuah program atau proses dimasukkan ke CPU, segmen yang berbeda dapat ditempatkan dimana saja di dalam memori utama (dapat menggunakan cara first-fit atau best-fit).

Alamat logis dari sebuah segmen adalah alamat dua dimensi, sedangkan alamat fisik memori adalah alamat satu dimensi. Oleh karena itu, agar implementasinya menjadi mudah (dari alamat logis ke alamat fisik) diperlukan Tabel Segmen yang yang terdiri dari base dan limit. Base menunjukkan alamat awal segmen (dari alamat fisik) dan limit menunjukkan panjang segmen.

 

Gambar 2.2. Arsitektur Segmentasi

Alamat logika terdiri dari dua bagian yaitu nomor segmen (s) dan offset (d) yang dituliskan dengan:

<nomor segmen, offset>

Pemetaan alamat logika ke alamat fisik menggunakan tabel segmen (segment table), terdiri dari

  • Segmen basis (base) berisi alamat fisik awal
  • Segmen limit merupakan panjang segmen

Seperti tabel page, tabel segmen dapat berupa register atau memori berkecepatan tinggi. Pada program yang berisi sejumlah segmen yang besar, maka harus menyimpan tabel page di memori.

  • Segment-table base register (STBR) digunakan untuk menyimpan alamat yang menunjuk ke segment table.
  • Segment-table length register (STLR) digunakan untuk menyimpan nilai jumlah segmen yang digunakan program.
  • Untuk alamat logika (s, d), pertama diperiksa apakah segment number s legal (s < STLR), kemudian tambahkan segment number ke STBR, alamat hasil (STBR + s) ke memori dari segment table.

Perangkat keras yang digunakan pada sistem segmentasi dapat dilihat pada Gambar 2.3.

Pemetaan dari alamat logika ke alamat fisik membutuhkan 2 acuan memori untuk setiap alamat logika. Hal ini akan menurunkan kecepatan sistem dengan faktor 2. Solusi standar yang digunakan adalah dengan cache (atau associative register) untuk menyimpan entri tabel segmen yang sering digunakan. Pemetaan alamat logika ke alamat fisik dengan menggunakan tabel segmen dapat dilihat pada Gambar 2.4. Misalnya alamat logika dengan nomor segment 0 offset 88 akan dipetakan ke alamat fisik 1400 + 88 = 1488 karena offset < limit (88 < 1000). Alamat logika dengan nomor segmen 1 offset 412 akan terjadi error karena offset > limit (412 > 400). Alamat logika dengan nomor segmen 2 offset 320 akan dipetakan ke alamat fisik 4300 + 320 = 4620 karena offset < limit (320 < 400).

Gambar 2.3. Implementasi Segmentasi

Gambar 2.4Contoh Segmentasi

2.4.       Pemeliharaan dan Pembagian

Dengan dilakukannya pengelompokan antara segmen-segmen yang sama, maka pemeliharaan dari segmen tersebut dapat menjadi lebih mudah, walau pun didalam segmen tersebut sebagian berisi instruksi dan sebagian lagi berisi data. Dalam arsitektur modern, instruksi-instruksi yang digunakan tidak dapat diubah tanpa campur tangan pengguna, oleh karena itu, segmen yang berisi instruksi dapat diberi label read-only atau hanya dapat dijalankan saja. Perangkat keras yang bertugas untuk melakukan pemetaan ke memori fisik akan melakukan pemeriksaan terhadap bit proteksi yang terdapat pada segmen, sehingga pengaksesan memori secara ilegal dapat dihindari, seperti suatu usaha untuk menulis ke area yang berstatus tidak boleh dimodifikasi.

Keuntungan lain dari segmentasi adalah menyangkut masalah pembagian penggunaan kode atau data. Setiap proses mempunyai tabel segmennya sendiri, dimana ini akan digunakan oleh dispatcher untuk menentukan tabel segmen dari perangkat keras yang mana akan digunakan ketika proses yang bersangkutan di eksekusi oleh CPU. Segmen akan berbagi ketika anggota dari elemen tabel segmen yang berasal dari dua proses yang berbeda menunjuk ke lokasi fisik yang sama. Pembagian tersebut terjadi pada level segmen, maka, informasi apa pun dapat dibagi jika didefinisikan pada level segmen. Bahkan beberapa segmen pun dapat berbagi, sehingga sebuah program yang terdiri dari beberapa segmen pun dapat saling berbagi pakai.

2.5.       Fragmentasi

Penjadwalan jangka-panjang harus mencari dan mengalokasikan memori untuk semua segmen dari program pengguna. Situasi ini mirip dengan pemberian halaman kecuali bahwa segmen-segmen ini mempunyai panjang yang variabel; sedangkan pada halaman, semua mempunyai ukuran yang sama. maka, masalah yang dihadapi adalah pengalamatan memori secara dinamis, hal ini biasanya dapat diselesaikan dengan menggunakan algoritma best-fit atau algoritma first-fit.

Segmentasi dapat menyebabkan terjadi fragmentasi eksternal, ini terjadi ketika semua blok memori yang dapat dapat dialokasikan terlalu sedikit untuk mengakomodasi sebuah segmen. Dalam kasus ini, proses hanya harus menunggu sampai terdapat cukup tempat untuk menyimpan segmen tersebut di memori, atau, melakukan suatu pemampatan dapat digunakan untuk membuat ruang kosong dalam memori menjadi lebih besar. Karena segmentasi pada dasarnya adalah algoritma penempatan secara dinamis, maka kita dapat melakukan pemampatan memori kapan saja kita mau. Jika CPU Scheduler harus menunggu untuk satu proses, karena masalah pengalokasian memori, ini mungkin akan dilewati untuk mencari proses yang berprioritas lebih kecil untuk dieksekusi lebih dulu untuk membebaskan ruang kosong dalam memori.

Seberapa seriuskah masalah fragmentasi eksternal dalam segmentasi? Jawaban

dari pertanyaan ini tergantung kepada besarnya rata-rata segmen yang tersimpan didalam memori. Jika ukuran rata-rata dari segmen menggunakan sedikit tempat di memori, maka fragmentasi eksternal yang dilakukan juga akan sedikit terjadi.

2.6.       Segmentasi dengan Pemberian Halaman (Paging)

Metode segmentasi dan paging masing-masing memiliki keuntungan dan kerugian. Selain kedua metode itu ada metode pengaturan memori lain yang berusaha menggabungkan metode segmentasi dan paging. Metode ini disebut dengan segmentation with paging.

Dengan metode ini jika ukuran segmen melebihi ukuran memori utama maka segmen tersebut dibagi-bagi jadi ukuran-ukuran halaman yang sama ==> paging. Pada skema ini, skema paging dan segmentasi dikombinasikan. Kombinasi diilustrasikan menggunakan 2 arsitektur berbeda : MULTICS dan Intel 386 (OS/2).

2.6.1.      MULTICS

Pada sistem MULTICS, alamat logika dibentuk dari nomor segmen 18 bit dan offset 16 bit. Dengan ukuran segmen 64K word, setiap segmen terdiri dari 36 bit, rata-rata ukuran segmen dapat lebih besar dan fragmentasi eksternal menjadi permasalahan karena membutuhkan banyak ruang memori. Tetapi jika fragmentasi eksternal tidak menjadi permasalahan, waktu pencarian untuk mengalokasikan segmen dapat membutuhkan waktu yang lama.

Solusi yang diadopsi pada MULTICS adalah dengan melakukan paging pada segmen (page the segment). Paging menghilangkan fragmentasi eksternal dimana frame kosong dapat digunakan untuk page yang tepat. Setiap page terdiri dari 1K word.

Segment offset (16 bit) dibagi ke dalam nomor page 6 bit dan page offset 10 bit. Nomor page mengindeks ke tabel page untuk memberikan nomor framer. Nomor frame dikombinasikan dengan page offset menunjuk ke alamat fisik. Skema translasi alamat logika ke alamat fisik pada MULTICS dapat dilihat pada Gambar 2.6.1.

Nomor segmen (18 bit) dibagi ke dalam 8 bit nomor page dan 10 bit page offset, sehinga tabel page terdiri dari 28 entry sehingga alamat logika pada MULTICS adalah sebagai berikut :

s1 s2 d1 d2

8                            10                          6                          10

Dimana s1 adalah indeks ke tabel page dari tabel segmen dan s2 adalah displacement dalam page dari tabel segmen. d1 adalah displacement ke tabel page dari segmen yang tepat dan d2 adalah displacement ke alamat yang diakses.

Gambar 2.6.1. Skema Tranlasi Alamat Pada MULTICS

2.6.2.      Intel 30386

IBM OS/2 versi 32 bit adalah sistem operasi yang menggunakan arsitektur 30386 (dan 30486). Intel 30386 menggunakan segmentasi dengan paging untuk manajemen memori. Maksimum jumlah segment per proses adalah 16K. Setiap segmen maksimal berukuran 4 gigabytes. Ukuran page adalah 4K byte.

Ruang alamat logika dari suatu proses dibagi ke dalam 2 partisi :

  • Partisi 1 terdiri dari 8K segmen yang pribadi (private) untuk proses tersebut.
  • Partisi 2 terdiri dari 8K segmen yang digunakan bersama untuk semua proses

Informasi mengenai partisi pertama disimpan dalam local descriptor table (LDT) sedangkan informasi mengenai partisi kedua disimpan dalam global descriptor table (GDT). Setiap entry pada tabel LDT dan GDT terdiri dari 8 byte, dengan informasi detail tentang segmen tertentu termasuk lokasi basis dan panjang segmen. Alamat logika adalah pasangan (selector, offset), dimana selector sebanyak 16 bit.

s g p

13                                   1                     2

Dimana s menyatakan nomor segment, g menyatakan apakah segmen merupakan GDT atau LDT dan p menyatakan proteksi.

Karena setiap segmen adalah page dengan ukuran 4KB per page, sebuah page table terdiri dari 1 juta entri. Dan karena setiap entri terdiri dari 4 byte, setiap proses memerlukan 4MB ruang alamat fisik untuk tabel page saja. Solusi yang digunakan menggunakan skema two-level paging. Alamat linier dibagi ke dalam nomor page 20 bit, dan sebuah page offset 12 bit. Nomor page dibagi ke dalam 10 bit page directory pointer dan 10 bit page table pointer. Translasi alamat logika ke alamat fisik pada Intel 30386 lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 2.6.2.

Gambar 2.6.2. Skema Tranlasi Alamat Pada Intel 30386

2.7.       Kelebihan Segmentasi dengan Pemberian Halaman (Paging)

Sesuai dengan definisinya yang merupakan gabungan dari segmentasi dan paging, maka metode ini memiliki keunggulan yang dimiliki baik oleh metode segmentasi mau pun yang dimiliki oleh paging.

Tetapi selain itu segmentasi dengan pemberian halaman ini juga memiliki beberapa kelebihan yang tidak dimiliki oleh kedua metode tersebut. Kelebihan-kelebihan segmentasi dengan pemberian halaman antara lain:

  • Dapat dibagi.
  • Tidak ada fragmentasi luar.
  • Alokasi yang cepat.
  • Banyak variasinya.
  • Biaya kinerja yang kecil.

2.8.       Perbedaan Segmentasi dengan Pemberian Halaman (Paging)

Ada beberapa perbedaan antara Segmentasi dan Paging diantaranya adalah:

  1. Segmentasi melibatkan programer (programer perlu tahu teknik yang digunakan), sedangkan dengan paging, programer tidak perlu tahu teknik yang digunakan.
  2. Pada segmentasi kompilasi dilakukan secara terpisah sedangkan pada paging, kompilasinya tidak terpisah.
  3. Pada segmentasi proteksinya terpisah sedangkan pada paging proteksinya tidak terpisah.
  4. Pada segmentasi ada shared code sedangkan pada paging tidak ada shared code.
  5. Pada segmentasi terdapat banyak ruang alamat linier sedangkan pada paging hanya terdapat satu ruang alamat linier.
  6. Pada segmentasi prosedur dan data dapat dibedakan dan diproteksi terpisah sedangkan pada paging prosedur dan data tidak dapat dibedakan dan diproteksi terpisah.
  7. Pada segmentasi pengubahan ukuran tabel dapat dilakukan dengan mudah sedangkan pada Paging pengubahan ukuran tabel tidak dapat dilakukan dengan mudah.
  8. Segmentasi digunakan untuk mengizinkan program dan data dapat dipecahkan jadi ruang alamat mandiri dan juga untuk mendukung sharing dan proteksi sedangkan paging digunakan untuk mendapatkan ruang alamat linier yang besar tanpa perlu membeli memori fisik lebih.

 

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1.       Kesimpulan

Segmentasi adalah skema managemen memori dengan cara membagi memori menjadi segmen-segmen. Berbeda dengan page, ukuran tiap segmen tidak harus sama dan memiliki ciri tertentu, yaitu nama dan panjang segmen.

Ada beberapa perbedaan antara Segmentasi dan Paging diantaranya adalah:

  1. Segmentasi melibatkan programer (programer perlu tahu teknik yang digunakan), sedangkan dengan paging, programer tidak perlu tahu teknik yang digunakan.
  2. Pada segmentasi kompilasi dilakukan secara terpisah sedangkan pada paging, kompilasinya tidak terpisah.
  3. Pada segmentasi proteksinya terpisah sedangkan pada paging proteksinya tidak terpisah.
  4. Pada segmentasi ada shared code sedangkan pada paging tidak ada shared code.
  5. Pada segmentasi terdapat banyak ruang alamat linier sedangkan pada paging hanya terdapat satu ruang alamat linier.
  6. Pada segmentasi prosedur dan data dapat dibedakan dan diproteksi terpisah sedangkan pada paging prosedur dan data tidak dapat dibedakan dan diproteksi terpisah.
  7. Pada segmentasi pengubahan ukuran tabel dapat dilakukan dengan mudah sedangkan pada Paging pengubahan ukuran tabel tidak dapat dilakukan dengan mudah.
  8. Segmentasi digunakan untuk mengizinkan program dan data dapat dipecahkan jadi ruang alamat mandiri dan juga untuk mendukung sharing dan proteksi sedangkan paging digunakan untuk mendapatkan ruang alamat linier yang besar tanpa perlu membeli memori fisik lebih.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Silberschatz, Galvin, Gagne. 2009. Operating System Concepts: 8th Edition. John Wiley & Sons Inc, United States of America.

Stallings, William. 2012. Operating Systems: Internals and Design Principles 7th Edition. New Jersey. Prentice – Hall.

 

 

Makalah Hedonisme

HEDONISME

 

Makalah Ini Di Buat Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Etika Social

Dosen: Okky Tirto, M.Hum

 

Disusun Oleh: Dimas Prayoga

 

UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA INDONESIA

JAKARTA

2017

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin segala puji dan syukur saya panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa ta’ala, karena berkat rahmat dan karunia-Nya, saya dapat menyelesaikan makalah saya yang berjudul “Hedonisme” ini dengan baik.

Adapun tujuan saya menulis makalah ini yaitu untuk memenuhi salah satu tugas kuliah saya di dalam mata kuliah Etika Sosial dan juga agar kita mengerti definisi dan sejarah terlahirnya faham Hedonisme.

Saya menyadari masih terdapat banyak sekali kesalahan yang tanpa sengaja saya buat, baik dari segi kata maupun tata bahasa di dalam makalah ini. Untuk itu saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk kesempurnaan makalah saya selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.

 

 

Jakarta, 21 Maret 2017

Penulis,

Dimas Prayoga

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR.. i

DAFTAR ISI. ii

BAB I. 1

PENDAHULUAN.. 1

1.1      Latar belakang. 1

1.2      Rumusan Masalah. 2

1.3      Penyelesaian Masalah. 2

BAB II. 3

PEMBAHASAN.. 3

2.1      Sejarah Hedonisme. 3

2.2      Hedonisme Menurut Kaum Cyrenaic. 5

2.3      Hedonisme Menurut Kaum Epicurean. 8

2.4      Pengertian Kenikmatan Sadistis. 9

2.5      Tinjauan Kritis Terhadap Hedonisme. 12

BAB III. 14

PENUTUP.. 14

3.1      Kesimpulan. 14

DAFTAR PUSTAKA.. 15

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1         Latar belakang

Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Bagi para penganut paham ini, bersenang-senang, pesta-pora, dan pelesiran merupakan tujuan utama hidup, entah itu menyenangkan bagi orang lain atau tidak. Mereka beranggapan hidup ini hanya sekali, sehingga mereka merasa ingin menikmati hidup senikmat-nikmatnya.Di dalam lingkungan penganut paham ini, hidup dijalanani dengan sebebas-bebasnya demi memenuhi hawa nafsu yang tanpa batas. Saat orang sudah terbiasa dengan gaya hidupnya yang mewah sulit untuk orang mengubah hidupnya menjadi sederhana.

Hedonisme dikembangkan oleh dua orang filosof Yunani, Epicurus (341-270 SM) dan Aristippus of Cyrine (435-366 SM).Mereka berdualah yang dikenal sebagai perintis paham Hedonisme.Sebenarnya, dua filosof ini menganut aliran yang berbeda. Bila Aristippus lebih menekankan kepada kesenangan badani atau jasad seperti makan, minum, seksualitas, maka Epicurus lebih menekankan kepada kesenangan rohani seperti bebas dari rasa takut, bahagia, tenang batin, dan lain sebagainya. Namun, kedua-duanya berpendapat sama yaitu kesenangan yang diraih adalah kesenangan yang bersifat privat atau pribadi.

 

1.2         Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah sejarah terlahirnya faham Hedonisme?
  2. Bagaimanakah Hedonisme menurut kaum Cyrenaic?
  3. Bagaimanakah Hedonisme menurut kaum Epicurean?
  4. Apakah yang dimaksud kenikmatan Sadistis?
  5. Bagaimanakah tinjauan kritis terhadap Hedonisme?

1.3         Penyelesaian Masalah

  1. Untuk mengetahui sejarah Hedonisme.
  2. Untuk mengetahui Hedonisme menurut kaum Cyrenaic.
  3. Untuk mengetahui Hedonisme menurut kaum Epicurean.
  4. Untuk mengetagui apa yang dinamakan kenikmatan Sadistis.
  5. Untuk memahami tinjauan kritis terhadap Hedonisme.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1         Sejarah Hedonisme

Hedonisme sudah mucul sejak awal sejarah filsafat, yang timbul atas pertanyaan “apa yang menjadi hal terbaik bagi manusia”, kemudian para hedonis menjawab: kesenangan (hedone dalam bahasa Yunani). Adalah baik apa yang memuaskan keinginan kita, apa yang meingkatkan kuantitas kesenangan atau kenikmatan dalam diri kita.

Dalam filsafat Yunani hedonisme sudah di temukan pada Aristippos dari Kyrene (sekitar 433-355 SM), seorang murid Sokrates. Sokrates telah bertanya tentang tujuan terakhir bagi kehidupan manusia atau apa yang sungguh-sungguh baik bagi manusia, tapi ia sendiri tidak memberkan jawaban yang jelas atas pertanyaan itu dan hanya mengkritik jawaban-jawaban yang di kemukakan oleh orang lain. Hal itu terbukti karena sudah sejak masa kecilnya manusia merasa tertarik akan kesenangan dan bila telah tercapai ia tidak mencari sesuatu yang lain lagi. Sebaliknya, ia selalu menjauhkan diri dari ketidaksenangan. Bagi Aristippos kesenanggan itu bersifat badani belaka, karena hakikatnya tidak lain daripada gerak dalam badan. Mengenai gerak itu ia membedakan tiga kemungkinan: gerak yang kasar dan itulah ketidaksenangan, misalnya rasa sakit; gerak yang halus dan itulah kesenangan; sedangkan tiadanya gerak merupakan suatu keadaan netral, misalnya, jika kita tidur. Aristippos menekankan lagi bahwa kesenangan harus dimengerti sebagai kesenangan aktual, bukan kesenangan dari masa lampau dan kesenangan di masa mendatang. Yang baik dalam arti yang sebenarnya adalah kenikmatan kini dan disini. Jika kita melihat pandangan Aristppos ini sebagai keseluruhan, perlu kita simpulkan bahwa ia mengerti kesenangan sebagai badani, aktual, dan individual.

Akan tetapi, ada batas untuk mencari kesenangan. Aristippos pun perlunya pengendalian diri, sebagaimana sudah diajarkan oleh gurunya, Sokrates. Dalam pada itu mengakui pengendalian diri tidak sama dengan meninggalkan kesenangan. Yang penting ialah mempergunakan kesenangan dengan baik dan tidak membiarkan dir terbawa olehnya, sebagaimana menggunakan kuda atau perahu tidak berarti meninggalkannya, tapi menguasainya menurut kehendak kita.

Filsuf Yunani lain yang melanjutkan hedonism adalah Epikuros (341-270 SM), yang memimpin sebuah sekolah filsafat di Athena. Epikuros pun melihat kesenangan (hedone) sebagai tujuan kehidupan manusia. Menurut kodratnya setiap manusia mencari kesenangan, tapi pengertiannya tentang kesenangan lebih luas daripada pandangan Aristippos. Walaipun tubuh manusia merupakan “asas serta akar” segala kesenangan dan akibatnya kesenangan badani harus di anggap paling hakiki, namun Epikuros mengakui adanya kesenangan melebihi tahap badani. Dalam sepucuk surat ia menulis: “Bila kami mempertahankan bahwa kesenangan adalah tujuannya, kami tidak maksudkan kesenangan indrawi, tapi kebebasan dari nyeri dalam tubuh kita dan kebebasan dari keresahan dalam jiwa” (Surat kepada Menoikeus). Dalam menilai kesenangan, menurut Epikuros kita harus memandang kehidupan sebagai keseluruhan termasuk juga masa lampau dan masa depan.

Biarpun pada dasarnya setiap kesenangan bisa dinilai baik, namun berarti bahwa setiap kesenangan harus dimanfaatkan juga. Dalam hal ini pentinglah pembedaan yang diajukan Epikuros antara tiga macam keinginan: keinginan alamiah yang perlu (seperti makanan), keinginan alamiah yang tidak perlu (seperti makanan yang enak), dan keinginan yang sia-sia (seperti kekayaan). Hanya keinginan macam pertama harus di puaskan dan pemuasnya secara terbatas menghasilkan kesenangan paling besar. Karena itu Epikuros menganjurkan semacam “pola hidup sederhana”. Orang bijaksana akan berusaha sedapat mungkin hidup terlepas dari keinginan. Dengan demikian manusia akan mencapai ataraxia, ketenangan jiwa atau keadaan jiwa seimbang yang tidak membiarkan diri terganggu oleh hal-hal yang lain. Ataraxia begitu penting bagi Epikuros, sehingga ia menyebutnya juga tujuan kehidupan manusia (di samping kesenangan). Ataraxia berperanan bagi jiwa, seperti kesehatan bagi badan. Orang bijaksana yang memperoleh ketenangan jiwa itu akan berhasil mengusir segala macam ketakutan (untuk kematian, dewa-dewa dan suratan nasib), menjauhkan diri dari kehidupan politik dan menikmati pergaulan dengan sahabat-sahabat.[1]

2.2         Hedonisme Menurut Kaum Cyrenaic

Mazhab yang pertama kali mengangkat filsafat hedonisme ialah kaum Cyrenaic, dinamai dengan tempat lahir pendiri mazhab tersebut Aristppos dari Cyrenaic, sebuah kota Yunani yang terletak di lokasi yang kini bernama Libya. Kaum Cyrenaic meyakini bahwa kepuasan merupakan kebaikan alamiah. Dengan demikian, kepuasan, dan hanya kepuasan, yang secara universal diakui oleh seluruh umat manusia sebagai hal yang di hasratkan. Sebaliknya, rasa sakit adalah keburukan alamiah, sesuatu yang secara luas dipahami sebagai hal yang tidak di hasratkan. Dengan demikian pernyataan yang menyatakan bahwa kehidupan yang baik adalah  kehidupan yang mengandung sebanyak mungkin kepuasan dan sesedikit mungkin rasa sakit, merupakan pernyataan yang tampaknya dapat disepakati oleh manusia dari beragam masa dan budaya. Inilah kekuatan dari pernyataan yang  menyebutkan bahwa kepuasan adalah hal alamiah dan bukan sebuah kebaikan konvensional, sedangkan rasa sakit adalah keburukan alamiah.

Dengan cara demikian, kepuasan dan rasa sakit sangat berbeda dari hal-hal seperti kehormatan dan rasa malu. Perbedaan tersebut memiliki dua aspek. Yang pertama, kehormatan tidak dianggap sebagai kebaikan universal sedangkan rasa malu tidak dianggap sebagai keburukan universal. Dalam beberapa kebudayaan, misalnya, orang-orang memiliki sentimen kuat terhadap kehormatan keluarga dan menganggap segala hal yang dapat mencemari nama keluarga sebagai hal yang menakutkan. Dalam kebudayaan lainnya, orang-orang tidak memiliki sentimen semacam itu. Yang kedua, anggapan mengenai hal-hal yang penuh kehormatan dan hal-hal yang memalukan adalah konsep yang berbeda menurut beragam kebudayaan. Jika hal-hal yang menimbulkan rasa sakit berlaku dalam semua budaya, hal-hal yang menyebabkan rasa malu dalam sebuah lingkungan bisa saja tidak menyebabkan rasa malu dalam lingkungan yang lain. Sekedar contoh, di beberapa tempat, hamil sebelum menikah di pandang sebagai hal yang mengerikan. Namun di tempat lain, hal yang di anggap mengerikan adalah meningkatnya gejala penyakit kanker. Penyebabnya barangkali adalah, tidak seperti kepuasan dan rasa sakit, gagasan-gagasan yang melatari pencarian kehormatan dan penghindaran rasa malu seringkali hancur di hadapan konsepsi kehidupan yang sangat berbeda. Kita dapat menolak gagasan yang menyataakan bahwa hamil di luar nikah adalah hal yang memalukan, namun kita tidak dapat membantah fakta bahwa pertumbuhan kanker menyebabkan rasa sakit. Demikian juga, kehormatan dan rasa malu adalah nilai yang sangat bergantung dengan adat istiadat suatu daerah dan masa tertentu. Novel karya Nathaniel Hawthorne The Scarlet Woman, yang berkisah tentang seorang ibu tidak menikah di lingkungan New England yang puritan, menggambarkan dalam kehidupan Inggris kontemporer di mana 40% kelahiran bayi terjadi di luar ikatan pernikahan. Sebaliknya, kata nilai-nilai alamiah tetap memiliki arti seperti adanya.

Dua contoh tersebut di atas menunjukan bahwa rasa sakit dan kepuasan berbeda dengan nilai-niai lain. Inilah yang menyebabkan keduanya di sebut sebagai kebaikan dan keburukan “alamiah”, sebuah ciri yang seolah memosisikan hedonisme di atas filsafat nilai lainnya. Atau demikianlah yang ada dalam benak Cyrenaic dan kalangan lain. Inilah persoalan yang akan kembali kita kaji, namun pertama-tama kita harus membahas persoalan lain terlebih dahulu. Jika kita menerima bahwa kepuasan (kenikmatan) adalah satu-satunya kebaikan sehingga pemahaman ini memberi kita pembenaran untuk terus mengejar kepuasan dan menyingkirkan rasa sakit dan bahkan menjadikan hal ini sebagai tujuan utama kehidupan kita, maka kita masih harus menjawab pertanyaan berikut: cara hidup seperti apa yang bisa memberikan kepuasan paling tinggi? Menurut Cyrenaics, yang menganut hedonisme popular, kehidupan terbaik adalah kehidupan yang bisa memenuhi kepuasan jasmaniah-makan, minum, seks dan lainnya. Pandangan semacam ini masih dianut hingga saat ini. Namun jika kita perhatikan secara serius, kita akan mendapati bahwa meski kepuasan dan rasa sakit barangkali berlawanan, namun kebaikan dan keburukan, biasanya saling menyertai. Oleh karena itu, pengejaran kepuasan jasmani juga akan mengundang rasa sakit jasmani.

Sekedar contoh, kepuasan akan makanan bergantung akan selera makan, yang tidak lain adalah rasa lapar. Hanya dengan menderita (setidaknya sedikit) perihnya rasa lapar, kita baru bisa merasakan kenikmatan makanan. Demikian juga, banyak orang menemukan kepuasan dan kenikmatan saat mabuk berat, namun mabuk biasanya juga disertai dengan rasa mual, pusing, dan rasa sakit saat bangun pagi. Atau juga suntikan heroin dianggap sebagai cara untuk membangkitkan sensasi jasmani dan mental yang tertekan. Namun penggunaan heroin juga menyebabkan pengguna mati rasa sehingga orang yang berada dalam pengaruh heroin sering kali melukai diri mereka sendiri dan menderita rasa sakit sehingga pada akhirnya mereka tidak nyaman. Demikian juga dengan seks. Sementara orang (seringkali juga kita semua) mendapati sesuatu yang di sebut sebagai kenikmatan seks bebas. Namun ketika menjerumuskan diri kedalamnya  kita harus bersedia menerima resiko terkena VD, herpes, AIDS, dan penyakit lain yang tidak jarang menyebabkan kematian. Bahkan bentuk gratifikasi seksual yang relatif aman-pertunjukan porno dan film, misalnya-lazimnya memiliki efek buruk.

Dengan demikian, kehidupan ideal dalam versi Cyrenaics hanya menarik secara teorits, tidak secara riil. Jika kita mempertimbangkan secara serius, kita akan dapat melihat bahwa ideal semacam itu mustahil direalisasikan sehingga tidak bisa dianggap sebagai hal ideal. Inilah hal penting yang perlu ditekankan. Orang-orang yang bisa menerima dengan mudah perinah-perintah moral atau merasa tidak nyaman “kebahagiaan” kesalehan religius, seringkali memiliki kecurigaan bahwa perintah moral tersebut hanya mengekang kebebasan sehingga kita semua lebih baik memilih kehidupan yang penuh kenikmatan. Namun, seperti yang telah kita lihat, masih belum jelas apakah benar bahwa kehidupan penuh kebebasan tersebut bisa di wujudkan, meski tidak ada konvensi dan kekangan sosial. Terdapat banyak contoh untuk menjelaskan soal ini. Salah satunya adalah ketamakan. Ketamakan tidak lagi dianggap sebagai dosa, namun seseorang yang makan dengan rakus demi mengejar kenikmatan dia akan menderita obesitas dan merupakan target empuk dari berbagai penyakit yang menyertainya. Contoh lain adalah merokok. Banyak orang merokok karena merasakan kenikmatannya, namun sekali lagi ekses dari tindakan tersebut bisa menyebabkan penyakit, penyakit paru-paru dan jantung yang tidak bisa disembuhkan. Terkadang, orang yang menderita penyakit berbahaya karena kecanduan rokok atau kebanyak makan berpikir bahwa kenikmatan yang mereka kejar tidak akan menyebabkan hal yang mematikan, namun ini tidak menyanggah kesimpulan bahwa kehidupan yang hanya mengejar rasa puas dan penolakan rasa sakit mustahil diwujudkan.[2]

2.3         Hedonisme Menurut Kaum Epicurean

Meski demikian kemustahilan tersebut bukanlah konsekuensilogis namun hanya kontingen. Dalam hal ini tidak ada hubungan langsung antara mabuk dan rasa sakit ketika bangun di pagi hari atau seks bebas dan AIDS. Kenikmatan-kenikmatan tersebut menyebabkan rasa sakit hanya karena begitulah dunia menganggapnya. Implikasi ini menunjukkan kelemahan konsepsi kehidupan yang baik menurut kaum Cyrenaic yang tidak memberikan tempat terhormat pada kenikmatan, namun karena mereka hanya memberikan tempat terhormat pada jenis kenikmatan tertentu, yaitu kenikmatan jasmani, inilah yang diamati oleh filusuf Yunani kuno bernama Epikuros yang namanya diabadikan sebagai nama dari salah satu jenis hedonisme-Epicureanisme (kita tahu bahwa penamaan ini agak keliru karena sebenarnya minat utamanya adalah ada persoalan filosofis lain).

Hedonisme versi Epicurean ini bisa kita temukan dalam perkataan sehari-hari. Seorang “epicurean” adalah seseorang yang menikmati hal-hal baik dari kehidupan-anggur yang baik, makanan yang baik, perusahaan yang baik, model pakaian elegan dan lainnya-dan menggunakan kata ini merefleksikan pandangan kaum Epicurean yang menyatakan bahwa jika kehidupan dipenuhi dengan kenikmatan yang, lazimnya, tidak disertai rasa sakit. Dengan demikian, kenikmatan-kenikmatan tersebut merupakan kenikmatan yang relatif lembut dan halus-anggur yang baik namun tidak terlalu banyak, makanan lezat yang menarik bagi para pencicip rasa masakan bukan para penggemar masakan, music dan drama yang bagus namun yang tidak mengurangi emosi, dan sebagainya. Faktanya, seperti diindikasikan oleh contoh-contoh tersebut, filsafat kenikmatan dan hidup yang baik menurut Epicurean sangat berbeda dengan konsepsi umum mengenai hedonisme karena filsafat ini tidak mengandung sifat yang berlebihan. Alih-alih filsafat tersebut justru menuntut para penganutnya untuk menjauhi banyak hal yang oleh banyak orang dianggap sebagai kenikmatan.

Tentu saja, hal itu karena filsafat tersebut menyatakan bahwa hanya kenikmatan-kenikmatan lembut dan halus yang tidak disertai rasa sakit yang bisa mengisi kehidupan. Namun, pada saat yang sama, muncul pertanyaan apakah bisa disebut  kenikmatan jika ternyata masih ada batasan. Secara alamiah, kita tidak membatasi diri kita untuk meminum satu atau dua gelas anggur terbaik. Sementara ada banyak orang yang justru mendapat kenikmatan saat mendengarkan kegaduhan dan irama music rock dan Heavy Metal ketimbang ketika mendengarkan harmoni memikat dari komposisi Minuet karya Boccherini. Ini memunculkan pertanyaan penting. Jika Epicureanisme mengajukan kenikmatan yang harus kita pelajari untuk mendapatkannya, dapatkah Epicureanisme mengklaim seruan “alamiah” yang justru merupakan keunggulan hedonisme dari filsafat lainnya? Dalam Epicurean, ekses-ekses hedonisme Cyrenaic dikurangi. Namun, jika Epicureanisme meminta kita untuk melepaskan kenikmatan dan rasa sakit “alamiah”, maka kenikmatan yang didapat lebih kecil ketimbang kehilangan.[3]

2.4         Pengertian Kenikmatan Sadistis

Kaum hedonis akan mengatakan  bahwa pembuktian tentang kekeliruan filsafat mereka hanya akan berhasil jika kita menerima salah satu premis yang merupakan argument Mill, yaitu ketidakpuasan hidup Socrates lebih baik ketimbang kepuasan yang di dapat Babi. Namun barangkali kita tidak perlu menerima hal ini. Alih-alih,seorang hedonis yang konsisten juga tidak harus menerimanya. Jika kenikmatan merupakan satu-satunya kebaikan alamiah, kehidupan seperti apa pun yang dipenuhi dengan kenikmatan akan sama baiknya dengan kehidupan lainnya, dan lebih baik dari kehidupan yang dipenuhi rasa sakit dan ketidakpuasan. Menerima hal ini berarti menerima hal itu, berlawanan dengan apa yang dipikirkan Mill dan barangkali oleh banyak orang, Socrates memiliki argumen untuk iri pada sang Babi karena Babi tersebut menjalani kehidupan yang lebih baik. Fakta bahwa kita maupun Socrates, sesuai dengan kemampuan dan minat kita, tidak akan menemukan kenikmatan dalam kehidupan yang di jalani sang Babi menyebabkan kita berfikir secara salah bahwa kehidupan sang Babi tersebut bukanlah kehidupan yang baik. Namun dari sudut pandang hedonis, itulah kehidupan yang baik karena dipenuhi dengan kenikmatan dan kenikmatan merupakan satu-satunya kesenangan alamiah. Tentu saja, kehidupan manusia yang dipenuhi kenikmatan akan diisi dengan lebih banyak aktivitas dari pada kehidupan yang dijalani sang babi, namun kehidupan tersebut tidak akan berisi kenikmatan lagi sehingga tidak akan menjadi lebih baik. Dengan demikian, hedonisme menolak kesulitan dalam konsep Mill mengenai kenikmatan tinggi dan rendah dengan cara menolak pembedaan kebaikan dalam beragam jenis kenikmatan.

Penolakan semacam itu membuat kita kembali pada perdebatan antara Socrates dan Callicles pada fakta yang menunjukan bahwa, sejauh pemuasan keinginan terus berjalan, tidak terdapat perbedaan antara orang-orang yang berhasil dalam menuntut tugas yang mereka canangkan sendiri, dan orang-orang yang berhasil dalam menjalani kehidupan yang vulgar dan malas yang memang minat utama mereka. Dalam hal ini, fakta ini dapat dengan mudah dihubungkan dengan kenikmatan. Jika kenikmatan adalah segala hal seperti itu, kita tidak dapat menilai preferensi kenikmatan yang didapat oleh seorang ahli bedah ketika berhasil menyelamatkan hidup seorang anak melalui operasi, atas kenikmatan yang di dapat oleh seorang sadis ketika melihat kesakitan dari hewan yang ia siksa. Namun, jelas bahwa terdapat perbedaan penting di antara keduanya.

Contoh tersebut adalah contoh yang saya buat sendiri, namun ketika Socrates memberikan perbedaan kontras antara kenikmatan heroik dan vulgar di hadapan Callicles, dia menerima bahwa dalam hal ini terdapat perbedaan yang harus di jelaskan. Penerimaan inilah yang menyebabkan kekalahannya. Jika dia tidak menerima pembedaan ini, perdebatan tersebut akan berbeda. Demikian juga, jika seorang hedonis berkeras bahwa seorang penyiksa memndapatkan kenikmatan yang sama banyaknya dengan seorang dokter, sang penyiksa dan dokter sama-sama menjalani kehidupan yang baik, sehingga konsepsi yang membedakan keduanya tidak dapat meruntuhkan tesis kaum hedonis. Seorang hedonis yang konsisten tidak memiliki persoalan yang dimiliki Callicles.

Bagi sebagian orang, fakta ini menunjukan betapa rendahnya filsafat hedonisme. Namun dalam terma kogensi filsafat, tidak ada pembuktian bagi hal itu. Pertama, kita mencatat bahwa kaum hedonis tidak merekomendasikan penyiksaan sebagai jalan hidup. Demikian juga hedonisme tidak egoistis, dalam artian tidak hanya memperdulikan kenikmatan seseorang. Kaum hedonis menyetujui bahwa hidup korban penyiksaan adalah kehidupan yang buruk. Sebaliknya, sesuai dengan pandangan kaum hedonis bahwa rasa sakit adalah keburukan alamiah, merka akan menegaskan hal ini. Mereka memandang bahwa jika psikologi seseorang adalah abnormal, maka tidak diragukan lagi dia akan menikmati penyiksaan seperti halnya sebagian besar dari kita menikmati aktivitas favorit kita, sehingga kehidupannya sama nikmatnya dengan kehidupan kita. Namun, bahkan seorang hedonis pun akan ragu untuk memberikan dukungan pada kehidupan yang dijalani seorang penyiksa, karena kehidupan seorang penyiksa menyebabkan banyak rasa sakit dan penderitaan. Namun sulit untuk melihat bahwa kaum hedonis menyangkal fakta ini; bahwa sang penyiksa mendapat banyak kenikmatan dari tindakannya.

Poin terakhir inilah yang menghilang di hadapan kebijaksanaan ketika kaum hedonis menyatakan bahwa seorang sadis mendapatkan kenikmatan dari aktivitasnya yang menyakitkan tidak berarti bahwa hal itu menggeser seluruh keseimbangan dari negatif menjadi positif, mereka harus menganggap ini sebagai poin dari sisi plus; akan menjadi lebih buruk jika tidak ada kenikmatan untuk mengimbangi rasa sakit sang korban.sebaliknya, bagi sebagian besar orang, fakta yang sama menjadikan aktivitas pelaku sadisme menjadi lebih buruk, bukan lebih baik. Jika diaplikasikan pada kasus ini, hedonisme bertentangan dengan kebijaksanaan konvensional dan tidak menyenangkan bagi nalar normal. Namun sekedar fakta mengenai suatu pandangan atau pandangan lain yang tidak konvensional atau tidak populer tidak lantas menunjukan bahwa hal itu salah. Orang yang pertama kali menyatakan bahwa bumi tidak datar  juga menolak kebijakan konvensional. Untuk dapat menolak hedonisme sebagai filsafat nilai, di butuhkan hal yang lebih daripada contoh-contoh intuitif seperti yang telah kita sebutkan. Agar dapat menentukan pembenaran yang paling substansial, kita harus mengkaji seorang filsuf Yunani lainnya, Aristotle.[4]

2.5         Tinjauan Kritis Terhadap Hedonisme

Apakah manusia selalu mencari kesenangan? Apakah manusia (tapi malaikat atau apa…), jika ia tidak mencari kesenangan? Apakah tidak mungkin juga manusia yang membaktikan hidupnya demi kebaikan orang lain, dengan niat murni dan tanpa pamrih? Tentu saja, para hedonis selalu bisa mengatakan bahwa mereka pada akhirnya menderita, para hedonis bisa saja mengatakan bahwa mereka pada akhirnya melakukan hal itu untuk mencari kesenangan, untuk dipuji oleh khalayak ramai, untuk meraih Hadiah Nobel (dan ternyata berhasil) atau sekurang-kurangnya untuk memperoleh kebahagiaan kekal di surga sebagai pahala atas segala jerih payahnya di bumi ini. Atau para hedonis bisa menegaskan bahwa membantu orang lain selalu juga menyenangkan, karena “lebih baik memberi daripada menerima”.

Kritik lebih berat lagi adalah bahwa dalam argumentasi hedonisme terdapat loncatan yang tidak dipertanggungjawabkan. Dari angggapan bahwa dalam kodrat manusia adalah mencari kesenangan (yang menurut hemat kami dapat dipertanyakan lagi), ia sampai pada menyetarafkan kesenangan dengan moralitas yang baik. Secara logis hedonisme harus membatasi diri pada suatu etika deskriptif saja (pada kenyataannya kebanyakan manusia membiarkan tingkahlakunya dituntun oleh kesenangan), dan tidak boleh merumuskan suatu etika normatif (yang baik secara moral adalah mencari kesenangan). Para hedonis mempunyai konsepsi yang salah tentang kesenangan. Mereka berpikir bahwa sesuatu adalah baik, karena disenangi. Akan tetapi, kesenangan tidak merupakan suatu perasaan yang subyektif belaka tanpa acuan obyektif apapun. Sebenarnya kesenangan adalah pantulan subyektif dari suatu yang obyektif. Sesuatu tidak menjadi baik karena disenangi, tapi sebaliknya kita merasa senang karena memperoleh atau memiliki sesuatu yang baik. Kita menilai sesuatu sebagai baik karena kebaikannya yang intrinsic, bukan karena kita secara -subyektif belaka- menganggap hal itu baik. Jadi, kebaikan dari apa yang menjadi obyek kesenangan mendahului dan diandaikan oleh kesenangan itu.[5]

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1         Kesimpulan

Hedonisme atau pandangan yang menyamakan “baik secara moral” dengan “kesenangan” tidak saja merupakan suatu pandangan pada permulaan sejarah filsafat, tetapi di kemudian hari seiring kembali dalam belbagai variasi. Tendensi hedonistis terutama tampak dalam filsafat moral Inggris. Filsuf Inggris, John Locke (1632-1704), misalnya, akan menandaskan: “kita sebut baik apa yang dapat menyebabkan atau meningkatkan kesenangan, atau mengurangi ketidaksenangan dalam diri kita; sebaliknya, kita namakan jahat apa yang dapat mengakibatkan atau meningkatkan ketidaksenangan apa saja atau mengurangi kesenangan apa saja dalam diri kita “. Hedonisme yang menjiwai pemikiran modern itu mengakui dimensi sosial sebagai faktor tidak bisa disingkirkan.

Dalam dunia modern sekarang ini rupanya hedonisme masih hadir dalam bentuk lain. Hedonisme merupakan “etika implisit” yang mungkin tanpa disadari dianut oleh banyak individu dewasa ini. pada kenyataannya mereka berpegang pada prinsip-prinsip hedonistis. Seandainya mereka berusaha merumuskan secara eksplisit pandangan etis yang terkandung dalam tingkah laku spontan, mereka akan sampai pada suatu hedonisme yang agak mirip dengan  pendapat kedua filsuf Yunani tadi. Dan bukan saja pada taraf individual hedonisme tersembunyi ini dapat ditemukan, dalam masyarakat luas pun hedonisme tidak absen. Jika kita menganalisis publisitas periklanan dalam masyarakat yang disebut konsumeristis sekarang ini, rasanya tidak terlalu sulit untuk menunjukan dibelakangnya cita-cita hedonisme.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Bertens, K. 2013. Etika. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

Graham, Gordon. 2014. Teori-Teori Etika. Bandung: Penerbit Nusa Media

[1] K. Bertens, Etika (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2013), hlm. 183-185.

[2] Gordon Graham, Teori-Teori Etika (Bandung: Penerbit Nusa Media, 2014), hlm. 56-60.

[3] Gordon Graham, Teori-Teori Etika (Bandung: Penerbit Nusa Media, 2014), hlm. 60-61.

[4] Gordon Graham, Teori-Teori Etika (Bandung: Penerbit Nusa Media, 2014), hlm. 67-70.

[5] K. Bertens, Etika (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2013), hlm. 185-187.

 

 

Aplikasi Jaringan Multimedia

Contoh Aplikasi Multimedia Networking

 

Aplikasi multimedia networking biasanya berguna sebagai media untuk mengirimkan file atau mengirimkan paket data yang memuat data baik itu audio maupun video. Aplikasi multimedia networking juga sering disebut dengan continues-media applications, karena pengirimannya yang secara real-time dan terus menerus. Meskipun bisa mengirimkan paket data yang memuat file, bukan berarti aplikasi multimedia ini tidak memiliki kelemahan, kelemahan pada multimedia networking ini terletak pada sifatnya yang sensitif.

Untuk mengetahui lebih dalam tentang aplikasi multimedia networking, ini adalah contoh aplikasi multimedia yang terbagi menjadi beberapa aplikasi multimedia. Berikut contoh aplikasi multimedia networking :

 

  1. Streaming Stored Audio/Video

Pada aplikasi jenis ini client melakukan request-on-demand terhadap file audio atau video terkompresi yang telah tersimpan pada server. Client baru bisa memulai untuk memainkan data audio/video yang dimintanya dan pada saat itu juga client menerima data dari server secara terus menerus.

Contoh aplikasi :

  • Youtube : http://www.youtube.com/

YouTube adalah sebuah situs web dan aplikasi yang memungkinkan pengguna mengunggah, menonton, dan berbagi video

  • Realplayer : http://www.real.com/id

Realplayer adalah salah satu perangkat lunak (software) yang digunakan untuk memainkan streaming audio dan video melalui internet secara real-time.

  • Myspace : https://myspace.com/

Myspace adalah sebuah layanan streaming untuk konten video, musik, dan radio. konten-konten yang dihadirkan memang lebih mengutamakan konten yang berhubungan dengan dunia musik.

  • Vidio : https://vidio.com/

Vidio.com adalah situs berbagi video yang asli buatan Indonesia dengan menarik banyak pengguna untuk menonton berbagai video, video musik, video travel, video blog dan lainnya.

 

  1. Streaming Live Audio/Video

Pada aplikasi jenis ini memiliki struktur yang mirip dengan penyiaran radio dan televisi, kecuali untuk transmisi yang menggunakan jaringan internet. Penggunaanya yang secara bersamaan menerima audio/video secara real-time. Aplikasi dari jenis ini tidaklah interaktif. Seperti contohnya seorang client tidak dapat melakukan kontrol server dalam mengirimkan data.

Contoh aplikasi :

  • Youtube TV : https://tv.youtube.com/

Youtube TV adalah fitur yang dimilki youtube dengan pengembangan agar pengguna dapat menonton secara real-time dari berbagi penjuru dunia.

  • Bigo Live : https://www.bigo.tv/

Bigo Live adalah situs web dan aplikasi secara live broadcast dengan mempertontonkan keahlian para penggunanya, seperti bernyanyi, menari, memasak, memberikan tutorial, hingga sekadar ngobrol dan berbagai hal lainnya.

  • CliponYu : http://www.cliponyu.com/

CliponYu adalah sebuah situs yang menampilkan online video streaming dan live entertainment yang menampilkan para host-nya kebanyakan perempuan muda dan cantik. dan tersedia pula sesi private chatting dengan pengguna.

  • Nonolive : https://www.nonolive.com/

Nonolive adalah layanan live video streaming yang ditawarkan oleh nonolive ini mirip dengan cliponyu. selain itu nonolive juga memiliki keunikan, dimanas eorang host (pengguna) bisa mengumpulkan virtual gifts atau hadiah yang diberikan oleh para followers/ fans lalu menukarnya dalam bentuk rupiah, langsung dari aplikasi.

 

  1. Real Time Interactive Audio/Video

Aplikasi jenis ini mengizinkan client menggunakan audio/video untuk berkomunikasi dengan setiap clientyang lain secara real-time. Audio interaktif banyak digunakan pada intenet telephony (VoIP), sejak para pengguna memandang bahwa VoIP mirip dengan layanan telepon tradisional yang menggunakan circuit-switchedInternet phone menawarkan harga yang lebih murah.

Contoh aplikasi :

  • Hangout : https://hangouts.google.com/

Hangouts adalah aplikasi android yang sebagian besar dari kita sering lihat terdapat pada ponsel android anda. dengan aplikasi hangouts untuk android maka anda dapat membuat panggilan voip dengan nomor google voice anda.

  • ooVoo : https://oovoo.com/

Oovoo adalah situs web dan aplikasi yang terbuka dan dirancang untuk membantu pengguna menemukan, berinteraksi dan berkomunikasi dengan teman-teman mereka di jaringan sosial dan perangkat secara gratis, dalam 12-way hd video chat dan pesan terpadu pada pc, mac, iphone, android, ipad, facebook dan web.

  • WhatsApp : https://www.whatsapp.com/

WhatsApp adalah aplikasi pesan untuk smartphone lintas platform yang memungkinkan kita bertukar pesan tanpa biaya sms, karena whatsapp messenger menggunakan paket data internet yang sama untuk email, browsing web, dan lain-lain.

  • Line : https://line.me/

Line adalah sebuah aplikasi pengirim pesan instan gratis yang dapat digunakan pada berbagai platform seperti telepon cerdas, tablet, dan komputer dengan menggunakan jaringan internet sehingga pengguna line dapat melakukan aktivitas seperti mengirim pesan teks, mengirim gambar, video, pesan suara, dan lain lain.

 

Makalah Kalkulus dan Fungsi

MAKALAH KALKULUS II

FUNGSI

 

 

 DISUSUN OLEH :

HANIFA NOFITA ULFASARI 1141720012

KIKI PUTRI AGUNG 1141720016

DOSEN PEMBIMBING : MATSUANI, S.Pd. M.Pd.

TEKNIK KIMIA

PROGRAM EKSTENSI KELAS KARYAWAN

INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA

SERPONG, TANGERANG SELATAN

2018

 

 

KATA PENGANTAR

 

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis dengan judul Makal Kalkulus II Fungsi.

Dalam pengerjaan karya tulis penulis mengerjakan dengan penuh semangat disela-sela padatnya pekerjaan yang dilakukan penulis karena selama pengerjaan, penulis bekerja hingga malam dikarenakan pekerjaan yang cukup padat dan beda jam kerja dengan rekan sekelompok. Walaupun hanya memiliki waktu yang singkat, penulis berusaha membagi waktu agar karya tulis selesai tepat waktu.

Dalam menulis karya tulis ini saya mendapatkan bantuan dari penjelasan Bapak Matsuani selaku dosen pembimbing. Tidak lupa Ayah dan Ibu yang senantiasa memberikan semangat via telepon, agar penulis tetap semangat dalam mengerjakan tugas.

Dalam penyelesaian karya tulis ini penulis mendapat banyak bantuan, pada kesempatan ini penulis ucapkan banyak terima kasih kepada:

  1. Bapak Matsuani, S.Pd., M.Pd. selaku dosen pembimbing dalam mata kuliah Kalkulus atas perhatian dan arahannya kepada penulis dalam mengerjakan karya tulis.
  2. Ibu, Ayah dan keluarga yang senantiasa mendoakan dan memberikan motivasi kepada penulis yang sedang merantau sendiri.
  3. Rekan-rekan prodi Teknik Kimia dan tahun ajaran 2017/2018 yang sudah membantu dan ikut berdiskusi dengan senang hati mengenai masalah dalam pengerjaan karya tulis.
  4. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang secara langsung maupun tidak langsung telah mendukung dan membantu penulis dalam mengerjakan karya tulis ilmiah ini dengan baik.

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR.. 2

DAFTAR ISI. 4

BAB I PENDAHULUAN.. 5

  1. Latar Belakang. 5
  2. Rumusan Masalah. 5
  3. Tujuan. 6
  4. Metode Penelitian. 6

BAB II PEMBAHASAN.. 7

  1. Fungsi dan Penyajian Fungsi 7
  2. Macam-Macam Fungsi 7
  3. Operasi pada Fungsi 8
  4. Mencari Domain dalam Fungsi 9
  5. Mencari grafik fungsi 11
  6. Penerapan Fungsi dalam Kehidupan Sehari-hari 15

BAB III PENUTUP.. 17

  1. Kesimpulan. 17
  2. Saran. 17

DAFTAR PUSTAKA.. 18

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang

Mata kuliah kalkulus di perguruan tinggi merupakan sumber nilai dan pedoman dalam pengembangan dan penyelengaraan program studi, guna mengantarkan mahasiswa memantapkan kepribadiannya sebagai manusia seutuhnya. Hal ini berdasarkan pada suatu realitas yang dihadapi, bahwa mahasiswa adalah sebagai generasi bangsa yang harus memilki visi inteletual, religius, berkeadaban, berkemanusiaan dan cinta tanah air dan bangsanya.

Selain itu, kalkulus adalah mata kuliah yang berguna untuk membantu mahasiswa memantapkan kepribadiannya, agar secara konsisten mampu mewujudkan nilai-nilai dasar matematika untuk menerapkan. mengembangkan bakat dan keahlian (skill), karena ilmu ini bisa membawa kita menuju masa depan yang cerah dan mempunyai rasa tanggung jawab dan bermoral.

 

B.     Rumusan Masalah

Dalam pembuatan makalah ini kami mengangkat beberapa rumusan masalah diantaranya:

  1. Apa yang di maksud dengan fungsi dan penyajian fungsi?
  2. Apa saja macam-macam fungsi?
  3. Bagaimana mencari domain dalam fungsi?
  4. Bagaimana menggambar grafik dalam fungsi?
  5. Apa saja penerapan fungsi dalam kehidupan sehari-hari?

 

C.     Tujuan

  1. Tujuan umum

Untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh Bapak Matsuani, S.Pd, M.Pd selaku dosen mata kuliah kalkulus.

  1. Tujuan Khusus

Tujuan pembuatan makalah ini pada hakekatnya merupakan suatu yang hendak dicapai, yang jadi arahan atas apa yang harus di lakukan dalam pembuatan makalah. Adapaun tujuan pembuatan makalah untuk mengetahui dan memaparkan tentang fungsi dan grafik.

 

D.    Metode Penelitian

Metode penulisan ini berdasarkan studi pustaka dari buku-buku dan literatur yang berhubungan dengan pembahasan dan internet.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Fungsi dan Penyajian Fungsi

Fungsi dalam matematika adalah suatu relasi yang menghubungkan setiap anggota x dalam suatu himpunan yang disebut daerah asal (Domain) dengan suatu nilai tunggal f(x) dari suatu himpunan kedua yang disebut daerah kawan (Kodomain). Himpunan nilai yang diperoleh dari relasi tersebut disebut daerah hasil (Range). Pada fungsi, terdapat beberapa istilah penting, diantaranya:

  1. Domain yaitu daerah asal fungsi f dilambangkan dengan Df.
  2. Kodomain yaitu daerah kawan fungsi f dilambangkan dengan Kf.
  3. Range yaitu daerah hasil yang merupakan himpunan bagian dari kodomain. Range fungsi dilambangkan dengan Rf.

Karena fungsi merupakan bentuk dari relasi, maka cara menyajikannya sama saja dengan cara penyajian relasi. Fungsi dapat disajikan dalam bentuk diagram panah, diagram kartesius, dan juga himpunan pasangan berurut.

B.     Macam-Macam Fungsi

  1. Fungsi tangga (bertingkat)

Suatu fungsi f(x) disebut fungsi tangga apabila grafik fungsi f(x) berbentuk interval-interval yang sejajar.

  1. Fungsi ganjil dan fungsi genap

Suatu fungsi f(x) disebut fungsi ganjil apabila berlaku f(–x) = –f(x) dan disebut fungsi genap apabila berlaku f(–x) = f(x). Jika f(–x) ≠ –f(x) maka fungsi ini tidak genap dan tidak ganjil.

  1. Fungsi kuadrat

Suatu fungsi f(x) disebut fungsi kuadrat apabila fungsi itu ditentukan oleh f(x) = ax2 + bx + c, di mana a ≠ 0 dan a, b, dan c bilangan konstan dan grafiknya berupa parabola

  1. Fungsi Polinomial

Fungsi Polinomial adalah fungsi f yang dinyatakan dalam bentuk :

f(x) = an x n + an-1 x n-1 + ……. A2 x 2 + a1 x a0

Jika n = 1 maka terbentuk fungsi linier (grafiknya berbentuk garis lurus). Jika n = 2 maka terbentuk fungsi kuadrat( grafiknya berbentuk parabola).

  1. Fungsi modulus

Suatu fungsi f(x) disebut fungsi modulus (mutlak) apabila fungsi ini memetakan setiap bilangan real pada domain fungsi ke unsur harga mutlaknya.

  1. Fungsi logaritma

Fungsi ini berperan pada persoalan-2 statistik dan probabilitas. Dan lebih banyak kepada persoalan-2 diskrit. Contoh: bagaimana mengatur agar antrian pembelian bensin sedemikian sehingga pada saat-2 tertentu pegawai pelayanan diperbanyak. Misal pada pembayaran rekening listrik, para konsumen lebih banyak membayar pada akhir tagihan daripada awal-awal penagihan. Sangat bijak manajer mengatur agar pada hari-2 terakhir pegawainya hrus membantuk bagian kasir untuk melayani konsumen.

 

  1. Operasi pada Fungsi
    Jika f dan g dua fungsi maka jumlah f + g, selisih f – g, hasil kali fg, hasil bagi f/g dan perpangkatan fn adalah fungsi-fungsi dengan daerah asal berupa irisan dari daerah asal f dan daerah asal g, dan dirumuskan sebagai berikut.

    (f + g)(x) = f (x) + g(x)
    (f – g)(x)          = f (x) – g(x)
    (f g)(x)             = f (x) g(x)
    (f / g)(x)           = f (x) / g(x) asalkan g(x) ≠ 0

Selanjutnya didefinisikan komposisi fungsi sebagai berikut.
Jika f dan g dua fungsi dengan daerah asal g merupakan daerah hasil f maka komposisi g o f memenuhi
(g o f)(x) = g (f(x))
Contoh
Jika f(x) = x2 – 2x dan g(x) = x – 1, tentukan g o f dan f o g.
Penyelesaian:

  1. (g o f)(x) = g (f(x))

= g (x2 – 2x)

= x2 – 2x – 1

  1. (f o g)(x) = f (g(x))

= f (x – 1)

= (x – 1)2 – 2(x – 1)

= x2 – 2x + 1 – 2x + 2

= x2 – 4x + 3

D.    Mencari Domain dalam Fungsi

Materi selanjutnya tentang daerah asal atau domain suatu fungsi, sekarang kita akan mempelajari dari daeerah hasil atau range. Setelah kita mengetahui semua nilai x yang dapat diinputkan ke dalam fungsi  f(x), maka fungsi f(x) akan menghasilkan output berupa nilai yang dinamakan daerah hasil. Daerah hasil dari fungsi f(x) dinotasikan dengan Rf atau lebih jelasnya dapat kita lihat dalam gambar berikut

Misalkan diberikan suatu fungsi f(x). Untuk menentukan daerah hasil fungsi tersebut tanpa melihat grafik tidak akan semudah menentukan daerah asal. Untuk menentukan daerah hasilnya kita harus terlebih dahulu mengubah fungsi asal f(x) ke dalam bentuk inversnya (yang nanti akan kita pelajari di materi Fungsi Transenden). Di sini kita hanya akan membahas bagaimana cara menentukan daerah hasil dari fungsi dengan menggunakan grafik.

Contoh soal mencari domain

  1. Carilah domain dan range dari fungsi :

f(x) =

Syarat agar fungsi tersebut terdefinisi adalah

3x + 1        ≠ 0

x                ≠

 

Sehingga

Di = (-∞ ,  ) ᴗ(, ∞ )

  1. Carilah domain dan range dari fungsi :

f(x) =

Syarat agar fungsi tersebut terdefinisi adalah

-x2 – 5x – 6 ≥ 0       ↔ x2 + 5x + 6             ≤ 0

↔ ( x + 2 )( x + 3 )      ≤ 0

-3

 

E.     Mencari grafik fungsi

Sebanarnya ada cara yang dapat digunakan untuk menentukan gambaran umum dari grafik sebuah persamaan kuadrat dengan cara melihat nilai determinannya. Nilai Determinan dari sebuah fungsi kuadrat adalah . Determinan dapat digunakan untuk menyelidiki berapa banyak akar yang dimiliki sebuah persamaan kuadrat. Selain itu, determinan dapat digunakan untuk menentukan jenis akar yang dimiliki suatu persamaan kuadrat.
Karakteristik grafik berdasarkan nilai determinan :

  1. Jika D > 0 maka persamaan kuadrat memiliki dua akar real berbeda (artinya, grafik akan memotong sumbu x pada dua titik).
  2. Jika D = 0 maka persamaan kudrat memiliki dua akar real kembar (artinya, grafik akan memotong sumbu x pada satu titik).
  3. Jika D < 0 maka persamaan kuadrat memiliki akar yang imaginer/tidak real/akar negatif (artinya, grafik tidak memotong sumbu x).

Nilai (koefisien dari ) dapat memberi gambaran grafik fungsi kuadrat tersebut terbuka ke atas atau ke bawah. Karakteristik grafik berdasarkan nilai :

  1. Jika a > 0 maka grafik akan terbuka ke atas.
  2. Jika a < 0 maka grafik akan terbuka ke bawah.

Gambaran umum Grafik fungsi kuadrat jika dilihat dari nilai dan

Untuk menggambar grafik secara lebih detailnya dapat disimak dalam langkah-langkah berikut. Langkah-langkah menggambar grafik fungsi kuadrat:

  1. Tentukan titik potong dengan sumbu x (nilai y atau f(x) sama dengan 0).
  2. Tentukan titik potong dengan sumbu y (nilai x = 0).
  3. Menentukan sumbu simetri .
  4. Menentukan titik puncak (, ) atau hitung nilai puncak y menggunakan substitusi/mengganti nilai x yang diperoleh pada perhitungan nomor 3 ke dalam persamaan f(x).

Empat langkah tersebut sudah dapat digunakan untuk menggambar grafik persamaan kuadrat, jika perlu bisa menambahkan beberapa titik koordinat bantu. Berikut cara megerjakan unutk mencari grafik fungsi

Gambarkan grafik fungsi y = x2 – 1.

Penyelesaian:

Diketahui fungsi y = x2 – 1 dengan a = 1, b = 0, c = -1.

  1. Titik potong sumbu xdengan syarat y = 0.

y = x2 – 1   ⇔ 0 = x2 – 1

⇔ (x + 1) (x – 1) = 0

⇔ x = -1 atau x = 1

∴ Titik potong sumbu x adalah (-1, 0) dan (1, 0).

 

  1. Titik potong sumbu ydengan syarat x = 0.

y = x2 – 1        ⇔ y = 0 – 1

⇔ y = -1

∴ Titik potong sumbu y adalah (0, -1).

  1. Titik balik

xp=

yp =

∴ Titik baliknya adalah (0, -1)

Ini berarti, titik baliknya sama dengan titik potong fungsi dengan sumbu y.

  1. Hubungkan titik-titik yang diperoleh pada bidang Cartesius, sehingga terbentuk grafik yx2 – 1 seperti di bawah ini.

 

F.      Penerapan Fungsi dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam kehidupan sehari-hari banyak contoh-contoh penerapan fungsi, misalnya padapermainan bola basket bahwa pemain berusaha memasukkan bola ke keranjang denganpelemparan tidak lurus tetapi dilemparkan ke atas melampaui tempat jaringnya menujujaringnya dengan lintasan bolanya berbentuk parabola, bagaimana menentukan ukuranlipatan talang seng agar talangnya dapat mengalirkan air sebanyak mungkin, dan sebagainya. Bagaimana memecahkan masalah, misalnya perhatikan contoh berikut ini :

Sebidang tanah terletak sepanjang suatu tembok. Tanah itu akan dipagari dengan kawat untuk kandang ayam. Pagar kawat yang tersedia 400 m, dan kandang itu dibuat berbentuk persegi panjang. Tentukanlah ukurannya agar terdapat kandang yang seluas-luasnya.

Penyelesaian:

Misalkan lebar kandang x meter, maka panjangnya (400 – 2x) meter. Luas kandang dalam m2 adalah

L = x (400 – 2x) = 400x – 2x2

Dari persaman luas tersebut yang berbentuk fungsi kuadrat dapat ditentukan nilai ekstremnya sebagai berikut :

L = 400x – 2×2

= – 2×2 + 400x

= – 2( x – 100 )2 + 20000

Agar luas kandang maksimum maka x – 100 = 0 atau x = 100. Sehingga untuk x =100 terdapat luas kandang maksimum L =20.000

Jadi luas maksimum yang ditanyakan adalah 20.000 m2 yang terjadi jika lebarnya 100 m dan panjangnya 200 m.

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A.    Kesimpulan

Fungsi dalam matematika adalah suatu relasi yang menghubungkan setiap anggota x dalam suatu himpunan yang disebut daerah asal (Domain) dengan suatu nilai tunggal f(x) dari suatu himpunan kedua yang disebut daerah kawan (Kodomain). Menggambar grafik fungsi dapat ditentukan apabila dapat menentukan dari nilai determinan.

Penerapan fungsi dalam kehidupan sehari-hari ternyata memiliki banyak peranan yang dapat diterapkan, sehingga dengan penerapannya pun dapat membantu untuk mempermudah pengerjaan dalam kehidupan sehari-hari.

B.     Saran

Berdasarkan pencarian materi dan memahami materi, alangkah lebih baiknya diperbanyak sumber-sumber yang membahas materi fungsi dan dapat dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari agar pelajar mudah untuk memahami dan mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  • Areka, Wahid. 2016. Makalah Kalkulus. http://makalahwayboy.blogspot.co.id/2016/09/fungsi-dan-grafik.html. Tanggal akses 02 Mei 2018.
  • IdSchool. 2017. Langkah-langkah Menggambar Grafik Fungi Kuadrat. http://idschool.net/sma/matematika-sma/cara-menggambar-grafik-fungsi-kuadrat/ . Tanggal akses 10 Mei 2018
  • Kanginan, Marthen. 2005. Cerdas Belajar Matematika. Bandung. Grafindo Media Pratama.
  • Martono, Koko. 1999. Kalkulus. Jakarta. Erlangga.
  • Raditya. 2012. Contoh Penerapan Fungsi Dalam Kehidupan Sehari-hari. https://aditya067.wordpress.com/2012/01/09/contoh-penerapan-fungsi-dalam-kehidupan-sehari-hari/. Tanggal Akses 08 Mei 2018.

 

 

Sistematika Penyusunan Perangkat Pembelajaran

SISTEMATIKA PENYUSUNAN PERANGKAT PEMBELAJARAN

PAI DI SMP ATAU SMA

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah ‘Materi PAI SMP atau SMA’

Dosen Pengampu: Moh. Nihwan, M.Pd.i

Semester/Kelas: IV/C

Oleh kelompok tiga (III):

Moh. Ziyad Khazin

Tolak

Hafidzi

Mohammad Nauvil

 

 

 

PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT ILMU KEISLAMAN ANNUQAYAH

(INSTIKA)

GULUK-GULUK SUMENEP MADURA

TAHUN PELAJARAN 2018

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Pendidikan merupakan hal pertama sekaligus mendasar yang sangat dibutuhkan oleh setiap insan manusia. Dikatakan demikian, karena jika seandainya seorang manusia lahir lalu tumbuh tanpa pendidikan, tentu manusia tersebut akan kesulitan dalam menjalani sekaligus mengembangkan potensi kehidupan yang ia miliki. Dengan kata lain, manusia tanpa pendidikan (baik formal, informal, atau non formal), bagai berjalan di daerah baru tanpa mendapat petunjuk arah satupun.

Oleh karena pendidikan merupakan hal paling mendasar yang dibutuhkan oleh setiap manusia, dengan harapan manusia tersebut akan menjadi lebih baik, tentu pendidikan ini (termasuk proses pembelajarannya) harus berlangsung dengan baik pula, yakni melalui tahapan persiapan terperinci serta matang. Baik terkait Silabusnya atau RPPnya sebagaimana akan kami bahas pada makalah kali ini.

  1. Rumusan Pembahasan
  2. Apakah Silabus Itu?
  3. Seperti Apakah RPP Itu?
  4. Seperti Apa Kriteria Penyusunan Perencanaan Pembelajaran PAI?

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Silabus
  2. Pengertian Serta Fungsi Silabus

Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup identitas mata pelajaran, Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD), Materi Pokok/Pembelajaran, Kegiatan Pembelajaran, Indakator, Penilaian, Alokasi Waktu, dan Sumber Belajar.[1]

Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) mendefinisikan silabus sebagai “rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup Standar Kompetensi (SK), Kompetisi Dasar (KD), materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar. Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian.[2]

Menurut Trianto, M.Pd. Silabus adalah salah satu produk pengembangan kurikulum berisikan garis-garis besar materi pelajaran, kegiatan pembelajaran dan rancangan penilaian. Dengan kata lain silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/ tema tertentu yang mencakup standar kompetenensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar.[3]

Berikut ini merupakan bebarapa fungsi silabus, antara lain:

  1. Penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam kurikulum ke dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian, sehingga memudahkan guru dalam menerjemahkan kurikulum ke dalam tataran perencanaan dan implementasi pembelajaran di sekolah.
  2. Acuan untuk membuat Rencana Pelaksanaan (RPP) yaitu rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam silabus.[4]
  3. Komponen dan Struktur Silabus

Silabus hendaknya memenuhi komponen-komponen di bawah ini, dan disusun berdasarkan struktur sebagai berikut:

  1. Identitas Silabus
  2. Standar Kompetensi
  3. Kompetensi Dasar
  4. Materi Pokok/Pembelajaran
  5. Indikator
  6. Penilaian
  7. Alokasi Waktu
  8. Sumber Belajar.[5]
  9. Langka-Langkah Penyusunan Silabus

Langkah-langkah penyusunan silabus adalah sebagai berikut :

  1. Mengisi identitas Silabus
  2. Identitas terdiri dari nama sekolah, mata pelajaran, kelas, dan semester. Identitas silabus ditulis di atas matrik silabus.
  3. Menuliskan Standar Kompetensi. Standar Kompetensi adalah kualifikasi kemampuan peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada mata pelajaran tertentu. Standar Kompetensi diambil dari standar Isi (Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar)
  4. Menuliskan Kompetensi Dasar. Kompetensi dasar merupakan sejumlah kemampuan minimal yang harus dimiliki peserta didik dalam rangka menguasai SK mata pelajaran tertentu. Kompetensi Dasar dipilih dari yang tercantum dalam standar isi.
  5. Mengindentifikasi Materi Pokok/Pembelajaran.

Dalam mengindetifikasi materi Pokok/pembelajaran harus dipertimbangkan : (1) kesesuaian materi pokok dengan SK dan KD; (2) tingkat perkembangan fisik, emosional, sosial, dan spiritual peserta didik; (3) kebermanfaatan bagi peserta didik; (4) struktur keilmuan; (5) kedalaman dan keluasan materi; (6) relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntuan lingkungan; dan (7) alokasi waktu.

  1. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran. Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajaran yang proses mental dan fisik melalui interaksi antar peserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan,  dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar. Kegiatan pembelajaran yang dimaksud dapat terwujud melalui penggunaan pendekatan pembelajaran kontekstual, meliputi pembelajaran berbasis masalah (Probelem-based learning), belajar kooperatif (Cooperative Learning), pembelajaran berbasis proyek  (Project based Learning), pembelajaran pemahaman konsep (Concept Learning), pembelajaran berbasis kerja (work-based-Learning), pembelajaran nilai (value lerning ) dengan berbagai  variasi modelnya.
  2. Merumuskan Indikator. Dalam penentuan indikaror diperlukan kriteria-kriteria: (a) sesuai tingkat perkebangan berfikir siswa, (b) berkaitan dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, (c) memperhatikan aspek manfaat dalam kehidupan sehari-hari (life Skills), (d)  harus dapat menunjukan pencapaian hasil belajar siswa secara utuh (kognitif, afektif, dan psikologi psikomotor); (e) memperhatikan sumber-sumber belajar bacaan dan non bacaan, sumber  yang direncanakan dan dimanfaatkan yang relevan; (f) dapat diukur/dapat dikuantifikasikan/dapat diamati; dan (g) menggunakan kata kerja operasional.
  3. Penilaian pencapaian kompetensi dasar siswa dilakukan berdasarkan indikator yang sudah di tentukan dengan menggunakan penilaianan autentik. Dalam mengembangkan penilaian autentik hendaknya disusun terlebih dulu daftar kompetensi konkret dalam bentukpengetahuan, bentuk karya, unjuk karya dan perilaku dari mata pelajaran tertentu. Selanjutnya menentukan atau menyusun indikator tiap kompetensi konkret, baik kompetensi yang berbentuk pengetahuan, karya, unjuk karya dan perilaku.
  4. Teknik penilaian. Teknik penilaian adalah cara-cara yang ditempuh untuk memperoleh informasi mengenai proses dan produk yang dihasilkan pembelajaran yang dilakukan poleh peserta didik. Dalam penilaian berbasis kelas ada tujuh teknik penilaian yang dikembangkan yaitu penilaian untuk kerja, penilaian tertulis, penilaian proyek, penilaian produk, penilaian sikap, penilaian portofolio, dan penilaian diri.
  5. Bentuk instrument. Bentuk Instrumen yang di pilih harus sesuai dengan teknik penilaiannya. Oleh karena itu,  bentuk  instrumen yang dikembangkan dapat berupa bentuk instrumen yang tergolong teknik : (1) Penilaian unjuk kerja, dapat berupa cheklist dan rating scale. (2) Penilaian sikap, yaitu format observasi perilaku, skala sikap dan penilaian pribadi.
  6. Contoh Instrumen. Setelah ditetapkan bentuk instrumennya, selanjutnya di buat contohnya. Contoh instrumen dapat dituliskan di dalam kolom matriks silabus yang tersedia. Namun, apabila dipandang hal itu menyulitkan karena kolom yang tersedia tidak mencukupi, selanjutnya contoh instrumen penilaian di letakan di dalam lampiran.
  7. Menentukan Alokasi waktu. Alokasi waktu adalah jumlah waktu yang dibutuhkan untuk ketercapaian suatu Kompetensi Dasar tertentu, dengan memperhatikan : (a) Minggu efektif persemester. (b) Alokasi waktu mata pelajaran, dan jumlah kompetensi persemester.
  8. Menentukan Sumber Belajar. Sumber belajar merupakan segala sesuatu yang diperlukan dalam kegiatan pembelajaran, yang dapat berupa : buku teks, media cetak, media elektronika, narasumber, lingkungan alam sekitar, dan sebagainya.[6]
  9. RPP
  10. Pengertian dan Fungsi RPP

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan penjabaran dari silabus yang telah disusun pada langkah sebelumnya. Di dalam RPP tercermin kegiatan yang telah ditetapkan. Dalam pengertian lain Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasaian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam silabus.[7]

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) menurut KBK 2004, yaitu panduan langkah-langkah yang akan dilakukan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran disusun untuk setiap pertemuan yang disusun dalam skenario kegiatan. Rencana pelaksanaan pembelajaran disusun untuk setiap pertemuan yang terdiri dari tiga rencana pembelajaran, masing-masing dirancang untuk pertemuan selama 90 menit dan 135 menit. Skenario kegiatan pembelajaran dikembangkn dari rumusan tujuan pembelajaran yang mengacu dari indikator untuk hasil belajar sesuai kurikulum berbasis kompetensi.[8]

Rencana pelaksanaan pembelajaran berisi garis besar apa yang akan dikerjakan oleh guru dan peserta didik selama proses pembelajaran, baik untuk satu kali pertemuan maupun beberapa kali pertemuan. Guru yang belum berpengalaman pada umumnya memerlukan perencanaan yang lebih rinci dibandingkan dengan guru yang sudah berpengalaman.

Sedikitnya terdapat dua fungsi RPP, yakni fungsi perencanaan dan fungsi pelaksanaan:

  1. Fungsi Perencanaan.

Fungsi perencanaan adalah bahwa rencana pelaksanaan pembelajaran hendaknya dapat mendorong guru lebih siap melakukan kegiatan pembelajaran dengan perencanaan yang matang. Oleh karena itu, setiap akan melakukan pembelajaran guru wajib memiliki persiapan tertulis maupun tidak tertulis. Dosa hukumnya bagi guru yang mengajar tanpa persiapan, dan hal tersebut hanya akan merusak mental mental dan moral peserta didik, serta akan menurunkan wibawa secara keseluruhan.

Komponen-komponen yang harus dipahami guru dalam pengembangan  antara lain : kompetensi dasar, materi standar, hasil belajar, indikator hasil belajar, penilaian, dan prosedur pembelajaran.

  1. Fungsi Pelaksanaan

Pelaksanaan pembelajaran harus disusun secara sistematis, utuh dan menyeluruh, dengan beberapa kemungkinan penyesuaian dalam situasi pembelajaran yang aktual. Dengan demikian, rencana pelaksanaan pembelajaran berfungsi untuk mengefektifkan proses pembelajaran sesuai dengan apa yang direnanakan. Dalam hal ini, materi standar yang dikembangkan dan dijadikan bahan kajian oleh peserta didik harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuannya,mengandung nilai fungsional, praktis, serta disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan lingkungan, sekolah, dan daerah. Oleh karena itu, kegitan pembelajaran harus terorganisasi melalui serangkaian kegiatan tertentu, dengan strategi yang tepat dan mumpuni.

  1. Komponen dan Struktur RPP

RPP sebagai proses lanjutan dari silabus memiliki beberap komponen. Komponen-komponen ini akan memberikan gambaran awal bagaimana proses pembelajaran di kelas akan berjala. Komponen dan struktural sebuah RPP adalah sebagai berikut :

  1. Identitas RPP
  2. Tujuan Pembelajaran
  3. Materi Ajar
  4. Metode Pembelajaran
  5. Langkah-langkah Pembelajaran
  6. Sumber Belajar
  7. Penilaian Hasil Belajar

Komponen-komponen pentinga yang ada dalam rencana pembelajaran menurut Trianto, M.Pd. meliputi : Standar Kompetensi (SK), Kompetensi Dasar (KD), hasil belajar, indikator pencapaian hasil belajar, strategi pembelajaran, sumber pembelajaran, alat dan bahan, langkah-langkah kegiatan pembelajaran, dan evaluasi.

Contoh Format

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Mata Pelajaran : …………………………………………………….

Satuan Pendidikan      : …………………………………………………….

Kelas/Semester            : …………………………………………………….

Topik/Tema                 : …………………………………………………….

Alokasi Waktu            : …………………………………………………….

Standar Kompetensi   :………………………………………………………(diambil dari kurikulum)

  1. Kompetensi Dasar :………………………………………………………(diambil dari kurikulum)
  2. Indikator :………………………………………………………..(diambil dari kurikulum)
  3. Tujuan Pembelajaran :………………………………………………….(dikembangkan dari indikator)
  4. Pendekatan/Model/Metode

Pembelajaran               :………………………………….(dikembangkan dari indikator)

  1. Materi :……………………………………(dikembangkan dari analisis materi)
  2. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran

Tahapan

Kegiatan

Alokasi Waktu

Kegiatan Awal ·

  • Apersepsi
  • Motivasi

Kegiatan Inti

  • Presentasi
  • Eksperimen/demonstrasi
  • Diskusi
  1. Sumber, Alat, dan Media Pembelajaran
  2. Penilaian
  • Teknik
  • Bentuk Instrumen
  • Instrumen

Madura…………………………………

 

Mengetahui,

Kepala Sekolah                          Guru Mata Pelajaran………………

(………………….)                                      (………………….)

NIP. …………………..                               NIP. ……………………..

  1. Kriteria Penyusunan Perencanaan Pembelajaran PAI
  2. Signifikan

Signifikan dapat diartikan sebagai kebermaknaan, dalam artian; bahwa perencanaan pembelajaran hendaknya penuh makna agar proses pembelajaran berjalan efektif dan efisien.[9]

Dalam hal ini, perencanaan pembelajaran memiliki kedudukan yang sangat urgen dalam keberhasilan proses pembelajaran itu sendiri, karena perencanaan pembelajaran yang baik serta matang, menentukan terhadap tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran tersebut.[10]

  1. Relevan

Relevan artinya sesuai. Nilai relevansi dalam perencanaan pembelajaran adalah bahwa perencanaan yang kita susun memiliki nilai kesesuaian baik internal ataupun eksternal. Kesesuaian internal adalah perencanaan pembelajaran harus sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Kesesuaian eksternal mengandung makna, bahwa perencanaan pembelajaran yang disusun harus sesuai dengan kebutuhan siswa.[11]

  1. Kepastian

Nilai kepastian ini bermakna bahwa dalam perencanaan pembelajaran yang berfungsi sebagai pedoman dalam penyelenggaraan proses pembelajaran, tidak lagi memuat alternatif-alternatif yang bisa dipilih (alternatif-alternatif yang masih bersifat umum), melainkan berisi langkah-langkah pasti yang dapat dilakukan secara sistematis sehingga mampu meminimalisir masalah yang nantinya bisa terjadi ketika proses pembelajaran.

  1. Adaptabilitas

Perencanaan pembelajaran yang disusun hendaknya bersifat lentur atau tidak kaku. Dalam artian, perencanaan pembelajaran yang akan digunakan harus sesuai dengan keadaan. Serta memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan agar perencanaan tersebut bisa digunakan.

  1. Kesederhanaan

Perencanaan pembelajaran harus bersifat sederhana, artinya mudah dipahami sekaligus mudah untuk diimplementasikan.[12] Maksudnya apabila perencanaan pembelajaran mudah diimplementasikan, maka perencanaan pembelajaran tersebut akan berfungsi dengan baik sebagai pedoman untuk guru dalam mengelola sebuah kelas (pembelajaran).[13]

 

 

 

BAB III

PENUTUPAN

  1. Kesimpulan 
  2. Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup identitas mata pelajaran, Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD), Materi Pokok/Pembelajarn, Kegiatan Pembelajaran, Indakator, Penilaian, Alokasi Waktu, dan Sumber Belajar.
  3. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan penjabaran dari silabus yang telah disusun pada langkah sebelumnya. Di dalam RPP tercermin kegiatan yang telah ditetapkan. Dalam pengertian lain Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasaian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam silabus

 

DAFTAR PUSTAKA

  • Kokom Komalasari. M.Pd, Pembelajaran Kontekstual : Konsep dan Aplikasi (Bandung: PT Refika Aditama, 2010)
  • Badan Standar Nasinal Pendidikan, Panduan penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah, 2006
  • Trianto, M.Pd, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif : Konsep, Landasan dan Implementasinya Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) (Jakarta : Kencana, 2010)
  • Wina Sanjaya, Perencanaan dan Design Sistem Pembelajaran (Jakarta: Prenada Media Group, 2008)
  • Buna’I, S.Ag, Perencanaan Pembelajaran PAI (Surabaya: Pena Salsabila, 2013)

 

[1] Dr. Kokom Komalasari. M.Pd, Pembelajaran Kontekstual : Konsep dan Aplikasi (Bandung: PT Refika Aditama, 2010), 180

[2] Badan Standar Nasinal Pendidikan, Panduan penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah, 2006

[3] Trianto, M.Pd, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif : Konsep, Landasan dan Implementasinya Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) (Jakarta : Kencana, 2010), 201

[4] Dr. Kokom Komalasari. M.Pd, Pembelajaran Kontekstual : Konsep dan Aplikasi (Bandung: PT Refika Aditama, 2010), 180

[5] Dr. Kokom Komalasari. M.Pd, Pembelajaran Kontekstual : Konsep dan Aplikasi.., 180

[6] Dr. Kokom Komalasari. M.Pd, Pembelajaran Kontekstual : Konsep dan Aplikasi (Bandung: PT Refika Aditama, 2010), 193

[7] Dr. Kokom Komalasari. M.Pd, Pembelajaran Kontekstual : Konsep dan Aplikasi.., 193

[8] Trianto, M.Pd, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif : Konsep, Landasan dan Implementasinya Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) (Jakarta : Kencana, 2010), 214

[9] Wina Sanjaya, Perencanaan dan Design Sistem Pembelajaran (Jakarta: Prenada Media Group, 2008), 38

[10] Buna’I, S.Ag, Perencanaan Pembelajaran PAI (Surabaya: Pena Salsabila, 2013), 28

[11] Wina Sanjaya, Perencanaan dan Design Sistem Pembelajaran (Jakarta: Prenada Media Group, 2008), 38

[12] Wina Sanjaya, Perencanaan dan Design Sistem Pembelajaran (Jakarta: Prenada Media Group, 2008), 39

[13] Buna’I, S.Ag, Perencanaan Pembelajaran PAI (Surabaya: Pena Salsabila, 2013), 29

 

 

Upaya Bela Negara Sebagai Perwujudan Wawasan Nusantara

MAKALAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

“UPAYA BELA NEGARA SEBAGAI

PERWUJUDAN WAWASAN NUSANTARA”

 

 

 

 

Disusun Oleh:

Dani Budianto   (17530009)

Ebik Sarkobi      (17530013)

Dimas Nugroho (17530008)

 

JURUSAN TEKNIK MESIN

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS TAMA JAGAKARSA

JAKARTA

2018

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

 

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-NYA sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terima  kasih atas bantuan dari pihak  yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.

Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

 

 

Jakarta, Desember 2018

Penyusun

 

 

 

 

DAFTAR ISI

BAB I …………………………………………………………………………………………………………………. 1

PENDAHULUAN ……………………………………………………………………………………………….. 1

  1. LATAR BELAKANG ………………………………………………………………………………. 1
  2. RUMUSAN MASALAH …………………………………………………………………………… 2

BAB II ………………………………………………………………………………………………………………… 3

KAJIAN TEORI ………………………………………………………………………………………………….. 3

  1. Hakikat Bela Negara ………………………………………………………………………………… 3
  2. Dasar Hukum Bela Negara ………………………………………………………………………. 4
  3. Pentingnya Bela Negara …………………………………………………………………………… 7
  4. Klasifikasi Ancaman ………………………………………………………………………………… 8
  5. Unsur-unsur Bela Negara …………………………………………………………………………. 9
  6. Bentuk-bentuk Bela Negara ……………………………………………………………………… 9

BAB III …………………………………………………………………………………………………………….. 13

ANALISIS MASALAH ………………………………………………………………………………………. 13

  1. MASALAH ……………………………………………………………………………………………. 13
  2. ANALISIS ……………………………………………………………………………………………… 14

BAB IV …………………………………………………………………………………………………………….. 15

PENUTUP ………………………………………………………………………………………………………… 15

  1. Simpulan ……………………………………………………………………………………………….. 15
  2. Saran …………………………………………………………………………………………………….. 16

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………………………………. 17

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. LATAR BELAKANG

 

Semakin maju suatu bangsa akan senakin sulit juga bangsa tersebut untuk melindungi negaranya dari ancaman-ancaman yang selalu datang. Dengan arus  globalisasi dan modernisasi dunia ini suatu Negara akan semakin mudah untuk digoyahkan . Bukan di Negara-negara yang sedang berkembang saja namun Negara yang sudah maju pun mendapati ancaman ancaman tersebut. Ancaman bukan hanya dapat berasal dari luar negara. Ancaman dari luar maupun ancaman dari dalam Negara merupakan hal tetap dan harus diwaspadai oleh negara itu sendiri. Bangsa tersebut seharusnya mempunyai rasa nasionalisme yang kuat untuk mlindungi dan membela negaranya dari Negara lain yang lebih berwawasan intelektual luas . Karenanya ancaman bukan hanya dari ancaman militer, namun juga ancaman non militer seperti halnya perang ideologi dan moral.

Indonesia mendapatkan kemerdekaannya dengan susah payah. Tiga abad lamanya Indonesia dijajah, namun dengan semangat juang yang tinggi, akhirnya pada 17 Agustus 1945 Indonesia mendapatkan kemerdekaannya. Indonesia adalah Negara Republik dengan jumlah penduduk dengan jumlah penduduk terbesar ke-4 di dunia. Sekitar 150 juta jiwa manusia hidup di Indonesia. Hal tersebut tidak lepas dari semangat juang dan rasa cinta serta wujud bela Negara dari para pejuang bangsa dan seluruh rakyat Indonesia.

Suatu Negara akan semakin kuat pertahanannya bila saja bangsa tersebut bersatu padu untuk memperjuangkan Negara dalam melindungi dan membela hak hak yang dimiliki didalam suatu Negara itu sendiri. Namun semakin berkembangnya jaman dan semakin maraknya arus globalisasi dunia tidak jarang membuat lalai bangsa akan kesadaran untuk melindungi dan membela negaranya dari ancaman ancaman yang terjadi.

Memang pada dasarnya semua itu memerlukan proses yang sangat sulit untuk mewujudkannya. Kesulitan tersebut tentunya berdasar pada kesadaran masing masing masyarakat akan pentingnya melindungi dan membela Negara ini. Namun, mereka mementingkan kepentinagan mereka pribadi dibandingkan dengan kepentingan bangsanya, mereka mengira kepentingan tersebut bukan untuk mereka melainkan untuk para petinggi petinggi daerah dan Negara. Langkah yang dapat dilakukan Negara dapat berupa pembentukan perthanan penguat TNI dan POLRI, Pembentukan Satgas Bencana Alam, serta Pelestarian Sejarah Pahlawan Bangsa.

Kini pemerintah mengeluarkan aturan mengenai pendidikan wajib bela Negara. Menurut Direktur Bela Negara Kementerian Pertahanan, Laksamana Pertama TNI M Faisal, bela negara bukanlah kegiatan militer melainkan untuk menumbuhkan kecintaan kepada NKRI. Bela negara sudah ada 15-20 tahun lalu. Nah, mulai 2015, pelaksanaannya tak hanya di lingkungan Kementerian Pertahanan tapi skala nasional. Momentum ini juga bagian dengan Revolusi Mental. “Ini sebagai bagian dari revolusi mental. Orang salah mengira bela negara itu dianggap kegiatan seperti militer. Padahal bela negara adalah bagaimana menumbuhkan kecintaan kepada NKRI, semangat berbangsa dan bernegara,” ujar Faisal kepada Detikcom, Senin (12/10). (www. http://beritagar.id/ artikel/ berita/ apa-beda-wajib-militer -dan-bela-negara, 2015).

 

B. RUMUSAN MASALAH

 

  1. Apa itu Bela Negara?
  2. Apa itu Ketahanan Nasional?
  3. Bagaimana hubungan antara bela negara dengan ketahanan nasional?
  4. Apa saja dasar hukum pelaksanaan bela negara di Indonesia?
  5. Mengapa bela negara itu penting?
  6. Apa saja bentuk-bentuk bela negara?

 

 

 

 

BAB II

KAJIAN TEORI

 

A. Hakikat Bela Negara

Indonesia terletak di posisi silang dunia, yaitu diantara dua benua dan dua samudra. Posisi yang sangat strategis ini tentu akan mengundang ancaman/bahaya dari luar, terlebih saat melihat limpahan kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia. Untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari segala ancaman/bahaya maka setiap warga negara Indonesia wajib melaksanakan upaya bela negara.

Bela negara menurut UU RI No. 20 Tahun 1982 tentang Pokok-pokok Pertahanan Keamanan Negara pasal 1 ayat (2) yaitu “Tekad, sikap dan tindakan warga negara yang teratur, menyeluruh, terpadu, berlanjut yang dilandasi oleh kecintaan pada tanah air, kesadaran berbangsa dan bernegara Indonesia, keyakinan akan kesaktian Pancasila sebagai ideologi negara, dan kerelaan unyuk berkorban guna meniadakan setiap ancaman baik dari luar maupun dalam negeri yang membahayakan kemerdekaan dan kedaulatan negara, kesatuan dan persatuan bangsa, keutuhan wilayah dan yurisdiksi nasional, serta nilai-nilai Paancasila dan UUD 1945”. Namun di era reformasi UU RI No. 20 Tahun 1982 dinyatakan tidak berlaku dan diganti dengan UU RI No. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara. Dalam undangundang ini tepatnya pada pasal 9 tidak dijelaskan definisi Bela negara, melainkan hanya menjelaskan bahwa setiap warga negara wajib ikut serta dalam bela negara serta menjelaskan ketentuan pelaksanaan upaya bela negara. Meskipun demikian pada pasal tersebut tersirat makna “Upaya bela negara adalah sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945 dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara. Upaya bela negara selain sebagai kewajiban dasar manusia juga merupakan kehormatan bagi setiap warga negara yang dilaksanakan dengan penuh kesadaran, tanggung jawab dan rela berkorban dalam pengabdian kepada negara dan bangsa” (Abidin, 2014: 30). Makna tersirat tersebut terlihat jelas tidak mengubah esensi dari bela negara yaitu upaya untuk mepertahankan negara dari segala ancaman yang membahayakan kelangsungan hidup bangsa dan negara.

Ketika bicara mengenai bela negara, tentu akan menyangkut perihal Ketahanan Nasional. Sunarso (2013: 200) mendefinisikan ketahanan nasional sebagai “kondisi dinamis suatu bangsa, keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan untuk mengembangkan kekuatan nasional, dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan, serta gangguan baik yang datang dari luar dan dalamyang secara langsung dan tidak langsung membahayakan integritas, identitas, kelangsungan hidup bangsa dan negara serta perjuangan mengejar Tujuan Nasionalnya”. Sutarman (2011: 82-83) menjelaskan hubungan/keterkaitan antara pembelaan negara atau bela negara dengan ketahanan nasional meliputi:

  1. Pembelaan Negara sebagai suatu sitem lebih menekankan pada komponen kekuatan , strategi dan sosialisasi. Sedang Ketahanan Nasional itu merupakan sasaran dan tujuan dari upaya-upaya pembelaan negara. Tujuan Ketahanan Nasional akan diukur melelui seberapa jauh “keuletan“ warga negara dalam partisipasi dan implementasinya dalam Ketahanan Nasional dan seberapa besar kekuatan “ketangguhan“ warga negara dalam Ketahanan Nasional.
  2. Pembelaan Negara sebagai wujud partisipasi warga negara yang dilakukan secara semesta dalam arti bahwa seluruh daya bangsa dan negara mampu memobilisasi diri guna menanggulangi setiap bentuk ancaman baik yang datang dari luar negeri maupun dari dalam negeri adalah dalam rangka memelihara dan meningkatkan Ketahanan Nasional.
  3. Perihal usaha atau upaya bela negara itu bagi warga negara bukan suatu kesadaran, fakultatif, tetapi harus diterima sebagai suatu panggilan tugas dan kewajiban, karena ancaman yang datang baik yang langsung maupun tidak langsung dapat timbul sewaktu – waktu, dan pengingkaran terhadap kewajiban bela negara merupakan karapuhan Ketahanan Nasional, yang pada gilirannya akan membahayakan identitas, keutuhan, kelangsungan hidup bangsa dan negara dalam mencapai tujuan nasionalnya.

 

B. Dasar Hukum Bela Negara

Dasar hukum pelaksanaan bela negara di Indonesia termuat dalam berbagai aturan yaitu Batang tubuh UUD 1945, Undang-undang Republik Indonesia, dan Ketetapan MPR.

  1. UUD 1945
    1. Pasal 27 Ayat 3: “Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam pembelaan negara.”
    2. Pasal 30 Ayat 1: “Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara.”
    3. Pasal 30 Ayat 2: “Usaha pertahanan dan keamanan negara dilaksanakan melalui sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta oleh Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai kekuatan utama, dan rakyat sebagai kekuatan pendukung.”
    4. Pasal 30 Ayat 3: “Tentara Nasional Indonesia terdiri atas Angkatan

Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara sebagai alat negara yang

bertugas mempertahankan, melindungi, dan memelihara keutuhan dan kedaulatan negara.”

  1. Pasal 30 Ayat 4: “Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai alat negara yang menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat bertugas melindungi, mengayomi, melayani masyarakat, serta menegakkan hukum.”
  2. Pasal 30 Ayat 5: “Susunan dan kedudukan Tentara Nasional Indonesia, Kepolisian Negara Republik Indonesia, hubungan kewenangan Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia di dalam menjalankan tugasnya, syarat-syarat keikutsertaan warga negara dalam usaha pertahanan dan keamanan negara, serta hal-hal yang terkait dengan pertahanan dan keamanan diatur dengan undangundang.”
  1. TAP MPR No. IV/MPR/1999 tentang Garis Besar Haluan Negara Dalam Bab IV, ketetapan arah kebijaksanaan pertahanan dan keamanan, antara lain disebutkan pengembangan kemampuan sistem pertahanan keamanan rakyat semesta yang bertumpu pada kekuatan rakyat, TNI dan Polri sebagai kekuatan utama yang didukung komponen lainnya dengan meningkatkan kesadaran bela negara, melalui wajib latih dan membangun kondisi juang, serta mewujudkan kebersamaan TNI, Polri, dan rakyat.
  2. TAP MPR No. VI/MPR/2000 tentang Pemisahan TNI dan POLRI
    1. Pasal 1: “Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia secara kelembagaan terpisah sesuai dengan peran dan fungsinya masing-masing.”
    2. Pasal 2
      • Ayat 1: “Tentara Nasional Indonesia adalah alat negara yang berperan dalam pertahanan negara.”
      • Ayat 2: “Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah alat negara yang berperan dalam memelihara keamanan,”
      • Ayat 3: “Dalam hal terdapat keterkaitan kegiatan pertahanan dan kegiatan keamanan, Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian

Negara Republik Indonesia harus bekerja sama saling membantu.”

  1. TAP MPR No. VII/MPR/2000 tentang Peran TNI dan POLRI
    1. BAB I tentang TNI
      • Pasal 1: Jati Diri TNI
        • Ayat 1: “Tentara Nasional Indonesia merupakan bagian dari rakyat, lahir dan berjuang bersama rakyat demi membela kepentingan negara.”
        • Ayat 2: “Tentara Nasional Indonesia berperan sebagai komponen utama dalam sistem pertahanan negara.” – Ayat 3: “Tentara Nasional Indonesia wajib memiliki kemampuan dan keterampilan secara profesional sesuai dengan peran dan fungsinya.”
      • Pasal 2: Peran TNI
        • Ayat 1: “Tentara Nasional Indonesia merupakan alat negara yang berperan sebagai alat pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia.”
        • Ayat 2: “Tentara Nasional Indonesia sebagai alat pertahanan negara, bertugas pokok menegakkan kedaulatan negara, keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, serta melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara.”
        • Ayat 3: “Tentara Nasional Indonesia melaksanakan tugas negara dalam penyelenggaraan wajib militer bagi warga negara yang diatur dengan undang-undang.”
  1. BAB II tentang POLRI Pasal 6:
    • Ayat 1: “Kepolisian Negara Republik Indonesia merupakan alat negara yang berperan dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, memelihara, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.”
    • Ayat 2: “Dalam menjalankan perannya, Kepolisian Negara Republik Indonesia wajib memiliki keahlian dan keterampilan secara profesional.”
  2. UU No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia Pasal 2: “Fungsi Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah salah satu fungsi pemerintahan negara di bidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegak hukum, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.”
  3. UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM

Pasal 68: “Setiap warga negara wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.”

  1. UU No. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara
    1. Pasal 2: “Hakikat pertahanan negara adalah segala upaya pertahanan bersifat semesta yang penyelenggaraannya didasarkan pada kesadaran hak dan kewajiban warga negara serta keyakinan pada kekuatan sendiri.”
    2. Pasal 4: “Pertahanan negara bertujuan untuk menjaga dan melindungi kedaulatan negara, keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan segenap bangsa dari segala bentuk ancaman.”
    3. Pasal 9 ayat (1): “Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya bela negara yang diwujudkan dalam penyelenggaraan pertahanan negara.”
    4. Pasal 9 ayat (2): “Keikutsertaan warga negara dalam upaya bela negara, sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (1), diselenggarakan melalui:
      • Pendidikan kewarganegaraan
      • Pelatihan dasar kemiliteran secara wajib
      • Pengabdian sebagai prajurit Tentara Nasional Indonesia secara sukarela dan secara wajib
      • Pengabdian sesuai profesi”
  1. Pasal 9 ayat (3): “Ketentuan mengenai pendidikan kewarganegaraan, pelatihan dasar kemiliteran secara wajib, dan pengabdian sesuai dengan profesi diatur dengan undang-undang.”

 

C. Pentingnya Bela Negara

Upaya bela negara adalah sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada negara kesatuan republik indonesia yang berdasarkan pancasila dan uud 1945 dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara. Setiap manusia normal secara naluriah pasti akan selalu melindungi, membela, dan mempertahankan apa yang mimiliki dari ganguan orang lain. Lebih-lebih jika sesuatu itu sangat disenangi, sangat penting, dan sangat berharga bagi kalian.

Menurut Rukmini (2011:6)  kesadaran bela negara itu hakikatnya kesediaan berbakti pada negara dan kesediaan berkorban membela negara. Spektrum bela negara itu sangat luas, dari yang paling halus, hingga yang paling keras. Mulai dari hubungan baik sesama warga negara sampai bersamasama menangkal ancaman nyata musuh bersenjata.Tercakup di dalamnya adalah bersikap dan berbuat yang terbaik bagi bangsa dan negara.Dan Bela Negara merupakan tekad, sikap, perilaku, dan tindakan warga negara dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara, yang dijiwai oleh kecintaan kepada NKRI. Nilai-nilai yang dikembangkan dalam bela negara adalah cinta tanah air, kesadaran berbangsa dan bernegara. Yakin pada Pancasila sebagai ideologi negara, rela berkorban bagi bangsa dan Negara serta memiliki kemampuan awal bela Negara. Salah satu strategi dalam membangun daya tangkal bangsa untuk menghadapi kompleksitas ancaman ini adalah  melaksanakan revitalisasi pembinaan kesadaran bela negara kepada setiap warga negara.Strategi itu akan terwujud bila ada keterpaduan penyelenggaraan secara lintas sektoral, sebagai wujud tanggung jawab bersama pembinaan SDM untuk mewujudkan keutuhan dan kelangsungan hidup NKRI.

Ada tiga alasan kenapa bela Negara itu penting, yaitu alasan historis, geografis, dan demografis. a. Alasan historis

  • Sejak dulu banyak negara yang ingin menguasai Indonesia
  • Indonesia pernah di jajah selama 300 tahun
  • Kemerdekaan Indonesia adalah hasil perjuangan bukan hadiah dari penjajah
  • Sejarah membuktikan setiap ada ancaman terhadap kedaulatan dan keutuhan bangsa dan negara RI baik dari luar maupun dari dalam, rakyat akan bangkit membela negaranya. Tidak mngkin bangsa Indonesia meminta bantuan kepada bangsa lain untuk membela negaranya sendiri.
  1. Alasan geografis
    • Wilayah Indonesia sangat luas
    • Kekayaan alamnya melimpah
    • Letak Indonesia sangat strategis
    • Jumlah pulau lebih dari 17000
    • Tanahnya amat subur
  2. Alasan demografis
    • Jumlah penduduk nomor empat di dunia, sekitar 300 juta
    • Persebaran penduduk tidak merata
    • Kualitas penduduknya relative masih tertinggal dibandingkan negara maju
    • Pendapatan perkapita rendah – Pemerataan kurang baik.
    • Pengangguran relatif tinggi.

 

Berdasarkan kondisi yang objektif di atas diperlukan peran dari seluruh anak bangsa untuk turut serta dalam mengisi dan ikut bertanggungjawab atas bela Negara. Karena setiap warga Negara harus di tumbuhkan rasa bela Negara karena bermacam-macam alasan di atas. Bukan hanya satu dua orang saja yang di tumbuhkan, tapi semua rakyat Indonesia.

 

D.Klasifikasi Ancaman

  1. Menurut bentuknya
    1. Ancaman militer yaitu ancaman yang menggunakan kekuatan bersenjata yang terorganisasi yang dinilai mempunyai kemampuan yang membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara dan keselamatan segenap bangsa.
    2. Ancaman non militer yaitu ancaman yang tidak menggunakan kekuatan senjata tetapi jika dibiarkan akan membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara, dan keselamatan segenab bangsa.
  2. Menurut sifat
    1. Ancaman tradisional : yaitu ancaman yang berbentuk kekuatan militer negara lain berupa agresi atau invasi yang membahayakan kemerdekaan, kedaultan dan keutuhan wilayah NKRI.
    2. Ancaman non tradisional : yaitu ancaman yang dilakukan oleh aktor non negara berupa aksi teror, perampokan dan pembajakan, penyulundupan, imigrasi gelap, perdagangan narkotika dan obat – obatan terlarang, penangkapan ikan secara ilegal, serta pencurian kekayaan negara.

 

E. Unsur-unsur Bela Negara

  1. Cinta tanah air
  2. Kesadaran berbangsa dan bernegara
  3. Yakin akan pancasila sebagai ideologi negara
  4. Rela berkurban untuk bangsa dan negara
  5. Memiliki kemampuan awal bela negara

 

F. Bentuk-bentuk Bela Negara

  1. Bentuk penyelenggaraan usaha bela Negara

Persoalan kita sekarang adalah bagaimana wujud penyelenggaraan keikutsertaan warga negara dalam usaha pembelaan negara? Warga Negara Indonesia dapat turut berupaya dalam usaha pembelaan negara melalui:

  1. Pendidikan kewarganegaraan.
  2. Pelatihan dasar kemiliteran secara wajib.
  3. Pengabdian sebagai prajurit tentara nasional Indonesia secara suka rela atau secara wajib .
  4. Pengabdian sesuai dengan profesi.
  1. Bentuk bela Negara di lingkungan

Bentuk bela negara di lingkungan masyarakat menurut Rukmini (2011:7) yaitu:

  1. Siskamling
  2. Ikut serta menanggulangi akibat bencana alam
  3. Ikut serta mengatasi kerusakan masal dan komunal
  4. Keamanan rakyat (karma) yaitu berartisipasi langsung di bidang keamanan
  5. Perlawanan rakyat (wanra) yaitu bentuk partisipasi rakyat langsung dalam bidang pertahanan.
  6. Pertahanan sipil (hansip) yaitu kekuatan rakyat yang merupakan kekuatan pokok unsur – unsur perlindungan masyarakat yang dimanfaatkan dalam menghadapi bencana akibat perang dan bencana alam serta menjadi sumber cadangan nasional untuk menghadapi keadaan luar biasa

 

BAB III

ANALISIS MASALAH

 

A. MASALAH

“MENHAN:          HAK DAN KEWAJIBAN RAKYAT UNTUK BELA NEGARA”

Menurut Mentri Pertahanan (Menhan), Ryamizard Ryacudu menegaskan bahwa bela negara adalah hak dan kewajiban seluruh rakyat Indonesia yang telah tertuang dalam Undang-Undang Dasar 1945. Harus kita ketahui bersama bahwa pembelaan negara bukan semata-mata  tugas dari TNI dan aparat negara semata, tetapi segenap warga negara sesuai kemampuan dan profesinya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Bela negara juga tidak bisa kita artikan sebagai suatu tindakan dalam menangani kasus perang atau mengangkat senjata dalam menghadapi musuh saja tetapi bisa diwujudkan dalam upaya mempertahankan negara dengan cara meningkatkan rasa nasionalisme, yakni kesadaran berbangsa dan bernegara, menanamkan kecintaan terhadap tanah air, serta berperan aktif dalam memajukan bangsa dan negara. “jika untuk bela negara dibutuhkan payung hukum UU lagi, Kementrian Pertahanan mempersilakan untuk dibuat. Namun, payung UUD 1945 sudah cukup menjadi payung hukum program bela negara di Indonesia. yang paling penting dari program bela negara ini adalah soal kecintaan rakyat pada negara Indonesia.” Ujar Ryamizard Ryacudu dalam Republika.co.id, senin (19/10). Dengan kita mencintai tanah air Indonesia, maka kita akan merasa bangga dengan negara kita serta akan mau untuk menghargai sesama yang pada akhirnya akan menciptakan kedamaian dan tercapainya hak dan kewajiban warga negara dalam mempertahankan negara.

Sering kita jumpai bahwa terdapat perbedaan dalam pelaksanaan bela negara pada setiap negara. Seperti istilah wajib militer yang merupakan landasan dalam pembentukan bela negara. Dimana wajib militer ini, merupakan wujud dari bela negara yang mengajari dan memberikan aksi tanggap kepada masyarakat tentang dunia kemiliteran, sehingga masyarakat mempunyai bekal untuk menjaga dirinya. Biasanya wajib militer ini diterapkan pada negara-negara yang masih dalam keadaan perang. Seperti contohnya Korea Selatan dan Korea Utara yang mewajibkan warganya untuk mengikuti wajib militer. Tidak seperti Indonesia yang tidak menerapkan sistem wajib militer, karena Indonesia memang tidak dalam keadaan perang.

Dalam menjalankan aksi bela negara pastinya membutuhkan dana anggaran untuk mendukungnya. Dana ini akan digunakan dalam berbagai macam keperluan dalam bela negara seperti untuk membeli peralatan dan fasilitas serta upah-upah atau hadiah bagi warga negara yang turun langsung dalam bela negara. Sedangkan untuk sumber dana sendiri Menurut Menhan, menegaskan bahwa untuk sumber anggaran di Indonesia ada banyak. Sumber ini dapat dari APBN ditambah sumber pendanaan lain. Namun anggaran di Indonesia terlalu kecil jika dibandingkan dengan anggaran bela negara yang di berlakukan di negara-negara lain. Bahkan jika dibandingkan secara angka, nilai anggaran bela negara di Indonesia seperti tidak ada artinya dibandingkan negara lain. Meski demikian, kita harus bersyukur karena negara kita masih aman dan semoga tetap aman.

 

B.ANALISIS

Menurut  UUD 1945 Pasal 27 Ayat 3: “Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam pembelaan negara.” Mengapa bela negara diwajibkan bagi seluruh rakyat Indonesia, karena belanegara ini merupakan suatu perwujudan yang nyata bagi rakyat dalam mempertahankan kekuasaan baik wilayah, ekonomi, budaya, dan politik negara agar keberadaanya dapat terjaga. Bentuk dalam bela negara ini dapat dilakukan dalam berbagai hal seperti yang telah dibahas pada bab sebelumnya. Salah satunya dengan mengikuti kegiatan siskamling. Pada kegiatan ini, warga diajak untuk secara aktif menjaga wilayah penduduk di sekitar desa. Ini merupakan contoh kecil tetapi mempunyai peran yang luar biasa terhadap keamanan wilayah desa tersebut. apabila kegiatan siskamling ini tidak dilakukan pastinya kemungkinan besar wilayah tersebut akan terjadi kasus pencurian, meski juga masih ada desa yang aman-aman saja saat tidak ada Siskamling. Namun ini merupakan upaya dalam langkah antisipasi.

Pasal 30 Ayat 4: “Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai alat negara yang menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat bertugas melindungi, mengayomi, melayani masyarakat, serta menegakkan hukum.”seperti pembahasan diatas, bahwa setiap warga negara diwajibkan untuk bela negara. Pastinya untuk mengantisipasi dalam hal keamanan, negara juga membuat suatu badan yang disebut TNI dan kepolisian. TNI dan kepolisian ini bertugas untuk menjamin keamanan dan ketertiban di negara Indonesia. Berbeda dengan siskamling yang hanya mempertahankan wilayah lingkungan desa sekitar. TNI dan kepolisian lebih luas dari ini, dan mencakup negara. Intinya negara telah menjamin keamanan negara, tetapi kita sebagai warga negara juga harus mengupayakan bela negara itu sendiri. seperti halnya yang telah disebutkan dalam UUD 1945 Pasal 4: “Pertahanan negara bertujuan untuk menjaga dan melindungi kedaulatan negara, keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan segenap bangsa dari segala bentuk ancaman.”

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

 

A. Simpulan

Bela negara merupakan hal yang sangat penting untuk menjaga Ketahanan Nasional dari segala ancaman. Maka dari itu perlu rasa tanggungjawab dari setiap rakyat Indonesia untuk melakukan upaya bela negara. Rasa tanggungjawab perlu di tumbuhkan sejak dini bahkan terus menerus untuk di kembangkan menyeluruh di bangsa Indonesia ini agar setiap rakyat Indonesia dimanapun dia berada, seluruh rakyat Indonesia mempunyai kesadaran untuk melakukan upaya bela negara. Upaya bela negara tidak perlu langsung ikut melakukan pertempuran di garis depan, tapi cukup perlu melakukan hal-hal sederhana di sekitar kita.

Sebagai warga Negara yang baik, kita wajib menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Yaitu dengan menjaga keutuhan dan kedaulatan Negara Republik Indonesia (NKRI) untuk bela negara menurut UU RI No. 20 Tahun 1982 tentang Pokok-pokok Pertahanan Keamanan Negara pasal 1 ayat (2). Bahwa bela Negara sebenarnya bukan hanya berhubungan dengan upaya untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari ancaman dan serangan musuh berupa serangan atau gencatan senjata, namun merupakan upaya dari seluruh elemen Negara untuk mempertahankan dan memajukan bangsa dan Negara Indonesia di segala bidang, baik luar maupun dari dalam Negara Indonesia sendiri.

Usaha pembelaan negara dan pertahanan keamanan negara sebenarnya bertumpu pada kesadaran setiap warga negara akan hak dan kewajibannya. Kesadaran demikian perlu ditumbuhkan melalui proses motivasi untuk mencintai tanah air, mencintai bangsa dan negaranya dan untuk ikut serta dalam membela pertahanan dan keamanan negara. Proses motivasi untuk membela negara dan bangsa akan berhasil, jika setiap warga memahami keunggulan dan kelebihan negara dan bangsanya. Disamping itu setiap warga negara hendaknya juga memahami kemungkinan segala macam ancaman terhadap eksistensi bangsa dan negara Indonesia, khususnya di masa yang akan datang. Kontribusi kita sebagai warga Negara dalam menjaga keutuhan dan kedaulatan NKRI adalah dengan cara tetap patuh dan memegang teguh prinsip Pancasila. Yaitu dengan menjadikan nilai pancasila sebagai dasar Negara dalam menuntun langkah kita. Kita sebagai warga Negara dapat ikut turut serta dalam bela Negara melalui beberapa usaha bela Negara seperti pendidikan kewarganegaraan, latihan militer hingga pengabdian kita sesuai profesi kita. Dapat pula diwujudkan dalam bentuk bela Negara di bidang lingkungan, seperti jaga poskampling, menanggulangi bencana alam, hingga membantuk pertahanan sipil.

 

B. Saran

  1. Kemerdekaan yang telah kita miliki harus tetap dijaga dan dipertahankan. Sebab, meskipun bangsa Indonesia sudah merdeka, akan tetapi bukan berarti lepas dari segala bentuk ancaman baik dari luar maupun dari dalam NKRI.
  2. Hindari keinginan untuk membangun Negara dalam Negara yang dapat memecah persatuan dan kesatuan NKRI. Bahwasanya kepentingan Negara Indonesia merupan kepentingan yang harus lebih diutamakan dari pada kepentingan kelompok tertentu.
  3. Mulailah membela Negara dari hal terkecil yang dapat kita lakukan dari lingkungan terdekat kita. Sebagai pelajar hendaknya kita belajar yang rajin, menghormati guru, dan saling  menghargai teman. Begitu pula dengan guru sebagai pendidik hendaklah memperhatikan anak didiknya, sejauh mana perkembangan ilmunya dan harus terus meningkatkan dan memupuk jiwa nasionalis anak didik.

             

DAFTAR PUSTAKA

 

  • Abidin, Zainal., dkk. 2014. Buku Ajar Pendidikan Bela Negara. Jawa Timur: UPN “Veteran” Jawa Timur.
  • Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia  Nomor IV/MPR/1999 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara Tahun 1999-2004.
  • Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia  Nomor VI/MPR/2000 tentang Pemisahan Tentara Nasiona Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia.
  • Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia  Nomor VII/MPR/2000 tentang Peran Tentara Nasiona Indonesia dan Peran Kepolisian Negara Republik Indonesia.
  • Menhan. 2015. Hak dan Kewajiban Rakyat Dalam Bela Negara. Tersedia: http://www.republika.co.id/berita/nasional/hukum/15/10/19/nwghaw282menhan-hak-dan-kewajiban-rakyat-untuk-bela-negara. Diakses pada 20 Oktober 2015.
  • Rukmini, Manis. 2011. Bela Negara. Makalah. Program Diploma Manajemen Informatika STMIK Amikom Yogyakarta. Tersedia: http://research.amikom.ac.id/index.php/DMI/article/viewFile/6398/3829. Diakses pada 15 Oktober 2015.
  • Sunarso, dkk. 2013. Pendidikan Kewarganegaraan: PKn untuk Perguruan Tinggi. Cetakan Kedua. Yogyakarta: UNY Press.
  • Sutarman. 2011. Persepsi dan Pengertian Pembelaan Negara Berdasarkan UUD 1945 (Amandemen). Jurnal Magistra No. 75 Th. XXIII Maret 2011.
  • Undang – Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
  • Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.
  • Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 1982 tentang Pokok-pokok Pertahanan Keamanan Negara.
  • Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara.
  • Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.

 

Peran Pendidikan Karakter Dalam Pembentukan Sumber Daya Manusia

PERAN PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PEMBENTUKAN SUMBER DAYA MANUSIA BERKUALITAS DALAM MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN (MEA)

Sebagai Ujian Akhir Semester Mata Kuliah: Bahasa Sebagai Sarana Komunikasi Ilmiah

Oleh:

Naufal Zaki (1818154677)

Kelas G 2015

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

2018

 

 

Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak. Etimologi kata pendidikan itu sendiri berasal dari bahasa Latin yaitu ducare, berarti “menuntun, mengarahkan, atau memimpin” dan awalan e, berarti “keluar”. Jadi, pendidikan berarti kegiatan “menuntun ke luar”. Setiap pengalaman yang memiliki efek formatif pada cara orang berpikir, merasa, atau tindakan dapat dianggap pendidikan.Pendidikan merupakan usaha sadar untuk memanusiakan manusia. Usaha sadar berarti bahwa kegiatan pendidikan itu dirancang untuk mencapai suatu tujuan. Tujuan pendidikan itu sangat beragam dan tergantung pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan yang diselenggarakan.[1]

Tujuan pendidikan nasional yang dirumuskan dalam UU SISDIKNAS adalah untuk mengembangkan potensi anak didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Namun faktanya, Idealisme pada pendidikan mengedepankankan nilai-nilai humanisme yang mendasar sehingga dengan niai-nilai tersebut mampu menbentuk manusia-manusia yang berkualitas. Banyak realita di lapangan yang menunjukkan bahwa kualitas manusia Indonesia sebagai sumber daya yang potensial masih jauh dari harapan. Hal ini terjadi akibat rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia. Paparan Menteri pendidikan. Anies Baswedan, yang disampaikan pada silahturahmi dengan kepala dinas Jakarta pada 1 Desember 2014, menyatakan bahwa pendidikan di Indonesia berada dalam posisi gawat darurat. Beberapa kasus yang menggambarkan kondisi tersebut diantaranya adalah: “ (1) rendahnya layanan pendidikan di Indonesia,(2) rendahnya mutu pendidikan di Indonesia, (3) rendahnya mutu pendidikan tinggi di Indonesia, (4) rendahnya kemampuan literasi anak-anak Indonesia.”[2]

Untuk mengentas masalah SDM di Indonesia, transformasi pendidikan merupakan suatu keniscayaan karena dengan ini pendidikan manusia Indonesia seutuhnya dapat terlaksana.         Dengan terlaksananya pendidikan manusia seutuhnya, pendidikan akan mampu mencetak anak-anak bangsa yang potensial dan siap berperan aktif dalam masyarakat dunia. Sebagai generasi yang potensial, empat pilar pendidikan dapat terintegrasi dalam diri mereka yang nantinya memberikan kesejahteraan bagi kehidupan mereka di masa depan. Menurut UNESCO empat pilar tersebut adalah: learning to know, learning to do, learning, tobe, dan learning to live together.[3]

Dengan pendidikan, segenap potensi diri dari seorang individu akan dapat berkembang dengan baik karena segenap kompetensi yang dimiliki oleh manusia akan diolah dengan baik sehingga cita-cita mulia dari pelaksanaan pendidikan untuk menghasilkan manusia-manusia yang berkualitas; manusia yang mulia dan berkompetensi akan dapat terwujud. Hal ini senada dengan Soltis (2000) yang mengungkapkan bahwa: “Pendidikan membawa kesadaran tentang pernyataan pikiran yang diharapkan dalam perilaku yang bermoral, ini merupakan suatu proses netral berperan sebagai sarana yang berharga maka anak-anak harus dididik guna melengkapi mereka dengan pekerjaan untuk meningkatkan produktifitas dalam masyarakat.”[4]

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) adalah salah satu bentuk pasar dunia dalam lingkup Asia. Dengan adanya MEA akan terjadi perdagangan barang, jasa, modal dan investasi yang bergerak bebas tanpa halangan secara geografis diharapkan pertumbuhan ekonomi di kawasan ini menjadi merata dan menjelma menjadi pasar dunia. Kesiapan Indonesia sangat diperlukan menghadapi MEA bila tidak ingin bangsa Indonesia hanya akan menjadi pangsa pasar bagi negara ASEAN lainnya. Kesiapan Indonesia diperlukan tidak hanya pada proteksi produk dalam negeri namun juga pada sisi dunia ketenagakerjaan. Angkatan kerja yang terampil penting untuk dapat memanfaatkan semua kesempatankesempatan ini. Tanpa komposisi angkatan kerja yang tepat dan terampil, penyatuan pasar ASEAN berpeluang menimbulkan lebih banyak masalah ketimbang kesempatan.[5]

Keberadaan MEA memberikan dampak baik dampak positif maupun negative.Dilihat dari dampak positifnya, MEA memacu pertumbuhan investasi baik dari luar maupun dalam negeri sehingga akan membuka lapangan pekerjaan baru. Sehingga penduduk Indonesia akan mendapatkan kesempatan untuk mencari pekerjaan di negara ASEAN lainnya dengan aturan yang relatif akan lebih mudah.

Adapun dampak negatif dari MEA, yaitu keberadaan MEA mendorong adanya pasar barang dan jasa secara bebas. Hal tersebut akan mengakibatkan tenaga kerja asing dengan mudah masuk dan bekerja di Indonesia sehingga mengakibatkan persaingan tenaga kerja yang semakin ketat di bidang ketenagakerjaan. Para tenaga kerja dari negara MEA yang memiliki kompetensi kerja yang lebih tinggi, tentunya akan memiliki kesempatan lebih luas untuk mendapatkan keuntungan ekonomi di dalam  MEA.Hal inilah yang akan menjadi ujian baru bagi masalah dunia ketenagakerjaan di Indonesia sebagai suatu bangsa yang sedang berkembang dengan kualitas SDM yang rendah.[6]

Permasalahan SDM di Indonesia menjadi semakin kompleks terindikasi dengan banyaknya lulusan –lulusan pendidikan formal dari berbagai jenjang yang tidak terserap dalam dunia kerja. disebabkan oleh banyak faktor diantaranya;

1) jumlah penduduk yang semakin hari semakin bergejolak, 2) pertumbuhan angkatan kerja lebih besar ketimbang ketersediaan lapangan kerja, 3) ditribusi penduduk antar daerah tidak merata, 4) ketidaksesuaian kompetensi SDM dengan pasar kerja, distribui informasi tentang pasar kerja yang lambat atau timpang, tingginya tingkat pengangguran.[7]

Terbatasnya kesempatan kerja dan ketidakmampuan menciptakan lapangan kerja menimbulkan adanya pengangguran pada usia kerja dari berbagai latar belakang tingkat pendidikan. Selanjutnya, menjadi pertanyaan yang serius juga antara kesesuaian lulusan pendidikan tinggi dengan dunia kerja di Indonesia bila dilihat dari capaian para lulusan pendidikan tinggi Indonesia dalam dunia kerja apabila banyak dari lulusan perguruan tinggi di Indonesia yang bekerja diberbagai sektor dengan pertumbuhan yang lambat.17 Ini menunjukkan adanya mata rantai yang putus antara pendidikan tinggi dan dunia kerja. Perguruan tinggi belum mampu menghasilkan lulusan dengan harga jual yang tinggi berbekal dengan ilmu yang telah dipelajari meskipun secara umum lulusan pendidikan tinggi memiliki peluang kerja lebih besar dibanding lulusan tingkat SMA, SMP, ataupun SD.

Saat ini masyarakat Indonesia berada pada lingkungan global yang sangat dinamis dan kompleks yang akan menghadapi faktor-faktor yang berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadapi kehidupan masyarakat. Salah satu aspek penting yang harus dipersiapkan dalam menghadapi lingkungan global AEC tersebut adalah dengan mempersiapkan sumber daya manusia yang kompeten. Kualitas sumber daya manusia merupakan faktor penentu keberhasilan pembangunan dan kemajuan suatu bangsa. Persiapan sumber daya manusia yang kompeten tersebut dapat dimulai dari peran dan kesiapan mahasiswa sebagai kaum intelektual muda bangsa.

Dengan memiliki inovasi dan kretivitas, mahasiswa juga dapat berperan sebagai wirausaha muda yang memiliki daya kreativitas dan inovasi yang mampu bersaing dengan mahasiswa dari negara lain. Sehingga dengan menjadi wirusaha muda, mahasiswa akan membantu dalam penciptaan lapangan kerja baru dan menumbuhkan sikap pada setiap pribadi mahasiswa untuk menjadi job creator bukan sebagai job seeker sehingga akan mampu menciptakan produk-produk baru yang inovatif, bernilai daya guna tinggi dan tidak kalah dalam bersaing dengan negara-negara lain.

Dengan adanya AEC 2015, maka akan terbuka kesempatan kerja seluas-luasnya bagi warga negara ASEAN. Setiap warga negara di ASEAN dapat dengan mudah keluar masuk ke negara-negara AEC untuk mendapatkan pekerjaan tanpa adanya hambatan dari negara yang dituju. Pembahasan yang menyangkut tenaga kerja di era AEC yang telah dirumuskan dalam AEC blue print hanya terbatas pada pengaturan khusus untuk tenaga kerja terampil tidak ada pembahasan menyangkut tenaga kerja tidak terampil. Seperti yang diketahui tenaga kerja terampil adalah tenaga kerja yang mempunyai keterampulan dan keahlian khusus serta pengetahuan dan kemampuan di bidang-bidang tertentu. Dalam hal ini sangat jelas bahwa tenaga kerja terampil (skilled labour) yang sangat diperlukan dalam AEC sehingga mahasiswa harus memiliki keterampilan dan keahlian untuk memenangkan persaingan di AEC.

Dari paparan contoh diatas menunjukkan bahwa tuntutan SDM yang terampil dan berkualitas merupakan syarat mutlak agar bangsa Indonesia tidak hanya menjadi pangsa pasar bagi negara-negara ASEAN lainnya namun ikut serta sebagai pelaku utama dalam ajang pasar dunia.

untuk membentuk karakter peserta didik juga dapat dilakukan dengan cara merancang manajemen sekolah yang berbasis karakter. Manajemen pada dasarnya merupakan suatu proses penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran atau tujuan tertentu. Sementara itu, manajemen pendidikan sebagai tugas atau yang di sekolah disebut manajemen sekolah adalah fungsi-fungsi manajemen yang mengelola bidang tugas peserta didik, kurikulum, tenaga pendidik dan kependidikan, pembiayaan pendidikan, sarana dan prasarana, serta hubungan masyarakat (humas).

Menurut Kemendiknas pendidikan karakter di sekolah sangat terkait dengan manajemen atau pengelolaan sekolah. Pengelolaan yang dimaksud adalah bagaimana pendidikan karakter direncanakan, dilaksanakan, dan dikendalikan dalam kegiatan-kegiatan di sekolah secara memadai. Pengelolaan tersebut antara lain meliputi nilai-nilai yang perlu ditanamkan, muatan kurikulum, pembelajaran, penilaian, pendidik dan tenaga kependidikan, dan komponen terkait lainnya.  Sekolah sebagai sebuah lembaga pendidikan dapat dikategorikan sebagai lembaga industri mulia (noble industry) karena mengembang misi ganda yaitu profit dan sosial. Misi profit yaitu untuk mencapai keuntungan. Kemudian misi sosial bertujuan untuk mewariskan dan menginternalisasikan nilai-nilai luhur. Nilai-nilai luhur yang ditanamkan melalui pendidikan karakter. Sekolah diharapkan mampu melakukan perencanaan, kegiatan, dan evaluasi terhadap tiap-tiap komponen pendidikan yang di dalamnya memuat nilai-nilai karakter secara terintegrasi (terpadu). Sekolah dapat melaksanakan pendidikan karakter yang terpadu dengan sistem pengelolaan sekolah itu sendiri.[8] Menurut saya, maksud dari kalimat diatas adalah sekolah mampu merencakan pendidikan (program dan kegiatan) yang menanamkan nilai-nilai karakter, melaksanakan program dan kegiatan yang berkarakter, dan melakukan pengendalian mutu sekolah secara berkarakter. Keterkaitan antara berbagai komponen, proses manajemen berbasis sekolah dan nilai-nilai karakter yang melandasinya meliputi nilai ketuhanan, kebersamaan, lingkungan, kebangsaan, dan diri sendiri.

Kualitas kehidupan sekolah biasanya tampak dalam bentuk bagaimana pemimpin sekolah, pendidik dan tenaga kependidikan bekerja, belajar, dan berhubungan satu sama lainnya sebagaimana telah menjadi tradisi sekolah.[9] Pendapat lain menyatakan bahwa pengembangan nilai-nilai dalam pendidikan karakter melalui budaya sekolah mencakup semua kegiatan-kegiatan yang dilakukan kepala sekolah, guru, konselor, tenaga administrasi dan office boy keika berkomunikasi dengan peserta didik dan menggunakan fasilitas sekolah.[10]

Pengembangan budaya sekolah dan pusat kegiatan belajar dilakukan melalui kegiatan pengembangan diri, yaitu: (1) Kegiatan rutin, yaitu kegiatan yang dilakukan peserta didik secara terus menerus dan konsisten setiap saat. Misalnya kegiatan upacara hari Senin, upacara besar kenegaraan, pemeriksaan kebersihan badan,dan piket kelas; (2) Kegiatan spontan yang dilakukan peserta didik secara spontan pada saat itu juga, misalnya, mengumpulkan sumbangan ketika ada teman yang terkena musibah atau Prosiding Seminar Nasional Inovasi Pendidikan Inovasi Pembelajaran Berbasis Karakter dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 279 sumbangan untuk masyarakat ketika terjadi bencana; (3) Keteladanan yang merupakan perilaku, sikap guru,tenaga kependidikan dan peserta didik dalam memberikan contoh melalui tindakan-tindakan yang baik sehingga diharapkan menjadi panutan bagi peserta didik lain. Misalnya nilai disiplin (kehadiran guru yang lebih awal dibanding peserta didik), kebersihan, kerapihan, kasih sayang, kesopanan, perhatian, jujur, dan kerja keras dan percaya diri; (4) Pengkondisian yaitu penciptaan kondisi yang mendukung keterlaksanaan pendidikan karakter, misalnya kebersihan badan dan pakaian,toilet yang bersih, tempat sampah, halaman yang hijau dengan pepohonan, poster kata-kata bijak di sekolah dan di dalam kelas. Dalam proses pendidikan dikenal dua kegiatan yang elementer, yaitu kegiatan intrakurikuler dan kegiatan ekstrakurikuler.[11] Kegiatan intrakurikuler merupakan kegiatan pokok pendidikan yang didalamnya teradi proses belajar mengajar antara peserta didik dan pendidik untuk mendalami materi-materi ilmu pengetahuan. Sementara kegiatan ekstrakurikuler dapat diartikan sebagai kegiatan pendidikan yang dilakukan di luar jam pelajaran tatap muka yang dilaksanakan di dalam dan atau di luar lingkungan sekolah untuk memperluas pengetahuan, meningkatkan keterampilan, dan menginternalisasi nilai-nilai atau aturan-aturan agama serta norma-norma sosial, baik lokal, nasional, maupun global untuk membentuk insan paripurna.

Adapun tujuan kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan tujuan yang tercantum dalam Permendiknas Nomor 39 Tahun 2008 yaitu, (1) Mengembangkan potensi peserta didik secara optimal dan terpadu yang meliputi bakat, minat, dan kreativitas; (2) Memantapkan kepribadian peserta didik untuk mewujudkan ketahanan sekolah sebagai lingkungan pendididkan sehingga terhindar dari usaha dan pengaruh negatif dan bertentangan dengan tujuan Pendidikan; (3) Mengaktualisasikan potensi peserta didik dalam pencapaian prestasi unggulan sesuai bakat dan minat; (4) Menyiapkan peserta didik agar menjadi warga masyarakat yang berakhlak mulia, demokratis, menghormati hak-hak asasi manusia dalam rangka mewujudkan masyarakat yang madani (civil society).[12]

Pendidikan Nasional berfungsi dan bertujuan untuk membentuk karakter (watak) peserta didik menjadi insan kamil atau manusia sempurna.[13] Dalam UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3 menyatakan bahwa fungsi Pendidikan Nasional adalah untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, dan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga yang demokratis, serta bertanggungjawab.

MEA menuntut setiap negara di wilayah ASEAN memiliki sumber daya manusia yang tidak hanya unggul dalam pengetahuan atau intelektualitas tetapi juga berkepribadian baik, artinya memiliki karakter yang sesuai dengan nilai budaya dan karakter bangsanya. Salah satu peran pendidikan karakter dalam pembentukan SDM yang berkualitas dalam menghadapi MEA yaitu menjadikan perilaku peserta didik yang sesuai dengan nilai-nilai yang dikembangkan oleh sekolah.

Nilai-nilai yang dikembangkan oleh sekolah ditanamkan melalui kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler agar peserta didik terbiasa mengaplikasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari sehingga terbentuklah perilaku peserta didik yang baik sebagai bekal dalam kehidupan bermasyarakat. Peran pendidikan karakter dalam pembentukan SDM yang berkualitas dalam menghadapi MEA juga dapat meningkatkan kecerdasan emosi dan spiritual peserta didik. Kecerdasan emosional adalah gabungan kemampuan emosional dan sosial. Seseorang yang mempunyai kecerdasan emosional akan mampu menghadapi masalah yang terjadi dalam kehidupan karena biasanya orang yang mempunyai kecerdasan emosional mempunyai kesadaran akan emosinya.

Selanjutnya, peran pendidikan karakter dalam menghadapi MEA yaitu menguatkan dan mengembangkan nilai-nilai kehidupan yang sesuai dengan karakter dan budaya bangsa. Tujuan pertama pendidikan karakter adalah memfasilitasi penguatan dan pengembangan nilai-nilai tertentu sehingga terwujud perilaku anak, baik pada saat masih bersekolah, maupun setelah lulus. Penguatan dan pengembangan memiliki makna bahwa pendidikan dalam settingsekolah bukan merupakan dogmatisasi nilai, tetapi sebuah proses yang membawa peserta didik agar memahami dan merefleksi pentingnya mewujudkan nilai-nilai dalam perilaku keseharian (Wiyani, 2013: 71).[14]

 

DAFTAR PUSTAKA

Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta (APTISI), 2014, Seminar Nasional Kesiapan Perguruan Tinggi Di Indonesia dalam Memasuki Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015. Akses online pada 1 Juli 2018.

Angga Dunia Saputra. 2014. Asean Economic Community (AEC) 2015; Seberapa Siapkah Mahasiswa. Akses Online Himpunan Pengusaha Muda Indonesia. PT. Universitas Indonesia. Akses online pada 1 Juli 2018.

Bagus Prasetyo, 2018 “Menilik Kesiapan Dunia Ketenagakerjaan Indonesia Menghadapi MEA”. Rechtsvinding online Journal. Akses online pada 1 Juli 2018.

Kualitas tenaga kerja. http://digilib.uinsby.ac.id/508/3/Bab%202, diakses online pada 1 Juli 2018.

Pembelajaran abad 21.http://edukasi101.com/innovated-pembelajaran-abadke- 21-dan-transformasi-pendidikan, diakses online pada 1 Juli 2018.

Adiministrator, 2008. Wardiman Kembali Ingatkan Link and Match., http://archive.web.dikti.go.id. Diakses online pada 1 Juli 2018.

 

Peran Gereja Dalam Pembentukan Karakter Pemuda

MAKALAH

 

MATA KULIAH “TEOLOGI SISTEMATIKA II”

JUDUL : PERAN GEREJA DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER PEMUDA

 

 

Oleh  : Putri Adelvia Paulus

SEMESTER        : IV

PRODI                 : PAK

 

 

SEKOLAH TINGGI TEOLOGI GEREJA KRISTEN SULAWESI TENGAH

 

 

Tentena, 2018

 

 

KATA PENGANTAR

Puji syukur limpah terimakasih saya panjatkan ke hadirat Tuhan yang maha kuasa, oleh karena kasih dan anugerahNya saya dapat menyusun Makalah ini untuk memenuhi tugas ujian tengah semester dalam mata Kuliah “Teologi sistematika II”.

Untuk itu saya mengucapkan terimakasih  kepada :

  1. Dosen pengampuh Mata kuliah Teologi sistematika II yakni F Kulas. M, Th yang telah membimbing, dan membagi ilmu pengetahuan kepada kami mahasiswa dalam proses belajar dan mengajar di kelas.
  2. Keluarga yang telah memberi semangat dalam saya menjalankan study di STT GKST.
  3. Teman-teman yang terus berjuang bersama dan saling memberi dorongan.

Untuk di ketahui bahwa dalam penyusunan Makalah ini sangat jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis menyampaikan permohonan maaf, kiranya kritik dan saran yang membangun dari pembaca, akan menjadikan motivasi bagi penulis sehingga dalam penyusunan Makalah selanjutnya lebih baik lagi .

Dengan demikian ini yang dapat penulis sampaikan, semoga Makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Terimakasih , Tuhan memberkati.

 

 

Tentena, 2018

 

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR………………………………………………………………………………………………….2

 

DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………………………………3

 

BAB 1 PENDAHULUAN……………………………………………………………………………………………4

  1. LATAR BELAKANG………………………………………………………………………………….4
  2. RUMUSAN MASALAH……………………………………………………………………………..4
  3. …………………………………………………………………………………………………..4

BAB II PEMBAHASAN……………………………………………………………………………………………..5

  1. Pemahaman umum tentang Gereja………………………………………………………………………5
  2. Pengertian karakter, unsur , dan proses pembentukan karakter……………………………….6
  3. Istilah kaum muda…………………………………………………………………………………………….8
  4. Kaum muda sebagai tulang punggung Gereja……………………………………………………….9
  5. Peran Gereja dalam pembentukan karakter kaum muda……………………………………….10

BAB II PENUTUP

  1. ……………………………………………………………………………………………..15
  2. ………………………………………………………………………………………………………..16

 

 

 

BAB 1

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

            Kita seringkali mendengar ungkapan bahwa sangat sulit untuk mencari orang yang jujur di jaman sekarang ini. Seiring berjalannya waktu yang semakin hari semakin berkembang, kita pun sering mendengar kabar mengenai tindakan kekerasan, tawuran antara pelajar, narkoba, seks bebas, dan bahkan yang miris lagi adalah aborsi dan pembunuhan yang di lakukan anak muda jaman sekarang ini. Saya coba mencari tahu , apa sebenarnya yang salah dari manusia jaman sekarang ini, bahkan ada pula orang-orang yang berkualitas secara akademis tapi tidak memiliki moral.

Dan saya pribadi mengakui bahwa karakter manusia sangat menurun kualitasnya. Ini bukan lagi menjadi pembahasan yang baru tetapi akan berkepanjangan, pada saat ini meningkatnya tindakan kekerasan terhadap kalangan remaja, pemuda, penggunaan bahasa dan kata-kata yang menyakiti hati orang lewat fitnaan atau pencemaran nama baik dalam media sosial, meningkatkan perilaku merusak diri. Semakin tidak ada gunanya pedoman moral baik dan buruk. Semakin rendahnya rasa tanggung jawab individu dengan membudayakan rasa ketidakjujuran, dan menyimpan rasa curiga, dendam, dan kebencian antar sesama.

Menurut pandangan saya pribadi sistem pendidikan yang di ikuti sekarang ini lebih mementingkan pengetahuan akademik dan gelar dengan mengabaikan pendidikan karakter.

Maka dengan keadaan saat ini, seharusnya kita lebih menyadari bahwa tujuan pendidikan Kristen adalah sarana pembentukan moral sehingga mampu mewujudkan  karakter Kristiani yang di jelaskan lewat Alkitab, karena itu saya berkeinginan untuk menjelaskan pembentukan karakter melalui fungsi agama yang mewujudkan Gereja yang sebenarnya adalah tubuh Kristus yang ada dalam kita.

  1. Rumusan Masalah
  2. Apa yang di maksud dengan Gereja secara Alkitabiah ?
  3. Jelaskan pengertian Karakter, unsur karakter dan proses pembentukan karakter?
  4. Siapa yang di sebut kaum muda?
  5. Pengertian pemuda sebagai tulang punggung Gereja ?
  6. Bagaimana Peran Agama Kristen dalam pembentukan karakter pemuda

 

 

  1. Tujuan penulisan

            Untuk mengetahui Peran dan fungsi Gereja dan pendidikan Agama Kristen dalam pembentukan Karakter  pemuda

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Gereja
  2. Gereja sebagai umat Allah

[1]Pemahaman tentang arti dan makna Gereja dalam hidup sehari-hari:

Gereja adalah gedung, Gereja adalah rumah Allah, tempat beribadat, misa, atau merayakan ekaristi Umat Katolik atau Umat kristiani pada umumnya.

Gereja adalah ibadat; Gereja adalah lembaga rohani yang menyalurkan kebutuhan manusia dalam relasinya dengan Allah lewat ibadat-ibadat. Atau, Gereja adalah lembaga yang mengatur dan menyelenggarakan ibadat-ibadat. Gereja adalah persekutuan Umat yang beribadat.

Gereja adalah ajaran; Gereja adalah lembaga untuk mempertahankan dan mempropagandakan seperangkat ajaran yang biasanya dirangkum dalam sebuah buku yang disebut Katekismus. Untuk bisa menjadi anggota Gereja, si calon harus mengetahui sejumlah ajaran/doktrin/dogma. Menjadi anggota Gereja berarti menerima sejumlah “kebenaran”.

Gereja adalah Umat pilihan; Gereja adalah kumpulan orang yang dipilih dan dikhususkan Allah untuk diselamatkan.

Gereja adalah badan sosial; Gereja adalah Lembaga yang menyelenggarakan sekolah-sekolah, rumah sakit-rumah sakit dan macam-macam usaha untuk menolong orang miskin.

  1. Pemahaman umum tentang Gereja :

[2]Kata “Gereja”, berasal dari bahasa Portugis, igreja yang diambil dari kata bahasaYunani ekklesia , berarti ‘kumpulan’, ‘pertemuan’, ‘rapat’. Paus Fransiskus menjelaskan ekklesia sebagai “pertemuan akbar orang-orang yang dipanggil”:Allah memanggil kita semua untuk menjadi keluarga-Nya.

Gereja, adalah kasih Allah yang diaktualisasikan dalam mencintai diri-Nya dan orang lain, semua orang, tanpa membeda-bedakan.

Gereja menjadi nyata ketika karunia Roh Kudus memenuhi hati para Rasul dan membakar semangat mereka untuk pergi ke luar dan memulai perjalanan mereka untuk mewartakan Injil, menyebarkan kasih Allah. Hidup meng Umat pada dasarnya merupakan hakikat Gereja itu sendiri, sebab hakikat Gereja adalah persaudaraan cinta kasih seperti yang dicerminkan oleh hidup Umat Perdana ( Kis 2: 41-47).

  1. Pengertian Karakter , unsur, dan proses pembentukan karakter

[3]Karakter adalah tabiat,watak, sifat-sifat kejiwaan atau budi pekerti yang tumbuh dan tercermindi dalam sikap atau tingkah laku seseorang yang kemudian akan membedakan orang tersebut dengan orang lain. Pada dasarnya setiap manusia memiliki karakter yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.

  • Unsur-Unsur Karakter :

Secara psikologis dan sosiologis manusia memiliki beberapa unsur yang berkaitan dengan terbentuknya karakter.  Unsur tersebut menunjukan bagaimana karakter seseorang. Unsur tersebut diantaranya :

  1. Sikap

Sikap seseorang merupakan bagian dari karakter, bahkan sikap dianggap sebagai cerminan karakter orang tersebut. Sikap seseorang terhadap sesuatu yang ada di hadapannya, biasanya menunjukan bagaimana karakter orang tersebut. Jadi, semakin baik sikap seseorang maka dikatakan orang tersebut memiliki karakter yang baik. Sebaliknya, semakin tidak baik sikap seseorang maka dikatakan orang tersebut memiliki karakter yang tidak baik.

  1. Emosi

Emosi yaitu gejala dinamis dalam situasi yang dirasakan manusia yang disertai dengan efek pada kesadaran, perilaku, dan ini juga merupakan proses fisiologis. Emosi ini identik dengan perasaan yang kuat.

  1. Kepercayaan

Kepercayaan merupakan komponen kognitif manusia dari faktor sosio psikologis. Kepercayaan mengenai sesuatu itu benar atau salah atas dasar bukti, sugesti otoritas, pengalaman dan intuisi sangat penting dalam membangun watak dan karakter manusia. Jadi, kepercayaan memperkukuh eksistensi diri dan hubungan dengan orang lain.

  1. Kebiasaan dan Kemauan

Kebiasaan adalah aspek perilaku manusia yang menetap, berlangsung secara otomatis pada waktu yang lama, tidak direncanakan dan diulangi berulang kali. Sedangkan kemauan adalah kondisi yang mencerminkan karakter seseorang karena kemauan berkaitan erat dengan tindakan yang mencerminkan perilaku orang tersebut.

  1. Konsepsi diri (Self-Conception)

Konsepsi diri adalah proses totalitas, baik sadar maupun tidak sadar tentang bagaimana karakter dan diri seseorang terbentuk. Jadi, konsepsi diri adalah bagaimana kita harus membangun diri, apa yang kita inginkan dan bagaimana kita menempatkan diri dalam kehidupan.

  • [4]Proses Pembentukan Karakter

Karakter seseorang pada dasarnya terbentuk melalui proses pembelajaran yang cukup panjang. Karakter manusia tidaklah dibawa sejak lahir, karena karakter terbentuk oleh faktor lingkungan dan juga orang yang ada sekitar lingkungan tersebut.

Karakter terbentuk melalui berbagai proses pembelajaran yang didapatkan dari berbagai tempat seperti rumah, sekolah dan juga lingkungan tempat tinggal. Pihak yang berperan dalam pembentukan karakter seseorang antara lain keluarga, guru dan teman.

Karakter biasanya berkaitan erat dengan tingkah laku seseorang. Jika seseorang memiliki perilaku yang baik maka kemungkinan besar orang tersebut memiliki karakter yang baik pula. Namun, jika seseorang memiliki perilaku yang buruk maka kemungkinan besar karakter yang orang tersebut juga buruk.

 

3.Istilah kaum muda

[5]Untuk mengerti dan memahami kaum muda kita perlu mengetahui siapa yang termasuk kaum muda dan apa batasan-batasannya, sehingga kita bisa memberikan pembinaan itu sejak usia dini.

Dari berbagai pendapat, yang dimaksud kan dengan kaum muda adalah orang yang berada pada rentan umur 11-25 tahun. Ada juga pendapat yang memberikan rentan waktu yang berbeda, antara umur 13-30 tahun. Biasa juga disebutkan bahwa remaja adalah orang / anak yang masih duduk antara bangku SMP sampai SMA / perguruan tinggi. Namun, definisi ini terkadang terkendala dengan kenyataan bahwa ada pernikahan usia dini, yaitu remaja yang telah menikah diusia muda mereka (antara 17-20 tahun) karena dilatar belakangi oleh alasan tertentu. Maka, untuk itu perlu ditambahkan juga bahwa rentan umur remaja adalah termasuk mereka yang belum menikah, yaitu rentan umur antara 13-30 tahun.

Dalam hal ini gereja juga membagi dua kelompok muda gereja, yaitu istilah remaja, yakni pengklasifikasi berdasarkan rentan umur anak yang masih duduk di bangku smp dan  dan sma dan Istilah Pemuda dapat diartikan bersadasarkan klasifikasi atas pengesahan gereja melalui pengakuan iman (lepas sidi) hingga rentan waktu pernikahan dilaksanakan.

Kaum muda dalam pandangan gereja merupakan harapan masa depan gereja, dimana kaum muda merupakan pewaris kepemimpinan dalam gereja. Namun, persolan-perosalan di dalam lingkup kaum muda sering kali membuat mereka lari dari realitas yang dihadapi. Terutama bila problematika yang dihadapi tersebut berkaitan dengan agama dan Iptek.

Banyak kaum muda mengeluh bahwa gereja terlalu banyak memberikan peraturan, dan tidak memberikan kebebasan memilih. Disamping itu banyak pula dari antara kaum muda yang telah melenceng dari jalan gereja akibat perubahan dunia (globalisasi).

Walaupun demikian, tidak sedikit dari kaum muda mau dan bersedia memberikan diri kepada gereja. Berkenaan dengan masalah intern yang dihadapi kaum muda sebagai anggota gereja, kematangan kepribadian adalah faktor utama dalam menetukan sikap bagi kaum muda.Kedewasaan dan kemempuan menentukan pilihan bagi kaum muda tergantung dari lingkungan tempat tinggal mereka (keluarga, masyarakat), juga lingkungan di mana mereka bergaul dengan teman-teman sejawat (organisasi gereja, kampus / sekolah). Di tempat-tempat itulah sebuah kepribadian terbentuk, karena sedikit banyak paradigma dan pemikiran kaum muda dipengaruhi oleh lingkungan mereka. Oleh sebab itu, faktor-faktor intern dan ekstern menjadi penentu bagi kaum muda dalam mengintegrasikan kehidupan pribadi, gereja dan masyarakat, demi masa depan mereka dan masa depan gereja, juga masyarakat tempat tinggal dan masyarakat universal.

Tantangan-tantangan yang sering kali muncul dan menyebabkan kaum muda terpengaruh untuk melakukannya, misalnya, tentang gaya hidup masyarakat modern yang mengarah pada westernisasi, yaitu gaya hidup yang serba bebas dan kurang memperhatikan norma-norma budaya Tumur (cara berpakaian, cara bergaul) yang semuanya dilatar belakangi oleh era globalisasi yang terus merebak keseluruuh penjuru.

[6]Selain itu, dalam hal ini, gereja masih belum mampu menjadi pionir-pionir dalam mengarahkan anggota jemaat terkhusus kaum muda dalam mengenali dan memahami akan pengaruh yang ditimbulkan dari pada era globalisasi tersebut. Terlebih lagi budaya instan yang ada sudah mulai mengakar dalam kaum muda dimana budaya tersebut secara tidak langsung mempengaruhi pola berpikir serta tindakan yang memunculkan adanya prilaku egosentris baik dilingkungannya maupun kelompok.

Tantangan terbesar bagi gereja dalam mengembangkan kehidupan pribadi anggota jemaat terkhususnya pribadi kaum muda adalah menciptakan kesadaran diri dan melakukan  pendampingan secara tepat sesuai dengan kebutuhan. Dimana kaum muda yang tidak memiliki kepribadian yang matang pastilah tidak akan memberikan sumbangan yang cukup bagi kemajuan gereja. Karena tanpa adanya kesadaran akan potensi dalam dirinya serta kurangnya kesadaran akan pertumbuhan gereja, kaum muda kristiani tidak berbeda dari pemuda biasa, yang hanya mementingkan dirinya sendiri.

Selain itu, pendampingan pastoral yang dilakukan oleh gereja terhadap kaum muda sangatlah penting untuk menjadi tantangan  bagi pertumbuhan kaum muda itu sendiri. Kelompok-kelompok kaum muda kristiani, yang dengan penuh kesadaran membentuk dan membangun komunitas atas dasar iman dan kepentingan untuk membangun gereja, tanpa pendampingan yang seimbang dan menyeluruh pada akhirnya hanya menjadi kumpulan kaum muda kristen, tanpa orientasi yang jelas.

 

  1. Pemuda sebagai tulang punggung Gereja

 

  • [7]Kekristenan pada masa kini menghadapi masa-masa sulit (seperti yang digambarkan dalam 2 Timotius 3:1-17), baik dari luar maupun dari dalam gereja, yaitu:
  1. Dari luar gereja: ide-ide yang tidak alkitabiah lebih banyak di mengerti orang daripada doktrin atau ajaran yang benar.
  2. Dari dalam gereja: musuh dalam selimut (ajaran sesat/sensasional dan gaya hidup yang tidak sesuai dengan ajaran Alkitab).
    • Tantangan lebih khusus juga dihadapi oleh kaum muda abad ke-21, yaitu:
  3. Masa pencarian jati diri: kehidupan yang masih labil dan mudah terprovokasi dari luar.
  4. Mempertanyakan masa depan: pekerjaan, karier, pasangan hidup, dll..
  5. Menaruh antusiasme yang tinggi terhadap teknologi: iPad, internet, BlackBerry, dan Smartphone.
  6. Menaruh perhatian pada ekspose kekerasan: film-film sadis, horor, dll..
  7. Mengalami situasi keluarga yang terpecah: tinggal jauh dari keluarga, keluarga yang bercerai, tetangga tidak saling kenal, dll..
  8. Menaruh perhatian pada eksploitasi seksual: film porno dan menyamakan seks dengan kasih.
  9. Menaruh perhatian pada hal-hal baru dan ajaib: tayangan sulap, film tentang sihir, buku tentang jalan-jalan ke surga, dll.

 

  • Menentang otoritas dari luar dirinya.

Jika kita melihat situasi abad ke-21 ini, tidak dapat diingkari bahwa anak muda perkotaan merupakan sasaran paling empuk dari segala bentuk pengajaran sesat pada masa kini. Padahal, masa depan gereja terletak di tangan kaum muda. Meskipun demikian, patut disyukuri bahwa survei Gallup baru-baru ini memperlihatkan bahwa hampir 60 — 80 persen kaum muda Kristen di Indonesia masih menaruh perhatian serius pada hal-hal spiritual dan kegiatan gereja meskipun dengan motivasi yang berbeda-beda. Pada abad ke-21 ini, Tuhan menginginkan ada restorasi terjadi dalam gereja. Memahami peran sentral kaum muda bagi masa depan gereja. Bagaimana sikap yang benar dari kaum muda Kristen menghadapi situasi dan perkembangan dunia masa kini?

  • Berpegang pada ajaran Alkitab (Mazmur 119:9; 2 Timotius 3:15-17).

Hidup manusia gereja terletak pada kepercayaan terhadap Alkitab sebagai firman Allah. Penolakan terhadap Alkitab merupakan awal penolakan dari keruntuhan kekristenan. Kaum muda harus terus belajar untuk memandang segala persoalan kehidupan dari perspektif Alkitab (soal masa depan, pacaran, menikah, karier, makna, dan tujuan hidup). Kehidupan yang berdasar pada Alkitab dan berorientasi pada kemuliaan Allah merupakan modal dasar yang penting bagi kebahagiaan masa muda dan kekuatan untuk menghadapi tantangan apa pun pada usia muda, bahkan hingga masa tua.

  • [8]Mengenal dan mempelajari doktrin atau ajaran dasar iman Kristen.

Dibutuhkan pengetahuan yang benar akan isi firman Allah. Keteguhan hati untuk berpegang pada firman Allah secara benar dan bertanggung jawab akan menghindarkan kita dari berbagai pengaruh ajaran sesat. Bahkan, ketika menghadapi kesulitan dan penderitaan, kita akan lebih tabah dan kuat jika hidup dalam kebenaran firman Allah. Karena itu, kaum muda harus takut dan bersemangat untuk mempelajari Alkitab, membaca buku-buku teologi, mengikuti pemahaman Alkitab dan pembinaan di gereja, aktif dalam kegiatan KTB (Kelompok Tumbuh Bersama), dan kegiatan-kegiatan lainnya.

  • Melibatkan diri secara aktif dalam pelayanan gereja.

Tidak dapat dipungkiri bahwa masa muda adalah masa suka berkumpul. Ikatan emosional dengan teman/sahabat jauh lebih kuat daripada dengan keluarga. Namun, perlu diperhatikan bahwa “pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik” (1 Korintus 15:33). Menghadapi situasi ini, pilihan terbaik adalah gereja sendiri. Melalui Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) dan kegiatan gereja lainnya, kaum muda dapat menyalurkan kreativitas dan bakatnya untuk mengembangkan potensi diri maupun sesamanya. Oleh sebab itu, gereja harus menaruh perhatian serius supaya kegiatan-kegiatan gereja berdampak secara efektif untuk pengembangan sumber daya kaum muda serta terus mendorong mereka untuk semakin mencintai gereja, serta menjadikan gereja sebagai “milik” mereka sehingga setiap generasi kaum muda merasa perlu untuk terlibat secara aktif memajukan gereja.

Sering kali, terjadi gap antara generasi tua dengan generasi muda di dalam gereja. Generasi tua “ngotot” untuk menerapkan cara lama yang sudah bertahun-tahun dipraktikkan, sedangkan generasi muda merumuskan dengan cara dan kegiatan baru karena beranggapan bahwa produk generasi tua sudah “ketinggalan zaman”. Dampaknya, sering kali konflik dan kesenjangan terjadi.

Untuk menghindari hal tersebut, generasi tua sebaiknya melakukan evaluasi terhadap kegiatan gereja (yang dianggap tidak efektif dan tidak relevan harus rela dibarui, yang masih relevan dipertahankan) agar tetap relevan dengan perkembangan zaman, tetapi tetap alkitabiah, serta meningkatkan komunikasi dan kebersamaan dengan generasi muda sehingga mata rantai regenerasi gereja tidak terputus. Berkaca dari gereja di Barat, generasi tua harus memikirkan pentingnya kaderisasi bagi kaum muda gereja sehingga tercipta kaum muda dan generasi penerus yang semakin berkualitas dan memuliakan nama Tuhan.

 

  1. Peran Gereja dalam pembentukan Karakter anak muda

Pembinaan dan pendampingan kaum muda sangatlah penting, mengingat bahwa kaum muda masih membutuhkan akan hal tersebut. Belum banyak kaum muda yang secara mandiri melibatkan diri dan membangun suatu tanggung jawab tertentu. Pembinaan dan pendampingan sifatnya membantu, artinya melalui pembinaan dan pendampingan yang berdaya guna diharapkan kaum muda mampu memiliki pribadi yang matang di tengah-tengah pengaruh Era Globalisasi.

Tanpa adanya pembinaan kecil yang dilakukan oleh gereja,  kemungkinan besar kaum muda sulit untuk menemukan jati diri mereka yang seungguhnya. Yang pada akhirnya akan menjadi landasan bagi dirinya untuk membangun masa depan gereja. Tujuan pembinaan kaum muda ialah untuk mengembangkan diri mereka agar berperan aktif, tanggap, bertanggung jawab serta mampu memahami kondisi saat yang ada saat ini.

Pembinaan kaum muda haruslah meliputi seluruh aspek kehidupan. Artinya, seluruh aspek kehidupan dalam diri kaum muda, haruslah didasarkan atas iman dan kematangan kepribadian sebagai suatu pribadi yang utuh dan bertumbuh.

Pembinaan ini merupakan suatu wadah bagi gereja sekaligus langkah awal bagi pelayanan yang dilakukan oleh gereja dalam mengarahkan kaum muda untuk terhindar dari pengaruh Era Globalisasi yang berlandaskan atas dasar Iman. Berlandaskan Iman, berarti menempatkan iman sebagai pusat dan dasar, serta sumber motivasi dan inspirasi dalam seluruh karya pelayanan pastoral terhadap kaum muda. Selain itu, dapat dipahami pelayanan ini juga menyangkut seluruh aspek kepribadian yang berarti menyentuh seluruh kematangan diri, yang meliputi aspek psikologis, intelektual danspiritual.

Sasaran yang akan dicapai melalui pembinaan kaum muda ialah meliputi terciptanya kepribadian yang kuat, beriman teguh dan tangguh, memiliki kepekaan dan kepedulian sosial, terhadap sesama dalam mengarahkan kaum muda lainnya terhadap perubahan pola pikir yang dilatarbelakangi akibat pengaruh Globalisasi.

Untuk itu, sangatlah perlu dipahami secara mendasar akan dampak dan akibat apabila pewaris gereja dalam hal ini kaum muda belum mampu diarahkan oleh gereja sesuai dengan komitmen yang ada dalam pandagan gereja.

Setelah melihat bagaimana pengaruh globalisasi dalam diri kaum muda, pada bagian ini berikutnya sangatlah perlu dipahami bagaimana peran gereja dalam membangun kaum muda dari segala realitas hidup yang mereka alami di tengah dunia modern.

Pemahaman dasar terhadap gereja sebagai lembaga penanaman iman terhadap umat manusia (kaum muda) haruslah di dipahami secara baik. Dimana dalam hal ini gereja berperan untuk mengarahkan manusia (kaum muda) dalam menghayati nilai-nilai iman akan ajaran Tuhan terlebih agar mereka mampu memahami efek globalisasi dengan baik. Dengan kata lain, peran gereja sangatlah dibutuhkan sebagai penghubung kepada Allah demi terciptanya sebuah persatuan melalui firman yang disampaikan kepada umat terkhusus bagi kaum muda agar mampu  menghadapi pengaruh era globalisasi yang semakin jelas terlihat.

Sebaliknya, jika pelayanan gereja bersikap acuh tak acuh terhadap kaum muda dalam mengarahkan mereka, maka kemungkinan kaum muda itu sendiri akan meninggalkan gereja dan mencari tempat yang sesuai dengan keinginan mereka.

Namun, perlu untuk disadari bahwa dalam mengupayakan usaha untuk menemukan identitas kaum muda, gereja tidak dapat melakukannya dengan sendiri. Gereja membutuhkan kerja sama dengan orang tua dalam mengarahkan kaum muda.

Dalam hal ini, gereja dan keluarga diposisikan sebagai pionir utama dalam membentengi kaum muda terhadap pengaruh globalisasi yang terus masuk tanpa kita sadari. Oleh karena itu, gereja, orang tua, serta kaum muda diharapkan mampu untuk membuka diri dan membentengi diri terhadap setiap perubahan yang akan datang.

 

Strategi / tindakan Gereja dalam membentengi Kaum Muda terhadap perkembangan jaman

*      Melalui pendampingan Pastoral yang dilakukan terhadap Kaum Muda

Dalam upaya mewujudkan pendampingan pastoral yang dilakukan terhadap kum muda dalam mengarahkan kaum muda dalam memahami globalisasi, pertama-tama haruslah  mengenal dan mengetahui latar belakang tujuan pendampingan pastoral yang dilakukan terhadap kaum muda.

Secara sederhana, salah satu tujuan pendampingan pastoral kaum muda ialah mencakup segala daya, budi, kehendak, perilaku dan seluruh hidup kaum muda. Melalui aktivitas pendampingan pastoral terhadap kaum muda, kita berusaha diarahkan untuk menjawab persoalan-persoalan yang dihadapi oleh kaum muda dalam menjawab tantangan globalisasi serta mengarahkan mereka kepada situasi yang dapat menjamin kehidupan kaum muda di tengah perkembangan jaman yang terus berkembang (globalisasi).

Oleh karena itu, dalam pendampingan terhadap kaum muda ada tiga hal yang perlu diperhatikan, antara lain: pertama “aktivitas pendampingan terhadap kaum muda bukan hanya sekadar menciptakan kaum muda yang mampu berinteraksi dengan orang lain, tetapi yang paling terpenting ialah, kaum muda mampu mengetahui serta sadar akan latar belakang pengetahuannya sendiri”.

Karena hanya dengan cara demikian, kaum muda akhirnya mampu secara signifikan memahami segala sesuatu yang berkaitan terhadap aktivitas globalisasi.

Kedua “pendampingan bukan hanya sekadar memuaskan keingintahuan, tetapi lebih pada pengembangan daya pikir, daya kreatif  kaum muda itu sendiri”.

Ketiga “pendampingan bukan hanya sekadar sebagai suatu media untuk membantu kaum muda dalam hal mengenal dan memahami, tetapi bagaimana kaum muda itu sendiri sebagai harapan Gereja dan masyarakat menjadi orang yang mamp berperan dalam mengarahkan kaum muda lainnya terhadap perkembagan globalisasi.

*      Melalui pendekatan Ekshortatif

Pendekatan ini merupakan suatu pendekatan yang mencoba mengarahkan kaum muda melalui cara-cara yang bersifat sederhana, misalnya para muda mudi dikumpulkan, kemudian diberi instruksi, pengarahan, serta nasihat melalui khotbah tentang hal-hal yang berhubungan dengan pengembangan diri, kebersamaan dan peran mereka dalam masyarakat.

Dimana pendekatan ini bertujuan agar kaum muda mampu lebih konsisten dalam memahami posisi kaum muda dalam era globalisasi. Namun, pendekatan ini tidak sepenuhnya berjalan dengan efektif dimana terkadang bentuk pendampingan yang dilakukan kerap kali tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh kaum muda itu sendiri. Secara sederhana, pendekatan Ekshortatif tidak begitu efektif untuk diterapkan terhadap kepada kaum muda.

*      Melalui pendekatan Ilmiah

Pendekatan ini berbicara atas dasar kajian ilmiah. Dimana segala jenis ilmu pengetahuan, informasi, teori serta hasil penelitian di bidang pengembangan diri, disampaikan kepada kaum muda. Tetapi, di satu pihak pendekatan ini memiliki keunggulan yang lebih baik dibandingkan dengan pendekatan sebelumnya. Yang mana melalui pendekatan ini, kaum muda lebih efektif dalam  menerima informasi secara jelas terkait pengaruh globalisasi.  Namun metode pendekatan ilmiah hanya dapat menghasilkan kaum muda yang “tahu” tetapi belum tentu “mampu” dalam mempraktekkan apa yang telah mereka terima.

*      Melalui pendekatan secara langsung

Metode pendekatan ini, tidak lagi berbicara tentang ruang lingkup persoalan teori. Melainkan terjun secara langsung di lapangan untuk mengalami realitas kehidupan yang sesungguhnya. Secara umum pendekatan ini terlihat cukup baik, tetapi dalam kenyataannya pendekatan ini mempunyai kelemahan karena melalui pendekatan ini, kaum muda tidak diberikan pengarahan, instruksi serta perefleksian dari apa yang mereka lihat di lapangan. Dimana pada akhirnya mereka hanya berada pada posisi / situasi tertentu.

*      Melalui pendekatan lewat kelompok kecil

Pada akhirnya, bentuk pendekatan yang paling baik dalam menemukan identitas kaum muda adalah pendekatan “lewat kelompok yang dibentuk secara khusus”. Melalui pendekatan seperti ini, kaum muda dibentuk menjadi satu kelompok yang di dalamnya terdapat pendampingan dalam melaksanakan berbagai kegiatan. Melalui kelompok ini, kaum muda dapat berinteraksi dengan orang lain, berbagi pengalaman dengan orang lain dan akhirnya melalui pertemuan itu mereka dapat menemukan identitas iman, tujuan, arah hidup serta mampu mengenali situasi dan kondisi yang ada pada saat ini.

 

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Peran kaum muda dalam hidup menggereja. Hidup menggereja adalah hidup dalam persekutuan iman, hidup dalam iman yang utuh, satu dan bersekutu.persekutuan iman ini melibatkan umat manusia pada umumnya yang bersatu dalam persekutuan gereja. Kaum muda yang menjadi tiang tengah gereja harus mampu mengemban misi gereja sebagai pewarta kabar gembira dan pembawa damai.

Dalam komunitas umat berjemaat, kaum muda harus mengambil silkap yang tepat, siap untuk melibatkan diri dalam berbagai kegiatan rohani, seperti menjadi anggota persekutuan pemuda kristen dalam jemaat, kaum muda yang berkompeten harus bisa menunjang, mengembangkan komunitas jemaat kau muda untuk lebih maju.

Dalam kehidupan sehari-hari kaum muda tak pernah lepas dari masalah. Permasalahan itu muncul akibat kecenderungan kaum muda dalm mengutamakan keinginan mereka. Kaum muda enggan dalam menjalankan kegiatannya sesuai norma dan hokum yang berlaku, akibat dari itu keputusan yang diambil tidak melalui pertimbangan yang matang.

Permasalahan ini hanya dapat teratasi atas dasar kesadaran pribadi kaum muda itu sendiri. Kesadaran itu muncul kalau mereka dididik, dibimbing, diarahkan tentang arti hidup dan kehidupan yang sesungguhnya dan gereja harus lebih perhatian dan serius dalam usaha untuk membimbing kaum muda gereja.

Kaum muda ini tengah mengalami transsisi yang menyeluruh di tengah-tengah masyarakat dunia.

Kaum muda yang berperan sebagai murid Yesus adalah kaum muda yang mampu mewartakan kerejaan Allah, mewartakan tentang kebenaran, mewartakan kedamaian, memberikan kekuatan kepada yang sedang mengeluh, memberikan pertolongan kepada yang sedang meminta, menjadi teladan di tengah-tengah gereja dan masyarakat dan harus dapat memberikan berbagai pelajaran yang berharga buat orang lain.

Kaum muda yang menjadi garam dan terang di tengah-tengah dunia harus mampu menjalankan amanat Yesus dan harus siap untuk bersaksi atas nama yesus, diri Yesus dan kehidupan Yesus serta segala perkataan yang keluar dari mulut Yesus.

  1. Saran

Agar usaha-usaha menciptakan generasi  muda yang terpimpin dan memiliki karakter yang baik, maka sebaiknya kesadaran pemuda itu harus terlebih dahulu tumbu, untuk itu sebelum melakukan tindakan atau strategi lainya untuk membangun karakter anak muda, di sarankan untuk berupaya meumbukan kesadaran terlebih dahulu dengan memotifasi untuk terus berjuang melakukan apa yang Allah inginkan.

 

 

[1]  C. Peter Wagner. Blogspot.co.id

[2]  Pdt O Lagarinda, Sejarah Gereja umum, (Tentena, Vibra Print), hlm 8.

[3] Google book, Pengarang: Ratna Megawangi (Yogyakarta 2004) hlm 27-30

[4]  Google book,Pendidikan Karakter Pengarang: Ratna Megawangi (Yogyakarta 2004) hlm 31-35

[5] Rst06.blogspot.co.id

[6] Paul Gunadi , Memahami kaum muda & pergaulanmya, penerbit visipress , hlm 57

[7] http://www.tanyaalkitab.com/2013/02/kaum-muda-masa-depan-gereja.html, Oleh : Y.J (4 Maret 2015) Nama situs Tanyaalkitab.com

[8] Y.J (4 Maret 2015) Nama situs Tanyaalkitab.com